Aroma parfum tercium di ruanganku. Suara manis bergema saat aku bersenandung di depan meja rias. Aku mengikat jepit rambut kupu-kupu di rambut belakang kepalaku.
Cermin memantulkan bayangan seorang wanita berpakaian kemaja putih bercelana hitam panjang. Rambut pirang berkilau terkena sinar lampu.
Aku membusungkan dadaku. Siapa wanita cantik itu? Itu aku.
Aku siap mengambil tas ransel hitam di meja rias dan menyampirkannya di punggungku. Kakiku melangkah menuju kamar tamu.
Aku menutup pintu kamarku dan menoleh ke kanan. Mas Bram terlihat merebahkan punggungnya di bantalan sofa. Mata ikannya menatap langit ruangan. Senyum bodohnya mengingatkanku kepada bintang laut merah muda.
Aku menghela nafas. Setidaknya Kakak tidak berbuat onar seperti tadi waktu subuh. Kalau diperhatikan dia terlihat cukup tampan: rambut hitam, hidung mancung, dan kulit kuning langsat. Wajar, sahabatku naksir sama Kakak.
Kakiku melangkah ke tengah ruang tamu, berhenti di dekat LCD. Aku menyelipkan rambutku ke belakang telingaku. “Mas Bram… aku berangkat dulu.”
Kakak menatapku dan mengangguk ringan. “Hati-hati, Sophia.”
Aku membalasnya dengan senyuman manis. Bersyukurlah, Kakak. Dimana lagi kau bisa memiliki adik perempuan semanis diriku. Hehe.
Kakiku melangkah ke teras rumah. Sinar putih menyapaku pandanganku. Udara dingin menusuk leherku.
“Hah…” uap keluar dari bibirku.
Aku melangkah ke kiri menuju bagasi rumah. Suara gesekan logam tergema saat tanganku membuka pintu logam.
Di dalam bagasi terlihat sebuah motor sport hijau terparkir rapi di kiri dekat dinding abu-abu. Debu dan kotoran menodai badan motor.
Aku mengusap dadaku. Kakak, kapan kamu akan mencuci motor kesayanganmu?
Bibirku melengkung ke atas saat aku melirik sebuah motor matic merah muda mengkilap di sebelah motor sport. Itu motorku yang aku beli dari penghasilanku.
Aku melangkah, menuntun motorku menuju jalan beton di depan rumah.
Motorku berdengung saat aku memutar kuncinya. Tanganku mengikat tali helm lekat-lekat di bawah daguku. “Josh… waktunya berangkat—”
“Nona Sophia,” suasra seorang ibu tua melengking dari belakang. Aku refleks menoleh ke belakang.
“Nyonya Marni,” suaraku lirih.
Mataku mengikuti pergerakan seorang wanita gemuk berdaster putih. Dia berjalan perlahan sambil memegang sapu.
Dia berdiri tepat di kananku. Tangannya menepuk pundakku. “Nona… Anda cantik seperti biasanya. Mau kemana?”
Bibirku tersenyum. “Berangkat ke kantor, Nyonya.”
“Oh,” Nyonya Marni menyandarkan telapak tangan di pipinya. “Bagus. Aku pernah melihat bosmu di TV. Tuan Liem sangat tampan dan baik hati. Nona beruntung memiliki bos sebaik dia.”
Kepalaku mengangguk. “Tepat.”
Nyonya Marni menyipitku, menatapku dari bawah ke atas. “Nona rapi dan wangi,” uap keluar dari mulutnya. ”Andai kakakmu seperti dirimu.”
“Nona tahu? Kemarin, Kakakmu memutar musik jepang keras-keras di siang bolong,” bibirnya mengerut. “Aku sampai tidak bisa tidur siang. Tolong didik baik-baik Kakakmu. Dia perlu belajar sopan santun!”
Seketika, bahuku langsung terasa lemas, kepalaku menunduk. “Maaf atas keributan ini, Nyonya.”
Suara tepukan terdengar, aku mendongak.
“Tidak apa-apa. Nona pengertian,” Nyonya Marni tersenyum. ”Kakakmu selalu merepotkanmu. Dia seperti benalu.”
Mataku menyipit sekilas saat aku mendengar kata ‘benalu’. Namun, aku segera memperbaiki senyumanku. “Aku akan merawat Kakakku. Permisi.”
Aku segera memacu motorku, meninggalkan tetangga berisik itu.
“Hati-hati di jalan, Nona. Sampaikan salamku kepada Tuan Liem,” suaranya melengking di jalan perumahan.
Kakak memang pembuat onar. Tapi kau tidak punya hak ikut campur mengurus Mas Bram.
“Dasar Nenek Lampir! Seenaknya saja menyuruhku. Kamu siapa?” dengusku.
Aku menghirup nafas dalam-dalam. Sabar, Sophia! Jangan biarkan wanita tua itu merusak hari baikmu. Tuan Liem sudah menungguku di kantor.
…
Aku memacu motorku di jalan beraspal hitam. Sebuah motor bebek biru memantul di spion. Mataku fokus menatap ke depan. Mobil berbaris rapi di depan perempatan jalan.
Aku berhenti di depan mobil Serbagunaputih. Dahiku mengernyit saat asap knalpot menusuk hidungku.