Kak, ayo pulang

Rain Dandelion
Chapter #10

Part 09

Maret 2021

Jyoti Kalila


Menjadi anak tunggal dalam keluarga kaya, tentu banyak orang yang mengharapkan posisi seperti itu.

Namun aku justru heran, karena aku sendiri yang menjalaninya sungguh terasa membosankan.

Memang orangtuaku sangat menyayangiku, aku tak pernah kekurangan dan semua keinginanku selalu terpenuhi.

Tapi hari-hariku selalu terasa sepi, di rumah yang sangat besar ini orangtuaku lebih sering sibuk oleh pekerjaan daripada menemaniku belajar dan bermain.

Sampai saat itu aku kelas 5 SD, karena urusan pekerjaan papa mengajak kami untuk pindah rumah.

Aku sangat senang di rumah baru karena tidak terlalu besar seperti rumah dulu dan kebetulan sekali berhadapan dengan sebuah panti asuhan bernama Cahaya Kasih yang ramai anak kecil berumur 3-7 tahun.

Sejak saat itu hidupku lumayan berwarna karena bisa bermain bersama anak-anak kecil di panti. Ya meskipun aku lebih menginginkan seorang abang daripada adik kecil.

Sekarang, sudah hampir dua tahun kami tinggal di rumah baru.

Dan hari ini, hari minggu. Papa mengajak aku dan mama keluar. Kukira dia akan mengajak kami jalan-jalan seperti biasanya, ternyata kami justru diajak melayat ke rumah duka. Ada teman papa yang meninggal dunia.

Aku dan mama tak banyak bicara, mengikuti langkah papa memasuki rumah duka yang masih ramai pelayat.

Dan inilah pertama kalinya aku bertemu dengannya, Arkael Luminus.

Sosoknya duduk termenung di pojok ruangan, anak laki-laki kelas satu SMP yang baru saja kehilangan ibunya—satu-satunya keluarga yang dia punya.

Papa bilang, ibunya meninggal karena sakit. Entah sakit apa.

Aku tak tega melihatnya. Meringkuk sendirian di pojok ruangan tanpa menghiraukan hiruk pikuk orang-orang di sekitarnya. Aku memisahkan diri dari orangtuaku, berinisiatif mendekati dan mengajaknya berbicara.

"Hai ...," sapaku dengan senyum ramah.

Dan dia dengan mata bengkak menatapku lama tanpa ekspresi, lama sekali, sampai aku harus melambaikan tanganku di depan wajahnya agar ia sadar dan tak berlarut menatapku.

Aku mengulurkan tangan ke arahnya.

"Nama kamu siapa? Namaku Jyoti." Karena sedari tadi kulihat dia tak pernah menjawab sapaan orang-orang, kukira dia tak akan menggubris ucapanku yang tiba-tiba dan cukup kekanakan.

Tapi ternyata tidak, dia membalas uluran tanganku.

"Kael." Dia menyebutkan namanya. Meskipun dengan wajah tanpa ekspresi, tapi itu cukup membuatku senang.

Aku merasakan genggaman tangannya yang hangat, dan ... lemah.

Tanpa menunggu persetujuannya aku beranjak duduk di sampingnya. Menatap banyaknya orang bersamanya.

Aku tak akan mengucapkan bela sungkawa padanya, ataupun menyuruhnya tetap semangat. Karena ia tentu tak butuh itu. Ia tentu tak ingin dipaksa dengan banyaknya ucapan semangat kalau dirinya memang tak ingin semangat setelah ini.

"Kamu pasti kesepian. Ke rumah aku aja, yuk," ajakku spontan yang sayangnya langsung ia jawab dengan gelengan kepala. Aku menatapnya kecewa, pasti menyenangkan jika memiliki saudara laki-laki di rumah.

"Jyo ...." Papa memanggilku dan mendekat ke arah kami.

"Papa, Kael nggak mau aku ajak pulang," ucapku mengadu. Papa tersenyum dan menatap Kael di sampingku yang masih saja diam.

Lihat selengkapnya