Kail dan Jala

Rain Dandelion
Chapter #1

Prolog

Maasih tersimpan jelas dalam ingatan Kail, sosok bapak-bapak penjual bubur ayam depan komplek perumahannya yang selalu menjadi langganan dirinya setiap pagi.

Setiap hari, pagi-pagi sekali beliau telah menyiapkan gerobak dagangannya. Tersenyum ramah menyapa pejalan kaki, anak-anak sekolah, dan para pekerja kantoran yang hendak berangkat mencari secuil kemurahan yang diberikan semesta.

Kadang ia berpikir, kenapa bapak renta itu harus repot menyapa semua orang yang kadang tidak pernah membeli dagangannya.

Dan ketika memikirkannya, ia akan tersadar kalau setiap orang berhak untuk dihargai kehadirannya. Tak peduli siapa orangnya, bagaimana perilakunya, bagaimana masa lalunya, karena yang berhak menilai baik buruknya seseorang hanyalah Allah yang Maha Agung.

Sekarang, empat tahun telah berlalu sejak terakhir kali ia mendatangi warung bubur ayam tersebut. Ternyata semuanya masih sama seperti dulu. Senyum bapak pedagang, sejuknya udara di sekeliling, bahkan gerobak dagangan pun semuanya masih sama. Hanya wajah bapaknya yang terlihat semakin banyak keriput.

"Pagi Pak Kirno!" sapa Kail ramah membuat pria paruh baya berusia sekitar 50an itu menghentikan sejenak kegiatannya membersihkan cipratan bubur.

Pak Kirno mengernyit beberapa saat dan terenyak ketika menyadari siapa yang ada di hadapannya.

"Kaily?! Ya Allah, sudah lama sekali nggak keliatan, apa kabar kamu, Nak? Sehat?"

"Hehe alhamdulillah sehat terus, Pak. Waktu itu pindah ke luar kota sekarang balik lagi deh. Lama nggak liat Bapak kok makin ganteng aja nih." Kail tersenyum lebar, selalu melontarkan candaan yang membuat penjual bubur itu tertawa renyah.

"Bisa aja kamu ini, mau pesen berapa nih? Seperti biasa, kan?"

"Wah! Pak Kirno masih ingat menu andalan saya?"

"Masih dong! tanpa seledri, tanpa kacang, sambel dikit, kuah banyak! Bener nggak nih?"

Lihat selengkapnya