26 Mei 2025
Arkael Luminus
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku bergegas merapikan peralatan tulisku dan memasukkannya ke dalam tas.
“Kamu mau pergi lagi, ya?” Jyoti sudah berdiri di samping mejaku ketika aku hendak bangkit.
Aku tersenyum tak enak hati, karena lagi-lagi aku meninggalkannya untuk pulang sendiri.
“Nggak pulang bareng nih, berarti?” tanyanya lagi yang ku jawab dengan mengangguk kecil.
Wajahnya yang ditekuk membuatku tersenyum dan menepuk puncak kepalanya pelan.
“Gapapa ya. Ada Aldo kok. Lagi pula kan kita bareng terus kalo di panti ... Setelah urusan gue ini selesai, kita pulang bareng lagi.” Aku selalu terkekeh kecil jika Jyoti bersikap clingy kepadaku, entahlah kenapa dia seperti anak kecil yang harus selalu menempel padaku.
Ya, kadang aku sendiri tidak sadar kalau selalu memanjakannya sedari dulu.
Jyoti menghela napas dan tersenyum padaku. Tangannya terangkat, gantian menepuk pelan puncak kepalaku.
“Oke, Kael. Semoga keinginan kamu cepat terealisasikan ya. Kalo kamu butuh bantuan apa pun, jangan lupa bilang aku. Aku pasti gercep buat bantuin kamu.” Aku tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapannya.
Bagaimana mungkin aku tahan untuk tidak memanjakannya kalau kelakuannya saja masih seperti bocah SD.
“Ekhem! Nyamuk lewat. Nging ... Nging ... Nging ....“ Suara Aldo yang menyebalkan menginterupsi percakapan kami.
Aku tersenyum miring menoleh padanya.
“Anterin Jyo pulang ya. Gue ada urusan.” Aku meninju pelan pundak Aldo.
“Mau ke mana lagi lo? Sibuk amat keknya dari kemaren, kan jadi seneng gue bisa nganterin Jyoti terus.” Aldo cengengesan membuat Jyoti mencebikkan bibir mengejeknya.
Aku tertawa kecil dan kembali menepuk pundak Aldo.
“Intinya gue titip Jyo ke lo, harus dianterin sampe rumah dengan selamat. Jangan ngebut, jangan mampir ke mana-mana sebelum pulang. Boleh mampir deh, buat makan tapi jangan makan yang aneh-aneh. Dah segitu aja, gue pergi dulu, bye.”
“Udah kayak emak-emak aja lo!”
Aku tak menggubris ucapan Aldo, hanya melambaikan tangan dan melanjutkan langkah keluar kelas.
Beberapa saat menunggu di depan gerbang, ojek online pesananku akhirnya datang. Aku segera menyebutkan tempat tujuan.
From: Kak Axel
Kalau kamu mau bertemu dengan kakakmu. Saya nanti akan makan siang di kafe kemarin bareng dia, datanglah.
Itu adalah pesan dari Axel yang membuatku semangat pergi menemui mereka setelah pulang sekolah.
Beberapa saat kemudian sampai di tempat tujuan, aku terdiam sejenak di seberang kafe.
Aku menggenggam erat-erat sebuah buku yang kubawa sedari tadi.
Buku yang dulu ditinggalkannya di rumah saat pergi.
Buku yang dulu menjadi kesayangannya.
Aku menghembuskan napas kasar, tersenyum kecil dan beranjak melangkah memasuki kafe dekat dengan Sunflower Hotel itu.
Tak perlu waktu lama untukku menemukan keberadaan mereka karena tempat duduknya sama dengan kemarin aku bertemu dengan Axel. Mungkin tempat itu sudah menjadi langganan mereka di sini.
Perlahan aku mendekati meja mereka.
Axel yang tersenyum pertama kali melihatku, sedangkan kak Kemilau belum menyadari keberadaanku karena duduknya yang membelakangi.
“Hai, Kak.“ Aku menyapa tiba-tiba dengan nada kikuk, masih dengan memeluk buku di depan perut.
Kak Kemilau yang sedang menikmati dessert sontak menoleh menatapku.
Ia tak membalas sapaanku. Hanya menatap tanpa ekspresi, seakan kedatanganku tak membuatnya terkejut.
“Hai ... Kamu yang waktu itu, kan?” Axel berusaha basa-basi untuk mencairkan suasana, membalas sapaanku.
Aku masih tersenyum kikuk, mengangguk kecil.
Ya ampun ..., menyapa kakak kandung saja bisa secanggung ini.
Memang ya, waktu bisa mengubah segalanya.