Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #2

Bab 2: Boneka Kelinci

Pintu berderit saat aku memasuki kembali ke kamarku. Aku melompat ke ranjangku. Suara desis busa ranjang bergema di telingaku.

Aku menatap langit ruangan. “Mas Bram… kenapa kau menjadi pemalas?”

Aku menoleh ke kanan. Sebuah boneka kelinci tersenyum menatapku. Tanganku memeluk boneka itu. Mataku tertutup perlahan, membiarkan nostalgia membawaku ke masa lalu.

Suara klakson bersahutan bergema di sepanjang jalan saat mataku menatap jalan beraspal. Aku berdiri di bawah pohon beringin.

Tanganku memegang pegangan tasku saat suara feminim membuyarkan lamunanku.

“Sophia… kapan kakakmu akan datang?”

Aku menoleh ke kanan, seorang gadis berseragam putih berdiri menyilangkan kedua lengan di dadanya. Rok biru panjangnya berkibar lembut tertiup angin.

Aku menggeleng. “Aku tidak tahu, Cintia.”

Cintia menyelipkan rambut hitam di belakang telinganya. “Terkadang… aku merasa iri kepadamu,” suaranya lirih.

“Iri?” Aku sedikit memiringkan kepalaku.

Cintia tersenyum tipis. “Kau memiliki seorang kakak tampan dan perhatian.”

“Andai saja aku memiliki kakak laki-laki seperti Mas Bram.” Pipinya terlihat merona.

Bibirku menyeringai, mataku menyipit menatapnya.

“Katakan kepadaku,” lenganku menyenggol pinggangnya. “Apa kau menaksir sama kakakku?”

Aku menutup mulutku, terkekeh.

Cintia langsung menggelangkan kepalanya dan melambaikan dua telapak tangannya. “Naksir?! Omong kosong! Aku hanya senang melihat kamu akur dengan Kakakmu.”

Dia memalingkan muka. Pipinya semakin memerah.

Aku menepuk lembut pundaknya. “Kau tidak suka Kakakku?”

“AKU TIDAK!” Dia berteriak.

Aku terdiam sejenak, menoleh ke jalan. Para pelajar SMA terlihat berhenti di tengah trotoar, menatap kami sejenak. Lalu, mereka melanjutkan jalan kaki.

Aku menutup bibir Cintia dengan telapak tanganku. “Jangan keras-keras!”

Bibirku mendekat ke telinganya. “Tapi kalau kamu benar-benar tidak suka Kakakku, nanti aku bakal lapor: Mas Bram… Cintia membencimu lho.”

Cintia melepaskan telapak tanganku. Mata hitamnya melebar. “Jangan katakan yang aneh-aneh. Aku mohon—”

Dia mencengkram bahuku. ”Aku tidak membencinya. Aku menyukainya!”

Dia menguncang bahuku naik turun. Namun guncangan itu justru membuatku tertawa geli. “Akhirnya kau jujur. Cintia gadis manis. Hehe…”

Cintia berhenti menguncangku, “Sophia bodoh!”

Lihat selengkapnya