Sawajiri House Coffee and Kitchen terletak di sudut barat laut Senayan City. Pada masanya, tempat itu menjadi salah satu pusat nongkrong anak muda Jakarta Selatan. Restoran ini dibangun Sawajiri Tanaka di sebuah bangunan abad ke-20 berlantai dua. Pria Jepang itu mendapatkan tanah dan bangunan itu dari seorang seniornya selama menjadi chef di salah satu hotel di Jakarta. Bangunan ini, dipercantik dengan galeri kayu di lantai dua, sebagian besar koleksinya didatangkan langsung dari Jepara pada tahun 1980-an. Konon, sebelum bangunan itu dibuat café dan restoran, bangunan itu digunakan sebagai rumah perwira Tentara Jepang sejak tahun 1940-an. Arcade asli di bawah galeri tertutup oleh panel kaca yang dibuat sengaja agar pengunjung seperti memasuki sebuah gang misteri. Sebuah bar, panggung pertunjukan, dan area lounge terletak di lantai dasar. Tangga kayu jati Jawa mengarah ke lantai atas.
Lantai atas menampilkan 'Grand Salon', ruang makan utama yang mampu menampung 150 tamu. Grand Salon, yang merupakan bagian galeri bangunan, dibangun dari kayu dan menampilkan jendela-jendela besar yang tertutup, memberikan cahaya berlimpah ke interior serta pemandangan kolam ikan dan taman bunga di sekitarnya.
Awalnya, interior Sawajiri House Coffee and Kitchen dilengkapi dengan tema tahun 1940-an. Foto-foto kondisi Jepang pascakekalahan di Perang Dunia II pernah menghiasi ruang makan utama. Namun, sejak ada usulan agar mempertimbangkan untuk diberi nuansa modern dari pelanggan, interior berubah menjadi lebih retro dengan banyak foto-foto band terkenal dunia era tahun 1970-an. Maka dari itu, era emas café ini adalah tahun-tahun 1980-1990. Bahkan kabarnya, café ini pernah disebut sebagai "Café Terbaik Dunia" oleh Newsweek International pada tahun 1986.
Sejak saat itulah, Sawajiri House Coffee and Kitchen membuat banyak cabang di beberapa kota besar seperti Bali, Surabaya, dan Bandung. Lebih banyak cabang, dibangun pada pertengahan 1990-an. Sayangnya, persaingan yang semakin ketat dengan banyaknya waralaba makanan cepat saji, cukup berpengaruh pada bisnis keluarga Sawajiri. Puncaknya, krisis moneter tahun 1997 membuat sebagian cabang Sawajiri House Coffee and Kitchen harus tutup karena tidak mampu beroperasi.
Sawajiri House Coffee and Kitchen baru bisa bergeliat kembali setelah enam tahun pascakematian suaminya, Sulis menjalankan berbagai kebijakan dan manajemen baru. Mantan pelayan dan murid almarhum Sawajiri itu, bahkan berhasil membuat berbagai konsep unik seperti penyediaan menu baru perpaduan Jepang-Sunda. Jadilah, Sawajiri House Coffee and Kitchen perlahan kembali dikenal sebagai restoran terbaik dan mempunyai banyak cabang.
Namun, sejak kematian sang ibu empat tahun lalu, kondisi Sawajiri House Coffee and Kitchen lambat laun kembali goyah. Ketidakpercayaan rekan bisnis yang menanamkan investasinya di Sawajiri House Coffee and Kitchen disebut menjadi alasannya. Sawajiri Itsumi, masih belum bisa dipercaya untuk mengemban keberlangsungan restoran milik kedua orang tuanya.
“Mohon maaf, kami bermaksud mengajukan pengunduran diri.” Kata-kata itu keluar dari sebagian besar manajemen cabang yang merasa kecewa ketika satu tahun usia Sawajiri House Coffee and Kitchen dipegang oleh Ismi.
“Kudengar kamu menyerahkan pengelolaan bisnis jaringan restoran pada anak Mang Agus?” Ujar Roger yang membuat Ismi mengingat kembali kejadian pengunduran diri karyawannya dua tahun lalu.
“Tumben kamu peduli?”
Jawab ketus Ismi cukup menohon Roger. Pria itu terdiam, tetapi segera tersenyum.
“Mbak, menu!” Panggil Roger, mengalihkan obrolan ke sebuah menu.
Gadis yang dipanggil segera berlari kecil. Gadis itu cukup gugup melihat sang pemilik restoran yang memanggil.
“Excuse me, Sir. May I help you.”
Roger mengambil menu dari kedua tangan pramuniaga itu. Lalu mengatakan akan memanggilnya kembali setelah memutuskan pilihan.
“Lihat, usaha dua tahunmu sangat luar biasa sepertinya. Menu-menu baru usulanmu ini dinobatkan menjadi menu terbaik di sini.”
Roger terus saja mengoceh dan berupaya menggoda Ismi. Perempuan itu mencuri-curi lihat apa yang ditunjuk lelaki di depannya.
Roger menutup menu dan kembali memanggil gadis pramuniaga.
“Give me you’re best food here. I’m hungry.” Roger memohon ramah.
Ssetelah gadis pramuniaga itu pergi, Ismi menyentil dengan cepat.
“Kau juga mau menggoda gadis itu? Please, Roger.”
Roger terpaku, lalu menjawab setelah memikirkannya dua detik kemudian.
“Honey, aku cuma berusaha baik. Kenapa kau selalu salah menilaiku,” Roger mengeluarkan kembali cincin berlian di tangannya, “Oke enough, maafkan aku. Sungguh, aku masih sangat mencintaimu. Aku ingin memulainya kembali denganmu. Kali ini lebih serius. Dan aku ingin melamarmu saat ini juga.”
Hening sejenak.