Sejak Roger mencampakkannya tahun lalu, Ismi tidak mau lagi tinggal di rumah warisan keluarganya di Jakarta Selatan. Apalagi rumah itu seringkali menyesakkan; mengingatkan pada kedua sosok orangtuanya. Maka, gadis itu memilih menepi dari keramaian ibu kota dan menyewa sebuah apartemen di ujung Utara kota Jakarta. Alasannya sederhana, Ismi berharap nuansa pemandangan laut menghapus nyeri luka-lukanya. Seumpama sapuan air laut pada tulisan di atas pasir, deskripsi itulah yang diharapkan Ismi.
Namun, sore itu Ismi benar-benar kembali. Bersama meja kaca yang pecah dan surat-surat usang yang berserakan, Ismi kembali mengenang suasana rumah yang telah menjadi saksi di mana dia dibesarkan. Rumah itu, rumah yang berkali-kali ditinggalkannya karena deraan cobaan hidup: ayah yang meninggal, ibu yang meninggal, masa muda yang kelam karena terjerumus kehidupan malam, dan sakit hati yang berkepanjangan.
“Aku pulang!” teriak Ismi sekencangnya diikuti letupan tangis yang keras.
Tangan Ismi memegang surat-surat usang dari Yuga. Lebih dari puluhan lembar surat telah dikirimnya selama ini. Semenjak dua bulan setelah Ismi lulus SD, Yuga sudah rutin menulis surat yang dialamatkan pada rumah itu. Hampir tiap bulan Yuga bercerita kesepiannya setelah ditinggalkan cinta pertamanya. Ya, Ismi adalah cinta pertamanya.
“Mamang, memberitahu alamat rumah ini pada Mak Ebet. Ternyata, anak lelaki itu cerdas. Dia cari tahu semuanya tentang Non. Setiap Yuga kirim surat dan sampai ke kotak surat rumah ini, Ibu Sulis-lah yang pertama kali membacanya. Ibunda Non, entah kenapa seringkali menampakkan wajah sendu. Beliau tidak marah atau kesal, beliau hanya sedih. Mamang tahu itu dari wajahnya. Sepertinya Yuga ini mengingatkan Bu Sulis pada almarhum ayahanda Non.”
Mang Agus menceritakan masa lalu yang dikenang rumah itu. Air hangat menggumul di kedua ujung matanya.
Hening.
Ismi yang tadi menelungkup sayu, perlahan berdiri. Langkahnya gontai. Ia sapu pandangannya ke seluruh ruangan rumah itu. Bayangan masa lalu meletup-letup di ingatannya. Ayah yang berlari menuruni tangga untuk menolong gadis kecilnya saat belajar berjalan, kemudian ibu yang menyuapi gadis semata wayangnya yang berlari-lari antara ruang makan dan ruang tamu.
“Sepertinya, aku akan menerima pinangan Roger.”
Ucapan Ismi mengagetkan Mang Agus. Pria tua yang mengabdi pada keluarga itu selama lebih dari separuh hidupnya bingung harus menanggapi apa.
“Apa tidak dipikirkan lagi, Non?”
“Ya. Aku dengar sendiri dari Roger bahwa Yuga selama ini berada dekat denganku. Yuga-lah yang menginginkan pernikahan itu. Yuga ingin Roger yang melindungiku.”
Mang Agus menghela nafas, “Anak itu memang begitu. Dia melindungimu dengan cara yang sama sejak dia bertemu pertama kali dengan Non.”
“Di mana sebenarnya kamu, Yuga. Kenapa kau lakukan ini padaku?” Ismi bermonolog dengan lirih.
Mang Agus berdiri. Berjalan pelan mendekati Ismi yang terpuruk di dekat titian tangga.
“Seharusnya Mamang[1] tidak boleh melakukan ini. Tapi, Mamang tidak tega terus melihat Non terjebak dalam kesedihan.”
Mang Agus merogoh saku celananya. Dia serahkan selembar kertas kecil. Kertas yang dilipat-lipat itu, bertuliskan alamat seseorang.
“???” Ismi mendongak heran.
“Mamang sudah tahu tentang keberadaannya sejak tiga tahun lalu. Dia datang ketika Ibu meninggal.”