Langit Kerajaan Asterra berwarna merah.
Bukan karena matahari terbenam.
Melainkan karena asap perang.
Ribuan panji kerajaan berkibar di atas padang luas yang dipenuhi prajurit. Suara terompet perang terdengar dari kejauhan, disusul derap kaki kuda dan dentingan ribuan pedang.Di tengah kekacauan itu berdiri sebuah benteng kerajaan yang terbakar.
Dan di antara puing-puingnya...
seorang pria terbaring tanpa bergerak.
Pria itu mengenakan zirah kekaisaran berwarna hitam keemasan.
Di dadanya terdapat lambang naga Asterra.
Dialah Kaisar Arvand Renald, penguasa yang selama tiga puluh tahun menjaga kerajaannya.
Kaisar yang dicintai rakyat.Kaisar yang disegani para jenderal.
Kaisar yang tidak pernah meninggalkan prajuritnya.
Namun hari itu...
ia gugur.
Bukan karena melarikan diri.
Bukan karena kalah dalam pertempuran.
Ia mati ketika kembali ke medan perang untuk menyelamatkan ribuan prajurit yang terjebak di antara kepungan musuh.Sebelum kematiannya, sang Kaisar hanya memberikan satu pesan kepada Jenderal Ragor.
"Jangan... selamatkan aku."
Ragor menangis.
"Yang Mulia!"
"Selamatkan mereka."
Kaisar menunjuk ribuan prajurit yang terluka.
"Mereka... punya keluarga yang menunggu."
Itulah kata-kata terakhirnya.
---Tiga hari kemudian.
Ibu kota Asterra dipenuhi manusia.
Ratusan ribu rakyat memenuhi jalan.
Mereka tidak datang untuk merayakan kemenangan.
Mereka datang untuk melihat kepulangan Kaisar mereka.
Kereta jenazah perlahan memasuki gerbang kota.
Tangisan terdengar di mana-mana.
Seorang anak kecil memegang bunga.
"Apakah Kaisar benar-benar meninggal, Ibu?"
Ibunya mengangguk sambil menangis.
"Ya."i bukankah Kaisar tidak boleh mati?"
Sang ibu memeluk anaknya.
"Semua manusia bisa mati."
"Termasuk Kaisar."
Anak itu menatap kereta yang lewat.
"Kalau begitu... siapa yang akan melindungi kita?"
Pertanyaan sederhana itu membuat banyak orang menangis.
Karena tidak ada yang tahu jawabannya.
Kaisar telah meninggal.
Dan pewaris takhta hanya seorang pemuda berusia enam belas tahun.
Namanya...
Arkaian Renald.Di dalam istana...
Arkaian berdiri di depan jenazah ayahnya.
Ia tidak menangis.
Bukan karena tidak sedih.
Tetapi karena air matanya seperti sudah habis sejak tiga hari lalu.
Tangannya menggenggam ujung kain hitam.
"Ayah..."
Suaranya pelan.
"Kenapa Ayah selalu melakukan ini?"
Jenderal Ragor berdiri di belakangnya.
"Melakukan apa, Yang Mulia?"
"Selalu menyelamatkan orang lain."
Ragor menundukkan kepala.
"Karena bagi Kaisar..."
Ia menarik napas.seorang prajurit bukan sekadar angka."
Arkaian memejamkan mata.
"Kalau begitu aku akan melakukan hal yang sama."
Ragor terkejut.
"Yang Mulia?"
Arkaian menatap ayahnya sekali lagi.
"Aku akan menjadi Kaisar."
---
Hari penobatan tiba.
Seluruh ibu kota dipenuhi rakyat.
Para bangsawan berdiri di sisi kiri aula.
Para jenderal berdiri di sisi kanan.
Di belakang mereka terdapat ribuan prajurit pilihan.Arkaian berjalan perlahan menuju takhta.
Usianya baru enam belas tahun.
Tubuhnya belum sebesar para jenderal.
Wajahnya masih menunjukkan usia seorang remaja.
Beberapa bangsawan bahkan tersenyum diam-diam.
Mereka menganggap anak itu mudah dikendalikan.
Terutama seorang bangsawan bernama Adipati Varkos.Varkos adalah salah satu bangsawan terkaya di Asterra.
Dan diam-diam...
ia menguasai hampir separuh perdagangan senjata kerajaan.
Ia berbisik kepada rekannya.
"Anak itu akan mudah dimainkan."
Namun Arkaian mendengar.
Ia berhenti.
Menoleh.
"Adipati Varkos."
Varkos terkejut.
"Y-Ya, Yang Mulia?"Aku mendengar ucapanmu."
Wajah Varkos berubah.
Arkaian tersenyum.
"Tenang."
Ia kembali berjalan.
"Kita akan berbicara setelah penobatan."
Varkos menelan ludah.
---
Setelah mahkota diletakkan di kepala Arkaian...
seluruh aula berlutut.
"Kaisar Arkaian Renald!"
Suara mereka menggema.
"HIDUP KAISAR!"
Namun Arkaian tidak langsung duduk.
Ia justru menatap takhta.
Takhta yang selama ini menjadi impian banyak bangsawan.
Kemudian ia berkata:
"Takhta ini..."
Semua orang diam.
"...terlalu tinggi."
Para bangsawan saling berpandangan.
Arkaian turun dari tangga takhta.
Ia berdiri di depan para prajurit.