Teeeewooot. Ckiiiit.
Klakson ditekan panjang diikuti injakkan rem yang mendadak.
Seorang pria yang kaget berpeluh-peluh membuka kaca jendela lalu mendongak kasar, “Keparat kau. Bisa nyetir gak sih!”
Ismi melihat sejenak dari spion kanan mobilnya. Jantungnya berdebar kencang seperti gempa 8,0 skala ritcher. Setelah terkejut dengan adegan saling banting setir tadi, Ismi memutuskan kembali menginjak pedal gas.
Pikirannya menjadi kacau. Perasaan mual mendadak mengerjap-ngerjap di ujung kelopak matanya. Setelah mendengar Yuga sedang sakit parah dari pembantu di rumahnya, jiwa Ismi terguncang hebat.
Padahal beberapa hari ini semangat hidupnya sudah mulai terpercik, tetapi begitu mendengar kesulitan Yuga, tujuan pencarian hidupnya kembali kendur.
Duuuuk.
Bemper belakang mobil perempuan yang putus asa itu ditabrak mobil di belakangnya. Antrean menuju loket gerbang tol Ciawi seperti adegan menunggu siput bergerak. Kejadian mobilnya ditabrak dari belakang pun tidak serta merta membuat Ismi terlecut adrenalinnya. Perempuan itu telah benar-benar kehilangan dian di hatinya.
Pukul 00.35 pagi, Ismi baru bisa mengandangkan mobilnya. Tubuhnya serasa remuk redam. Jiwanya terombang ambing. Bahkan, tidak ada air mata yang bisa ia peras karena bingung dengan kondisi hatinya.
Ismi duduk sejenak di kasurnya dengan tatapan kosong. Baju dan sepatunya tidak ia lepas. Entah bayangan apa yang kini dipikirkannya. Ia hempaskan tubuhnya sehempas-hempasnya. Jiwanya melayang sekejap hampir terlepas dari raganya. Baru setelah kepala itu menghujam bantal, bola matanya meleleh menjadi butiran-butiran sesak.
***
“Non, makan dulu. Dari pagi belum sarapan.” Bi Esih, asisten rumah tangga yang loyal bekerja pada keluarga Ismi berulang-ulang mengetuk kamar Ismi.
Tidak ada suara sepersatu desibel pun dari dalam kamar. Bi Esih sudah angkat tangan. Ia kembali ke lantai bawah untuk menyimpan sarapan yang ia bawa ke meja makan.
Mang Agus datang seperempat jam kemudian. Dia menanyakan kabar bos mudanya pada Bi Esih. Wanita berbadan gempal itu hanya mengangkat kedua bahunya dengan wajah iba.
Mang Agus kembali ke garasi, dia mulai memperbaiki plat nomor mobil di bemper belakang yang bautnya hilang satu. Kondisi bemper yang ambyar sepertinya serupa hati Ismi sekarang.
“Mang, ayuk antar saya ke restoran sekarang. Dan tolong panggil beberapa manajer cabang. Oya, Nanang juga. Tolong manajer yang di luar kota beritahu saja, lalu suruh video call dengan saya nanti sore.”
Tiba-tiba, sosok Ismi yang sudah rapi mengagetkan Mang Agus yang sedang berjongkok di belakang mobil.
“Tidak sarapan dulu, Non?”
“Biar saja. Saya kurang selera.”
Mang Agus menelan ludah seolah merasakan kelunglaian majikannya itu.
***
“Maka, seperti telah saya utarakan di awal. Konsep dan manajemen restoran ini saya ingin ubah. Mungkin, Bapak dan Ibu sudah mendengar desas-desus mengenai kabar anak Mang Agus yang akan membantu saya. Untuk itu saya tegaskan bahwa kabar itu benar adanya. Pak Nanang, bersedia menggantikan saya sebagai manajer utama restoran. Meskipun demikian, fokus beliau masih tetap sebagai dosen di almamaternya.”
Penjelasan Ismi cukup mengagetkan beberapa manajer cabang. Meski demikian, sebagian dari mereka yakin puteri Sawajiri ini, kini telah berubah.
“Bukan menggantikan, maaf. Hanya membantu. Saya menghargai beliau, seperti ayah saya menghormati beliau.” Jawab Nanang yang langsung meminta izin bicara.