Kak, ayo pulang

Rain Dandelion
Chapter #13

Part 12


27 Mei 2025

Arkael Luminus

“Besok minggu ke mana, Bro? Main yok lah ....“

Di kantin yang ramai, aku berkumpul bersama teman-teman sekelasku yang sudah seperti kelompok geng.

“Gue nggak dulu.” Aku menjawab ucapan Ken, cowok macho yang selalu menjadi incaran para perempuan di sekolah.

“Ah elah. Lo mah susah banget diajak nongkrong,” sahut Nial, salah satu siswa kocak namun pintar di kelasku.

“Kerja gue ..., nggak kerja mau punya duit dari mana?” Aku tertawa kecil. Sudah biasa bersikap seperti ini dengan semua temanku.

“Kael ogah nongkrong sama kita, nongkrongnya sama si Jyo,” sahut Aldo tertawa mengejek.

Aku hanya menggeleng-geleng kecil.

Selain bekerja, aku memang lebih sering pergi bersama Jyoti daripada bersama mereka. Bukannya tidak mau, tapi aku yang tidak tenang jika menolak ajakan Jyoti ke mana pun dia pergi. Dan sayangnya, ajakannya itu selalu ada setiap hari.

“Oh iya, lo kenapa nggak jadian aja sama Jyoti. Nggak sumpek apa dicie-ciein tiap hari?” Nial bertanya sembari mencomot kuaci di atas meja.

Aku terkekeh kecil. Kenapa ya di mana pun tempatnya, persahabatan cewek dan cowok selalu diiringi paksaan orang lain agar jadian? Kenapa harus banget nggak tenang melihat hubungan dekat tanpa status pacar.

“Gue nggak mau pacaran. Nanti aja kalo udah dewasa punya duit banyak, langsung gue nikahin,” jawabku santai yang langsung mendapat sorakan dari mereka. Sok dewasa sekali.

“Sekarang emangnya lo nggak suka sama dia?” tanya Ken.

“Emangnya lo nggak suka Jyoti?” Aku balik bertanya membuat Ken berdecak kesal.

“Bukan suka yang kayak gitu bege, cinta loh cinta. Kalo suka doang mah siapa sih yang nggak suka sama Jyo. Udah cantik, pinter, baik banget pula.” Ucapan Ken membuatku tersenyum kecil. Kebaikan Jyoti tidak hanya diakui olehku seorang, dia memang selalu baik pada siapa pun.

“Hmm ... Bertahun-tahun hidup bareng, gue sakit dia ikut ngurusin, dia kemana-mana juga bareng gue terus. Nggak wajar sih kalo gue nggak ada rasa sama dia. Tapi balik lagi, gue nggak mau jalanin hubungan nggak resmi kayak pacaran.” Mereka mengangguk-angguk kecil mendengar ucapanku. Aku beralih mengangkat alis menatap Aldo yang memicing ke arahku.

“Beneran nih, nggak mau jadian sekarang? Kalo gue pacarin gimana?” celetuknya mendapat jitakan dari Ken di sampingnya.

“Suka lo sama Jyo?” tanyanya.

“Yee seperti kata lo. Siapa sih yang nggak suka sama cewek kayak Jyo? Gemes gitu.” Aldo tertawa kecil.

“Kalo Jyoti suka sama lo ya, silakan. Gue pasti seneng aja kalo liat dia seneng.” Aku merespons santai, semua keputusan Jyoti selalu aku setujui. Lagipula aku cukup percaya diri jika Jyoti hanya menaruh kepercayaannya kepadaku.

Aldo menatapku dengan raut menyebalkan. Ia mengedarkan pandangan dan memanggil Jyoti yang terlihat sedang membawa nampan bakso bersama temannya.

“Jyo! Jyoti!”

Jyoti menoleh, mengernyitkan alis menatap Aldo.

“Kenapa?” tanyanya.

“Jadian yuk. Jadi pacar gue, mau nggak?”

Jyoti justru langsung tertawa kecil.

“Sama kamu? Nggak mau, kamu nyebelin.” Dan setelahnya dia langsung melengos menuju tempat duduknya untuk makan.

Aku dan teman-teman yang lain sontak tertawa keras.

“So ... Gue ditolak tanpa pikir panjang. Ngenes amat gue.” Aldo berlagak mengerucutkan bibirnya membuat kami tertawa mengejek melihat kelakuannya yang menjijikkan.

“Lo tuh sadar aja kalo diri lo ngeselin, makanya nggak ada cewek yang mau deket-deket sama lo,” celetuk Ken tertawa puas.

“Lo kurang cakep kayaknya.” Nial juga tertawa paling kencang.

“Hah? Apa? Nggak salah denger gue? Gue sama Kael cakepan gue lah, katarak mata lo.” Aldo menyergah, bergaya menyugar rambutnya dengan jemari, membuat Nial berlagak mual melihatnya.

Lihat selengkapnya