Pagi merayap naik, Sulis sedang menyapu kecil di teras depan. Sebelah tangan lainnya, memulas-mulas perut sedari tadi. Secangkir teh chamomile disuguhkan oleh Bi Een beberapa detik kemudian. Asisten rumah tangga itu memohon kepada Sulis agar tidak bekerja sebagai asisten rumah tangga karena khawatir terlalu lelah, tetapi Sulis balik memohon untuk sekadar mengusir sebal mengidamnya.
“Assalamualaikum,” lamat-lamat terdengar suara perempuan dari luar gerbang pagar disusuli suara anak kecil yang menirukan salam. Karena tidak terlihat siapa yang bertamu, Bi Een memohon izin untuk membukakan pagar. Sementara, Sulis duduk di kursi rotan sambil menyesap teh yang tadi dibuatkan pembantunya.
“Asmi?” teriak Sulis. Ibu muda itu berdiri lalu hendak berlari menyambut. Namun, sepertinya perempuan yang dipanggil menahan dan segera berlari kecil untuk mendekat.
Bruuuk.
Perempuan bernama Asmi itu menggabrukkan kedua tangannya di kedua kaki Sulis yang sedang berdiri. Seperempat detik kemudian, perempuan itu menangis segukan seolah merasa hina di hadapan temannya.
“Ada apa ini? Ayok bangun. Kamu kenapa?” Sulis memapah Asmi untuk duduk di kursi rotan. Spontan, Bi Een ingin membantu. Namun, Sulis menyuruh Bi Een untuk menjaga anak kecil yang dibawa Asmi. Sepertinya bocah malang itu terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Gemericik air kolam ikan di samping rumah nyaris terdengar. Suasana haru dua sahabat dekat yang sudah lama tidak saling bertemu hanya diisi oleh keheningan. Keduanya duduk berhadapan di ruang tamu. Sementara Bi Een mengajak bermain anak kecil yang dibawa tamunya di lantai atas.
“Aku ingin menyerahkan anak itu padamu!”
Sulis nirkata.
“Namanya Yuga. Bulan ini, dia sudah masuk usia tiga tahun,” Asmi kembali memohon di kedua kaki sahabatnya itu, “tolong kau rawat dia. Bagaimanapun, dia adalah anak dari sahabatmu.”
Pipi Sulis banjir oleh tangis yang ditahan. Kepalanya berat untuk dianggukkan.
“Ayahnya, Shinjiru Tanaka, tidak pernah menunaikan janjinya untuk menikahiku. Namun, aku sadar hal itu memang tidak mungkin. Tidak mungkin dia mau meninggalkan perempuan sehebat dirimu. Aku tahu alasan mandul itu dibuat-buat olehnya. Aku sadar akulah yang paling salah dalam hubungan kalian. Akulah yang mengkhianati persahabatan kita.”
Sulis benar-benar tidak bisa berkata-kata. Dia hanya mematung saat Asmi menggoyangkan tubuhnya untuk memohon belas kasihnya.