Kaerumichi

Panji Pratama
Chapter #14

Bab 13 - De Javu

Semua hal yang Ismi ingat tentang Yuga adalah kesederhanaannya. Ingatan pertama tentang bocah itu tampak seperti salah satu episode acara Si Bolang, yakni seorang bocah kampung yang pakaiannya penuh bercak lumpur di sebuah persawahan yang baru akan memasuki masa tanam.

Bocah itu memaksa menerobos kumpulan warga yang sedang menonton kedatangan Ismi ke kampung itu. Yang Ismi ingat adalah bocah itu tanpa malu memasuki halaman rumah nenek seusai kerumunan warga bubar lalu mengintip lewat celah bilik rumah. Meski ketahuan oleh Ismi, yang dia ingat, ialah tatapan anak lugu itu saat melihat sosok Ismi serupa kucing yang sedang menginvestigasi calon buruannya, dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki dicermatinya dengan tenang. Yang paling Ismi ingat, bersama wajah cemongnya, Yuga tersenyum meng-heheh dari bawah jendela melawan muka ketus plus kesal Ismi yang hendak menegurnya dari dalam kamar.

“Hei.. siapa kamu. Najis, pergi sana!” Ismi ingat sekali kalimat pertama untuk Yuga, yang kelak disesalinya.

Tiba-tiba Yuga, dengan tangan penuh daki tanah kering, mengajukkan salam. Sontak sore itu Ismi kecil merasa manusia paling greregetan di dunia. Kejadian yang mirip seperti penggemar sinetron yang sedang menonton adegan penting di film kesayangannya, eh malah terganggu iklan sabun pencuci piring yang muncul begitu saja. Ismi merutuk kesal, menutup jendela dengan kasar, meloncat ke atas ranjang, lalu menangis menggerung sambil ditutupi bantal.

Mak Ebet sempat bertanya ada apa pada Ismi, lalu tersenyum ketika melihat-lihat ada bayangan tipis dari luar jendela. Mak Ebet tahu sosok itu siapa dan apa yang ingin dilakukan anak pungutnya itu. Senyum wanita tua itu bertambah lebar, hingga kerutan di sekitar pipinya menekuk, begitu lihat Yuga panik karena ketahuan. Dalam hitungan detik, derap langkah cepat terdengar dari luar rumah.

Mak Ebet dengan bijak masuk tanpa bicara dan menutup tirai. Diletakkannya air teh manis untuk cucu manjanya itu. Sebelum kembali pada mamahnya yang masih di ruang tengah, Mak Ebet berbicara singkat. Mungkin kata-kata neneknya itu tak akan pernah Ismi lupakan pula sampai sekarang.

Aih, cucu cantik nenek… sepertinya kamu akan sangat menyukai kampung ini.”

Ngiiiiung.

Mendadak, sebuah mobil polisi melintas cepat dengan sirine yang sepertinya cukup membuat bayi yang sedang menyuruk di dada ibunya menghentikan susuannya. Macam rombongan bison lewat, mobil-mobil yang dikawal mobil patroli bersirine tadi memepet pengguna jalan lain hingga hampir ke trotoar. Ismi tersentak lalu membanting stir ke kiri jalan. Ismi tercenung sejenak dan segera membuka air soda di dashboard mobil. Sepintas lalu Ismi melamunkan kalimat almarhum neneknya dulu, kini Ismi memikirkan dalam kata-kata itu. Akankah dirinya akan benar-benar kembali ke kampung itu jika telah bertemu Yuga? Tidak sebentar Ismi berpisah dengan Yuga, waktu yang cukup untuk mengikis kenangan-kenangan masa lalu.

Lihat selengkapnya