“Bagaimana?” Tanya perempuan bergaun putih.
Perempuan itu keluar dari ruang make-up. Dua perias tersenyum centil di belakangnya.
Roger menelan ludah. Dia tak mampu berucap apa-apa sekarang. Perempuan itu berbeda sekali. Benar-benar seperti dewi.
Padahal parasnya hanya mengandalkan makeup natural. Namun, keanggunan itu semakin terpancar saat gaun model ball gown itu merekah di bagian bawah kaki Ismi. Gaun rekomendasi desainer Singapura rekanan Roger itu, berhasil memukau semua mata orang-orang di salon bridal. Apalagi saat Ismi sengaja memutar lekuk tubuhnya, Roger benar-benar terpana. Gaun itu sengaja dibuat bertingkat dan pada bagian dalamnya dibuat dari kain satin atau kain organza, juga dilapisi dengan kain brokat dengan pola yang entah kenapa sangat disukai Ismi.
“Kamu cantik.” Roger hanya bisa menjawab dua kata itu saja.
“Benarkah gaun ini dipesan khusus selama lima hari pengerjaan? Kau membual, Roger.” Ismi sedikit membalas pujian Roger dengan posesif.
Roger mengangguk.
Siang itu, Ismi seperti menjadi seorang ratu. Padahal kemarin, dia masih menyesalkan ucapannya saat di rumah Roger minggu lalu. Bahkan, Ismi masih berharap sosok Yuga tiba-tiba datang membuka pintu dan menculiknya untuk menghentikan upacara pernikahan seperti dalam film.
Hanya saja, Ismi hari ini benar-benar berubah pikiran. Kedua orang tua Roger telah datang dari Singapura kemarin malam. Mereka berbincang serius hingga pagi; Ismi, Roger, dan kedua orang tuanya. Hasilnya, Ismi menarik ucapannya soal menikah cepat-cepat. Kedua orang tua Roger sangat setuju. Pernikahan itu akan dilaksanakan dalam tiga bulan ke depan. Roger berharap tenggat waktu itu dapat membuat dirinya dan Ismi semakin dewasa.
“Aku menyesal atas sikapku selama ini. Aku ingin dalam tiga bulan ini hubungan kita benar-benar selayaknya orang yang akan menikah karena cinta.” Roger mengulang ucapannya semalam, di mobil pagi ini.
“Semoga.” Ada sedikit rasa ragu dalam hati Ismi. Namun, sepertinya keraguan itu menjadi wajar untuk semua kejadian yang menguatkannya, akhir-akhir ini.
Kejadian-kejadian yang terasa cepat bagai mimpi.
***
Seminggu lalu,
Dua jam sebelum Ismi ke rumah Roger
Beranjak dewasa kakakku Rani tercinta
Sudah saatnya belajar berpijar
Tinggalkan jakarta demi masa depan cipta
Sudah waktunya kau mulai terjaga ho ho ho ho
Beranjak melentik, kakakku Rani yang cantik
Jadikan masa depanmu menari ho ho
Ingat selalu pesan kedua orang tuamu
Jalani dengan hatimu yang tulus