KAISAR IMMORTAL menjadi orang Biasa

Recyclebin_13
Chapter #10

Bab 10

Fajar saja baru menyingsing di lanskap Pulau Awan Timur.

Kabut tipis yang membawa aroma garam laut masih menggagalkan garis pantai selatan, menciptakan tirai putih yang perlahan memudar seiring naiknya matahari.

Namun, tidak seperti minggu-minggu sebelumnya di mana pulau ini hanya dihuni oleh kesunyian yang mati, pagi ini Pulau Awan Timur telah berdenyut dengan ritme kehidupan yang padat.

Tiga ratus jiwa yang baru saja tiba dalam semalam—terdiri dari keluarga budak, pemuda pekerja, dan pasukan pengawal sewaan—mulai bergerak dari pertemuan tenda darurat mereka di dekat pantai pesisir.

Asap abu-abu tipis mulai membubung dari area dapur umum, membawa aroma harum bubur gandum hangat yang dimasak dalam kuali-kuali besi raksasa.

Suara langkah kaki, dialog ringan, dan dentang peralatan masak mulai memecah keheningan pulau fana tersebut.

Di bagian tengah pulau, berdiri kompleks bangunan lama milik Keluarga Han.

Beberapa bangunan utama di sana—seperti aula pertemuan berlantai dua, rumah kediaman inti, dan tiga gudang besar bertembok batu—sebenarnya masih berdiri dengan sangat kokoh.

Struktur batunya tebal, pilar-pilar kayunya menggunakan kayu besi pilihan yang belum lapuk, dan atapnya hanya mengalami kerusakan minor akibat terbengkalai.

Jika dinilai dengan koin emas, kompleks bangunan ini masih memiliki nilai yang sangat tinggi.

Huang De, kepala pengawas dari Guild Konstruksi Langit Timur, berjalan di samping Lin Yi sambil membawa gulungan perkamen berisi peta tata ruang kuno.

Ia memandangi bangunan batu itu, lalu mengamati Lin Yi dengan ragu-ragu.

"Tuan Lin,"

Huang De berdehem pelan, mencoba menyuarakan pendapat profesionalnya dengan sangat hati-hati.

"Saya telah memeriksa struktur kompleks bangunan lama Keluarga Han ini bersama para ahli tukang batu semalam. Secara keseluruhan, bangunan-bangunan ini masih sangat kokoh dan layak pakai. Jika kita mempertahankannya, kita bisa menghemat setidaknya tiga puluh persen anggaran material dan memotong waktu pengerjaan proyek hingga beberapa minggu. Kita hanya perlu membersihkan dan merenovasi bagian dalamnya."

Lin Yi berdiri dengan kedua tangan bersedekah di belakang punggungnya.

Sebatang rumput liar terselip santai di sudut bibir, bergoyang pelan mengikuti embusan angin laut.

tatapannya menyapu aula besar batu hitam di depannya. Di mata orang biasa seperti Huang De, itu adalah bangunan mewah yang sayang untuk dihancurkan.

Namun di mata Lin Yi, seorang mantan Kaisar Abadi yang telah hidup jutaan tahun, bangunan itu memancarkan atmosfer yang kaku, gelap, dan angkuh—gaya arsitektur khas para tuan tanah fana yang ingin mengintimidasi rakyatnya.

Lebih dari itu, dengan persepsi spiritualnya yang tak terbatas, Lin Yi bisa melihat lapisan "energi buruk" samar yang menempel di dinding-dinding batu tersebut.

Itu adalah sisa-sisa energi dari keserakahan, kekejaman, dan penderitaan para pelayan yang tertindas di masa lalu ketika Keluarga Han masih berkuasa.

Lin Yi turun ke dunia fana untuk mencari kedamaian dan membangun surga wisata yang asri, ramah, dan terbuka. Ia sama sekali tidak rela tinggal atau menjalankan bisnis di atas fondasi yang kotor seperti itu.

"Hancurkan semuanya, Kepala Pengawas Huang,"

Ujar Lin Yi dengan nada suara yang teramat santai, seolah-olah ia baru saja meminta seseorang untuk membuang sekeranjang buah busuk.

"Ratakan dengan tanah tanpa menyisakan satu dinding pun."

Huang De sedikit terperangah.

Jantungnya berdegup agak kencang mendengar keputusan yang luar biasa boros tersebut.

"Semuanya, Tuan? Bahkan aula utama yang terbuat dari batu hitam langka ini?"

"Semuanya,"

Ulang Lin Yi dengan tatapan mata yang tenang namun tidak menerima bantahan.

"Namun, puing-puingnya jangan dibuang secara percuma.”

“Material batunya silakan potong dan hancurkan ulang menjadi balok-balok kecil.”

“Kita akan menggunakannya sebagai fondasi rumah pertanian untuk para keluarga budak nanti, serta untuk memperkuat tanggul penahan ombak di sekitar dermaga selatan.”

“Dengan begitu, materialnya tetap berguna, tetapi bentuk aslinya hilang."

Mendengar penjelasan Lin Yi tentang daur ulang material tersebut, kekhawatiran Huang De langsung sirna, digantikan oleh rasa kagum yang mendalam.

Ia menyadari bahwa majikan barunya ini bukan sekadar orang kaya baru yang sombong dan impulsif, melainkan seorang visioner yang memiliki standar estetika dan filosofi hidup yang sangat tinggi.

"Visi Tuan Lin sungguh mendalam. Saya mengerti,"

Huang De membungkuk hormat.

Lihat selengkapnya