Kak, ayo pulang

Rain Dandelion
Chapter #14

Part 13

April 2021

Jyoti Kalila

Hari ini, hari minggu.

Aku melangkah keluar rumah. Kedua tanganku membawa kardus berisi roti selai yang Papa beli kemarin.

“Mau ke mana, Non?” Pak Oman, satpam rumahku menyapa ramah.

“Mau ke depan, Pak!” Aku menjawab sembari mengangkat kardus yang kubawa.

“Mau dibantuin ndak, Non?”

Aku tersenyum dan menggeleng kecil. Aku bisa membawa kardus ini sendiri karena tidak terlalu berat.

Aku melanjutkan langkah.

Hanya terpisahkan jalanan gang, aku sudah sampai ke panti Cahaya Kasih yang sudah seperti rumahku kedua ku.

“Haloo semuanya ....“ Ruang tamu ramai anak-anak yang sedang bermain, mereka langsung heboh melihat kedatanganku.

“Ayo, satu-satu yaa ....“ Mereka duduk rapi di depanku. Menerima roti selai yang kubawa tanpa rusuh saling berebut.

“Mas Kael, makan dulu gih. Adeknya dibawa ke kamar aja.” Suara Bu Nuri membuatku menoleh, dan mengalihkan pandanganku kepada sosok lelaki yang baru sebulan tinggal di sini.

“Dianya nggak mau, Bu. Kalo nggak digendong nangis. Nggak papa, aku belum laper kok.”

Aku tersenyum, mengambil sebungkus roti dan beranjak mendekatinya.

Aku menatapnya lama. Raut sedih di wajahnya berangsur hilang, dan senyumannya sering terlihat selama di sini.

“Nih, buat kamu.” Dia mendongak, menatapku yang menyodorkan sebungkus roti untuknya.

“Nanti aja.” Dia tersenyum tipis, dan kembali menimang-nimang bayi di pelukannya.

Aku menatap bayi itu.

Bayi berumur 5 bulan yang baru datang ke rumah ini 3 hari yang lalu. Bayi tanpa dosa yang harus menghadapi kenyataan kalau orang tuanya tak menginginkannya.

Aku kembali menatap wajah Kael yang terlihat teduh ketika menimang bayi itu.

“Kamu bahagia?” Entah kenapa aku tiba-tiba ingin menanyakan hal tersebut kepadanya.

Dia kembali mendongak menatapku lama, sebelum kemudian tangannya menepuk kursi di sampingnya, menyuruhku duduk.

“Kamu lihat dia ....” Dia berucap setelah aku duduk, membuatku ikut menatap bayi mungil yang tengah terlelap dengan nyaman.

“Sekecil ini, nggak tau apa-apa, belum punya dosa juga. Tapi harus terima kenyataan kalo kelahirannya nggak diinginkan, orang tuanya nggak mau ngerawat dia. Dunia sekejam itu buat dia yang masih sekecil ini. Jadi, nggak ada alasan buat aku sedih karena kehidupanku jauh lebih baik dari dia ....“

Entah kenapa Kael yang sekarang terlihat sangat berbeda dengan Kael yang kutemui sebulan yang lalu.

Dia yang sekarang terlihat tenang, lebih dewasa dan ekspresif.

Sudah mulai terlihat dirinya yang sebenarnya. Ramah dan hangat. Tentu aku sangat lega untuk hal itu.

Aku kembali mengambil roti selai yang kubawa. Merobek plastiknya dan menyodorkan secuil ke arahnya.

“Buat ngerayain karena kamu udah nggak sedih lagi.” Aku tertawa konyol. Dia ikut tersenyum dan menerima suapan dariku.

“Makasih ... Aku berhasil sampai di tahap ini juga karena kamu. Kamu seneng nggak?” Dia bertanya yang ku jawab anggukan kecil.

“Kamu tahu ... Ada kamu di sini itu buat aku seneengg banget. Karena aku jadi berasa punya abang,” jawabku yang membuat dia kembali tersenyum tipis ke arahku.

“Sama ... Aku jadi merasa lebih hidup setelah di sini.”

Kami masih kelas 1 SMP. Tapi kehidupan di panti membuat kami berhasil bersikap lebih dewasa.

Terlebih lagi Kael. Kehadirannya sebagai anak tertua di panti membuat Bu Nuri sering mempercayakan hal apa pun padanya, dan Kael cukup pintar mengatur kondisi. Dia bisa menenangkan anak-anak, menemani belajar dan bermain, juga memandikan mereka, bahkan ia juga sering membantu Bu Nuri memasak di dapur. Karena rumah panti ini hanya memiliki Bu Nuri untuk menjadi pengasuh dan pengelolanya.

Kadang aku sedikit tak tega jika melihatnya kecapean mengurus anak-anak, tapi tak pernah sekalipun ia mengeluh akan hal itu.

Lihat selengkapnya