Kak, ayo pulang

Rain Dandelion
Chapter #15

Part 14


28 Mei 2025

Kemilau Laluna

Setelah selesai makan di Warung Makan Padang, aku dan Axel bergegas pulang ke hotel.

“Hei, kenapa?” Axel ikut masuk ke kamar hotelku, ia tidak langsung menuju kamarnya di seberang karena melihat ekspresi wajahku yang tidak baik-baik saja.

Aku beranjak duduk di atas kasur, tak menjawab pertanyaannya.

Kepalaku berdenyut sakit, aku tidak menahan rasa sakitnya, kubiarkan saja dan kali ini aku berharap menemukan sesuatu yang telah lama hilang dariku.

“Hei, kenapa nangis?” Axel menatapku khawatir, ibu jarinya tergerak menghapus air mataku yang tiba-tiba keluar begitu saja.

Aku menggeleng kecil. Aku tak tahu perasaan apa yang sedang kurasakan.

Aku tak mengingat apa pun.

Aku hanya ingin menangis.

Axel duduk di sampingku. Membiarkanku menangis di bahunya, sampai ketika tatapan kami sama-sama tertuju ke arah buku bersampul hitam yang tergeletak begitu saja di atas nakas.

“Kamu sudah membacanya?” tanya Axel pelan yang ku jawab dengan gelengan kepala.

Aku belum membacanya karena aku tak ingin.

Aku tak ingin kembali ke masa lalu.

Bertahun-tahun aku dihantui mimpi buruk aneh yang tak berkesudahan. Suara teriakan tanpa ada rupa, pecahan barang, semuanya aneh dan tanpa penjelasan.

Aku takut dengan semua fakta tentang masa laluku.

Namun bertemu seseorang yang terlihat begitu menyayangiku, dengan kehidupannya yang terlihat tidak baik-baik saja.

Jika aku terus bersikap begini, bukankah akan terlihat sangat egois?

Axel mengusap rambutku dengan lembut.

“Nggak papa ..., nggak perlu dipaksakan.“ Dia berusaha menenangkanku.

Aku beranjak dari pelukannya, mengambil buku hitam itu dan menatapnya lamat-lamat.

Apa aku harus kembali menoleh ke belakang? Meskipun kehidupanku sudah sangat menyenangkan?

Arkael ....

Kenapa aku belum bisa menemukan satu pun ingatan tentang kamu.

Kalau kita benar saudara, kenapa kita harus terpisah? Ada apa waktu itu? Ada apa dengan kehidupan kita di masa lalu?

Aku mengusap pipiku yang basah.

“Kamu akan membacanya?” Axel bertanya pelan.

Aku menatapnya, mengangguk yakin.

Dan perlahan, aku kembali membuka lembar demi lembar buku yang menyimpan rahasia masa lalu di dalamnya.

Diary Kemilau.

Aku datang kembali dengan pertanyaan.

Apakah aku dulu adalah seorang pendosa, sampai Tuhan menghukumku dengan begitu beratnya di kehidupan sekarang?

Aku merasa lelah mengeluh dan mengeluh setiap hari. Namun aku terlampau sakit.

Ibu.

Kenapa dia tidak bisa jadi sosok yang membuatku merasa nyaman dan terlindungi? Apa salahku sebenarnya?

Hari ini, aku mendapat luka baru lagi.

Namun aku harus tetap kuat karena aku punya pahlawan kecil, yang selalu menjadi moodboster terbaikku.

Arkael ....

Kamu masih terlalu kecil untuk memahami kesakitan kakakmu ini.

Tapi Ibu menyayangimu ....

Jadi aku harap, gunakan kesempatan terbaik itu untuk menjadi anak yang berbakti.

Sakitku, jangan sampai kamu ikut merasakannya.

Aku tak tahu apa yang membuat kita berbeda di mata ibu kandung kita sendiri.

Dan terkadang, perasaan iri itu muncul begitu saja. Namun meskipun begitu, kamu tetap menjadi adik kecil kesayangan kakak.

“Ugh ....“ Aku melenguh kecil. Baru saja satu halaman yang kubaca, tiba-tiba kepalaku kembali berdenyut nyeri.

Are you okay?” Axel menatapku khawatir.

Aku mengangguk kecil. Aku baik-baik saja.

Lihat selengkapnya