KAISAR IMMORTAL menjadi orang Biasa

Recyclebin_13
Chapter #2

Bab 2

Angin laut yang asin berhembus pelan melewati padang hijau luas.

Aku berjalan sendirian menelusuri jalan tanah yang membentang di antara hutan dan perbukitan. Langkahku tidak tergesa-gesa, tidak juga lambat—hanya mengikuti ritme yang terasa paling alami di dunia ini.

Sudah tiga hari sejak aku tiba.

Tiga hari yang… anehnya terasa singkat.

Selama waktu itu, saya tidak melakukan sesuatu yang besar. Aku hanya mengamati.

Burung-burung kecil yang saling berebut mengoceh.

Pemburu desa yang memasang jebakan sederhana di hutan.

Petani yang membungkuk di ladang sejak matahari pertama muncul.

Bahkan pertengkaran kecil di desa—suami istri yang berebut hal sepele—aku sempat mendengarkan pertengkaran.

Hal-hal kecil seperti itu.

Hal yang dulu bahkan tidak masuk dalam pandanganku.

Namun sekarang, semuanya terasa… hidup.

Bagi saya yang pernah berdiri di atas ribuan alam, menyaksikan kelahiran dan kehancuran dunia seperti hembusan napas—

hal-hal kecil ini justru terasa asing sekaligus menarik.

Tak terasa, hari kedua aku di dunia ini mulai bergeser menuju malam.

Saat itu aku sedang duduk di tepi sungai, membakar ikan hasil buruanku sendiri.

Api kecil berderak pelan.

Asap tipis naik ke udara malam.

Ikan di mulai berubah warna, aroma hangus ringan bercampur dengan bau sungai yang lembap.

Sederhana.

Tidak istimewa.

Tapi cukup.

Tidak jauh dari tempatku, aku mendengar suara roda kereta.

“Aku lapar…” suara seorang pemuda terdengar dari kejauhan.

Diikuti suara orang yang lebih tua.

“Tuan muda, kita akan sampai besok sore menjelang malam di gerbang Kota Shanghaian.”

Kota Shanghaian.

Saya sudah pernah mendengar nama itu dari percakapan para pedagang di desa sebelumnya.

Kota pesisir dari Kerajaan Ererci.

Stabil. Teratur. Tidak terlalu kacau seperti wilayah pembohong.

“Aku sudah lapar,” suara pemuda itu terdengar lagi, sedikit merengek.

Lalu suara lain menjawab dengan tenang.

“Baiklah, kita akan berhenti di sini untuk berkemah.”

Aku tidak terlalu peduli.

Aku hanya terus mengemukakan ikan yang dikejutkan.

Namun tak lama kemudian, langkah kaki mulai terdengar mendekat.

Bukan acak.

Teratur.

Tiga arah patroli.

Aku bisa merasakannya bahkan tanpa menoleh.

Salah satu dari mereka berhenti cukup lama di dekat pepohonan.

Mengamati.

Mereka cukup hati-hati.

Bagus.

Tapi tidak cukup untuk menjadi ancaman.

Aku tetap duduk di tempatku.

Tidak bergerak.

Tidak menyembunyikan diri.

Tidak juga menunjukkan diri secara berlebihan.

Seseorang akhirnya muncul dari balik semak.

Seorang pria.

Gerakannya tenang, tapi matanya tajam.

Dia langsung memperhatikan api kecil di depanku.

Lalu aku.

Saya bisa merasakan niatnya berubah dari waspada menjadi netral.

Tidak ada niat membunuh.

Tidak ada niat mencuri.

Hanya memastikan.

Lihat selengkapnya