Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #1

Bab 1: Prolog


Suara dering menggetarkan sebuah smartphone di permukaan meja kayu saat aku duduk di depan meja rias. Aku membuka ponselku.

“Nona Sophia… bagaimana kabar Anda?”

Mata biru melebar saat aku membaca pesan singkat itu. Jari-jariku segera mengetuk layar sentuh.

“Saya baik-baik saja, Tuan Liem. Saya sudah menyiapkan dokumen untuk rapat nanti.”

“Terima kasih atas kerja keras Anda, Nona Sophia. Tolong jaga kesehatan Anda. Saya tidak ingin melihat Anda pucat seperti beberapa hari lalu.”

“Terima kasih atas perhatian Anda, Tuan. Saya akan lebih memperhatikan kesehatanku.”

Senyum terukir di bibirku ketika aku membalas pesannya. Bos Liem, kenapa kau begitu perhatian kepadaku? Aku beruntung mengenal pria sebaik dirimu.

Tiga tahun telah berlalu sejak aku bekerja di Liem Corp. Semasa kuliah, kamu telah membantuku. Setelah lulus, kamu merekomendasikan bekerja di perusahaanmu.

 “Tuan Liem…” bisikku.

Aku menghela nafas, menatap cermin oval menempel di meja rias. Bayangan seorang gadis bermata biru berpakaian piyama duduk manis di kursi staff memantul di permukaan cermin mengkilap.

Itu aku, bukannya narsis, aku memang cantik.

Aku meletakkan ponselku di permukaan meja rias dan menyelipkan rambut pirang ke belakang telingaku.

Bos baik, pekerjaan mapan, wajah rupawan… sempurna.

Aku menepuk pipiku. “Ini bukan mimpi, bukan? Hari-hariku benar-benar—”

“Hihi…” Tiba-tiba suara pria terbahak-bahak bergema dari ruang tamu, keningku mengernyit.

“Mas Bram—” tanganku mengempal.

Aku berdiri, menggeser kursiku ke belakang. Pintu berderit saat aku membukanya.

Langkahku tiba di ruang tamu. Aku berdiri mematung di tengah ruangan.

Di depanku, seorang pria berambut hitam duduk santai di sofa. Kaos bolong bergelombang saat dia mengaruk punggungnya.

Mata terlihat seperti mata ikan. Dia tertawa sambil menunjuk ke arah LCD 52 inchi yang menampilkan adegan kartunis kekanak-kanakkan, bintang laut merah muda.

Tanganku meremas rambutku. “Mas Bram… jangan bikin onar!”

Lihat selengkapnya