29 Mei 2025
Kemilau Laluna
“Anak nggak tau diuntung!! Kamu kira ini murah, hah?! Setelah ayah kamu pergi, kita itu miskin! Mau bikin keluarga makin miskin, kamu?! Makin dihina? Iya?!” Suara ibu menggema ke seluruh penjuru rumah.
Aku hanya bisa berlutut, memungut pecahan guci di lantai sembari menahan tangis.
“Kak ....“ Arkael mendekat, berniat membantuku membersihkan kekacauan yang tak disengaja.
“Mau ngapain kamu? Bantuin kakakmu? Hah?! Nggak usah! Biar dia beresin sendiri!” Belum sempat Kael berlutut di depanku, ibu telah menarik tangannya agar menjauh dariku.
“Biar dia tau yang namanya tanggung jawab!”
“Seharusnya kata-kata itu buat Ibu ...,“ sahutku lirih yang sayangnya terdengar olehnya.
“Berani kamu, hah?!” Aku terbelalak ketika ibu mengambil kayu rotan dan melayangkannya begitu saja ke punggungku.
“Ibu, sakit bu! Kemilau minta maaf!” Aku meringkuk sembari berteriak kesakitan.
“Anak nggak tau diuntung!! Berani-beraninya kamu balikin omongan orang tua! Kerjaan kamu Cuma bikin ibu sengsara terus!!”
“Ibu, berhenti!!” Kael berusaha menghentikan pukulan ibu, namun tak berhasil. Ibu masih berteriak marah.
Dan aku menatap kedua mata Kael yang menatapku dengan raut bersalah.
Guci itu, terjatuh karena ulahnya yang ceroboh dan aku datang untuk membantunya, namun ia tak berani mengucapkan sepatah kata pun kejadian yang sebenarnya.
Tapi aku yakin, meskipun Kael bilang yang sebenarnya pun ibu tak akan percaya.
Karena semua kesalahan di rumah ini, selalu akulah yang disalahkan.
“Ibu, sakit, bu!”
“Biar tahu rasa!”
Aku menatap jerih tangan ibu yang terangkat tinggi-tinggi, seakan semua energinya terkumpulkan untuk memberiku pukulan terakhir.
Bugh!
“Argh!!!” Aku terlonjak dari tidurku. Mataku terbuka seketika.
Napasku terasa tak beraturan, keringat dingin membasahi pelipis dan tengkukku.
Tanganku mengepal erat-erat. Detak jantungku terasa sangat kencang sampai seakan telingaku dapat mendengar dengan jelas.
“Hei, Honey? Ada apa?”
Aku sontak beringsut mundur mendengar suara seseorang yang muncul tiba-tiba.
Aku memeluk lututku sembari menatapnya dengan napas tak beraturan.
Axel keluar dari kamar mandi, menatapku khawatir. Aku menghela napas lega melihatnya.
“Kamu kenapa?” Dia beranjak mendekatiku, menatapku bingung.
Dan aku juga bingung dengan perasaanku sendiri.
Mimpi itu, terasa sangat tak asing.
“Kenapa kamu pagi-pagi sekali udah di kamar aku?” tanyaku pelan.
Axel tersenyum kecil, beranjak duduk di dekatku sembari menyodorkan segelas air.
“Tadi malam, waktu aku nemenin kamu tidur, kamu mengigau terus. Aku khawatir sama kamu. Jadinya aku tungguin semalaman di sini.” Axel mengusap lembut puncak kepalaku.
Aku meneguk air sebelum tersenyum dengan tak enak hati.
“Axel .... “ Aku berucap pelan.
“Hm?”