Kaerumichi

Panji Pratama
Chapter #16

Bab 15 - Pelukan Terakhir

Ismi memarkir kendaraannya di sisi jalan ketika melihat plang sebuah toko mochi. Di sekitaran toko itu tampak pria-pria tegap berseragam kepolisian sedang berjalan berkelompok. Sepertinya, jalanan ini merupakan daerah Sekolah Calon Perwira (Secapa) Kepolisian yang sering dia dengar dari televisi. Dia turun kemudian masuk untuk membeli sekeranjang cemilan itu sebagai teman ngemil di perjalanan.

Ismi kecil belum pernah mendengar tentang kepopuleran Sukabumi sebagai Kota Mochi. Di Jepang, dia memang familiar dengan penganan ringan itu. Yang dia tahu, mochi itu merupakan kue khas Jepang yang terbuat dari beras ketan, ditumbuk sehingga lembut dan lengket, kemudian dibentuk menjadi bulat. Di Jepang, Ismi sering memakan kue ini pada saat perayaan tradisional mochitsuki atau perayaan tahun baru Jepang.

Barulah setelah Ismi pulang ke Jakarta beberapa tahun lalu, pamor ini dia ketahui. Beberapa pekerja di café almarhum ayahnya seringkali membawa kue mochi sebagai oleh-oleh seusai pulang kampung. Ismi pernah memuji rasa kue mochi asal Sukabumi. Seolah-olah, Ismi menemukan cita rasa suasana remaja di Jepang berpadu dengan suasana masa kecil di kampung Sukabumi. Sampai akhirnya, Ismi pernah meminta Mang Agus, membawanya ke Sukabumi langsung untuk mencari toko kue itu. Tidak disangka, setelah masa-masa tersulit dalam hidupnya, Ismi akhirnya keingian wisata kuliner itu terwujudkan juga.

Menurut para pekerja di café, mochi Sukabumi ini mempunyai dua asal-usul. Yang pertama, ada pekerja yang mengatakan bahwa kue mochi ini dibawa oleh tentara Jepang yang pernah menduduki Indonesia. Pada masa itu, ada orang-orang pribumi yang menjadi juru masak di barak-barak militer Jepang. Barak militer saat itu ada di Sekolah Calon Perwira (Secapa) yang di masa kolonial di kenal dengan nama politie school. Pada masa Jepang, sekolah itu digunakan menjadi pertahanan militer utama Jepang di Sukabumi. Sementara pelayan café lain menceritakan versi yang kedua, bahwa makanan itu sudah lama diwariskan secara turun-temurun oleh warga keturunan Tionghoa yang cukup banyak jumlahnya di Kota Sukabumi. Makanan ini sering disajikan dalam acara-acara pernikahan dan Tahun Baru Imlek.

“Oh, dari Jalan Bhayangkara ini nanti belok ke kiri dan terus naik ke jalan Selabintana ya?” Ismi menegaskan ulang perkataan kasir yang tadi dimintai penjelasan alamat olehnya.

Kasir itu mengangguk sambil menunjuk dengan jempol menandakan maksud kesopanan, “Nanti setelah mungkin limat menitan ada plang perumahan Cisarua Hills. Kalau tidak salah, alamat rumah ini termasuk ke dalam area perumahan tersebut. Nanti Mbak bisa tanya ke masyarakat sekitar.”

Ismi membalas keramahtamahan gadis itu dengan senyuman dan terima kasih, “semoga laris terus ya Mbak kue mochinya.”

Ismi tidak langsung menyalakan starter setelah duduk di jok mobilnya. Pikirannya terus meletup-letup. Dia menyadari bahwa masih banyak orang yang peduli dan perhatian. Sewaktu di Jepang atau Jakarta, suasana hangat seperti tadi jarang sekali Ismi temukan. Orang-orang sudah terlalu egois dan individualis sehingga terkadang melupakan kehangatan bertegur sapa.

 Ismi lalu mengikuti petunjuk jalan tadi. Ketika, jalanan sudah mulai menanjak, Ismi memperhatikan banyak sekali pohon-pohon pinus di kedua sisi jalan. Jendela mobil segera dibuka dan AC langsung dimatikan, benar saja udara begitu segar dirasanya. Ismi merasa, Yuga begitu romantis saat memilih daerah itu sebagai tempat tinggal.

Kata pegawai di toko mochi tadi, Selabintana seringkali digunakan oleh pecinta alam sebagai salah satu jalur pendakian Gunung Gede dari 3 jalur resmi yang disediakan. Gerbang masuk Gunung Gede via Pondok Halimun, Salabintana, memang tidak seramai gerbang Cibodas, Cianjur. Namun demikian, Ismi merasa justru jauh dari keramaian adalah suasana paling dirindukannya saat ini.

Sebuah gerbang besar bertuliskan Cisarua Hills akhirnya ditemukan. Ismi berbelok dan masuk ke dalam jalur tersebut. Setelah beberapa puluh meter, terdapat hamparan rumput hijau dan pepohonan pinus yang rindang. Dalam kurang dari dua menit kemudian, mobil Ismi kemudian masuk ke dalam area perumahan.

“Mohon maaf, apa bapak-bapak tahu rumah ini?” Ismi menyapa lembut beberapa pria yang sedang bergumul di sebuah warung.

“Oh, rumah besar itu. Ada Bu, di paling belakang blok D.” jawab seorang di antaranya yang hanya mengenakan kaus dalam.

Ismi berterima kasih dan meminta izin melanjutkan perjalanan. Ismi cukup terkekeh ketika dipanggil dengan sapaan “Bu” tadi.

Tidak seberapa lama kemudian, terlihat sebuah rumah yang cukup mencolok. Arsitektur rumah itu berbeda dari rumah-rumah tipe asal di sekitarnya. Dengan pagar kayu yang dipenuhi tumbuhan rambat, seolah mengesankan sang pemilik yang menyukai kesejukan. Sementara itu, bentuk rumahnya dibuat seperti perpaduan Sunda-Jepang. Dengan pilar merah dan dinding berlapis kayu seolah rumah adat tempo dulu.

Roda berhenti dengan mulus. Pintu dibuka dan Ismi melepaskan kaca mata hitamnya. Sambil membawa keranjang kue mochi yang tadi dibelinya, Ismi melihat-lihat kondisi rumah itu dari luar.

“Assalamualaikum,” Ismi menyapa saat melihat seorang pria paruh baya menyapu dedaunan di halaman rumah itu.

“Waalaikumsalam,” Jawab pria itu dengan langsung berlari kecil untuk membuka pagar depan, “Siapa ya Neng?”

“Nama saya Ismi, apakah benar ini rumah Pak Yuga?”

“Betul Neng. Cuma Bapak belum pulang. Sudah dua minggu ini Bapak tinggal di rumahnya yang di Jakarta. Katanya sih sedang berobat. Eh, apa mau dioperasi ya, lupa saya. Memang Bapak sedang sakit dan di sini tidak ada yang merawat jadi Bapak pulang ke rumah di Jakarta.”

Lihat selengkapnya