“Nanana… nanana… Anugerah terindah yang pernah kumiliki.” Ismi menggumamkan nada untuk mengiringi lagu yang diputar. Jemarinya mengetuk-ngetuk gelas berisi Red Valvet pesanannya.
“Silakan.” Ujar pramuniaga berbatik.
Ismi terkesiap dari lamunannya.
Pesanan Ismi baru datang. Paket lengkap Mie Rame. Salah satu menu favorit di café itu. Gambaran mie yang percis sama dengan bayangan 20 tahun lalu. Semacam lomie dengan kuah terpisah. Kuahnya sendiri berada di dalam panci kecil di atas tungku agar tetap panas. Kuahnya kental berwarna kuning kemerahan dengan gelembung minyak wijen dan daun bawang. Tampak sederhana tapi kuat rasa umami dari kaldu daging sapi asli. Sementara itu, di mangkuk lain terdapat potongan-potongan daging sapi berkuah hitam sebesar dadu dengan garnis brokoli dan biji wijen. Jika dilihat sekilas mirip teriyaki. Satu piring lain berisikan aneka sayuran dan jamur yang sudah direbus dan disusun rapi, seumpama menu sukiyaki.
“Mirip sukiyaki ya, Mbak?” Tanya Ismi sambil menyiapkan sumpit.
Gadis bertahi lalat di pipi kanannya itu, agak mendekat seperti merasa tidak mendengar apa yang Ismi bicarakan.
“Katanya sih begitu, Mbak. Mungkin, cara makannya yang berbeda. Kalau ini berbeda cara menyiapkannya. Lomie disiram kuah kental, lalu potongan daging sapi dan pilihan sayuran dijadikan toping. Mirip mie ayam sebenarnya tapi bukan mie ayam. Hehehe.” Ucap pelayan itu dengan penjelasan agak ragu-ragu.
Ismi tersenyum. Dalam hatinya, dia tahu seperti apa mie rame itu. Kalau dulu topingnya ayam dan jamur kancing.
Sruuuupuuut.
“Wah, enak. Manisnya tipis tapi gurih.”
Pelayan itu menunjuk sebuah foto pria memegang semangkuk mie rame dengan pose seperti seorang koki yang selesai memasak.
“Betul, Mbak. Katanya Pak Yuga sendiri yang membuat resepnya pertama kali.” Jelas Ratih. Nama itu terbaca dari papan nama di dadanya.
Penjelasan Ratih seperti mengingatkan kembali misi awal Ismi ke café itu.
“Oh iya, ngomong-ngomong kamu tahu Pak Yuga rumahnya di mana? Sebetulnya saya kenalan lama beliau.”
Ratih membuka mata agak lebar dengan bibir membentuk huruf O. Kemudian, dia meminta izin memanggil seniornya di café. Dia khawatir salah bicara jika berkenaan dengan alamat pemilik café itu.
Sebentar kemudian, pelayan yang lebih tua datang ditemani Ratih.
“Ini alamat rumah Pak Yuga. Saya agak kaget, gadis yang selama ini sering diceritakan Bapak pada para karyawannya itu ternyata datang ke café ini.” Ujar Pak Dede, pria yang mengaku orang kepercayaan Yuga untuk mengelola café tersebut.
Ismi pun merasa kaget. Selama ini, sosoknya masih diingat dan menjadi alasan utama Yuga berbisnis restoran.
“Kalau begitu saya pamit dulu Pak. Nanti saya ke sini lagi kapan-kapan. Semoga saya bisa menemui Yuga di rumahnya di Selabintana.” Pinta Ismi.
“Ya. Semoga berjodoh ya Mbak. Kami juga tidak tahu apakah Pak Yuga ada di rumah atau tidak. Terakhir beliau mengunjungi café ini sekitar dua minggu lalu.” Ratih mendahului seniornya. Ismi tersenyum melihat antusias gadis muda itu. Mengingatkan akan dirinya sewaktu kecil dulu.
***
Gunung Salak, 6 Mei 2000
“Belok kiri.., lihat itu pita merahnya.” Ismi berseru.
“Iya...!” Jawab Siti dan dua kawan yang lain dengan lemas.
Yuga juga ikut mengeluh lelah. Ternyata medan lintasan yang mereka lalui cukup berat. Pagi tadi, mereka berlima sepakat ikut kegiatan lomba lintas alam yang diadakan sekolah untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional sekaligus ajang perpisahan untuk geng siswa kelas VI.