Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #4

Bab 4: Rapat Bersama Tuan Liem

Aroma lavender semerbak di udara. Udara AC menusuk leherku. Suara pria lembut berirama terdengar di ruangan berdinding putih saat aku duduk manis di kursi staff di depan meja rapat berbentuk oval sepanjang setengah ruangan.

Sebuah laptop menyala di depanku, jari-jariku terus mengetik setiap kata-kata pria itu ke dalam file terstruktur.

Mataku melirik ke depan. Seorang pria tampan berjas hitam berdiri di depan layar proyektor. Rambut hitamnya mengkilap saat dia memberikan presentasi kepada para pemegang saham.

“Sirupku telah mencapai penjualan yang fantastis,” Tuan Liem menunjuk grafik penjualan yang mengalami tren meningkat. “Setiap hari, kami terus dibanjiri telpon dari pengusaha ritel, apotek, rumah sakit sampai klinik-klinik. Mereka meminta stok lebih banyak lagi.”

“Saat ini pabrik kami terus bekerja ekstra untuk meningkatkan volume produksi. Kami sangat optimis bisa mencapai target produksi di triwulan ini.”

“Bapak dan ibu yang terhormat, Kami sangat menghargai dukungan Anda. Kami tidak akan mencapai titik ini tanpa bantuan Anda.”

Tuan Liem berdiri tegak, mengecangkan dasinya. “Kami menyambut setiap kritik dan saran Anda.”

“Tuan Liem,” suara maskulin terdengar dari belakang ruangan.

Aku mendongak. Seorang kakek berjas hitam duduk di belakang meja oval.

Dia menurunkan tangannya. “Bagaimana strategi Anda memasarkan Sirupku sampai bisa terjual laris?”

Tuan Liem menepuk tangannya. “Pertanyaan bagus, Tuan Soe. Aku berterima kasih kepada dedikasi divisi pemasaran. Kami tidak hanya memanfaatkan media perikalanan konvensional, kami juga memaksimalkan algoritma media sosial. Kami memiliki kanal dengan puluhan jutaan pengikut yang rutin merilis video setiap hari.”

“Silahkan Tuan Soe,” Tuan Liem menganguk.

“Iklan memanfaatkan media sosial sudah menjadi tren umum. Bagaimana Anda memaksimalkan media ini?”

“Anda benar, hampir setiap perusahaan memiliki akun media sosial. Tapi hanya sedikit yang mampu memaksimalkan potensinya,” Tuan Liem membusungkan dadanya. “Anda tahu… apa kunci algoritma media sosial?”

Aku menatap Tuan Soe sekilas. Dia terlihat melirik ke rekan-rekannya, lalu mengangguk. “Bukankah itu konten yang menghibur dan interaksi yang ramah?”

“Anda setengah benar, Tuan Soe,” Tuan Liem tersenyum ramah. “Tapi kami tidak hanya berhenti situ. Jawab singkatnya, ‘ketulusan’. Media sosial bukan hanya soal algoritma, ini soal bagaimana orang lain berinteraksi dalam suatu komunitas. Oleh karena itu, kami perlu membangun kepercayaan terlebih dulu. Kami menunjukkan ketulusanmu kepada masyarakat—”

“Bisa Anda sederhanakan, Tuan Liem,” Tuan Soe menyela. ”Orang tua ini tidak paham tren anak muda.”

Tuan Liem melangkah dan berhenti di sampingku. Mata hitamnya menatapku dengan lembut. “Nona Sophia… maaf menganggumu sebentar.”

Aku menggangguk, “ada apa, Tuan?”

“Kenapa kau mempercayaiku?” Tuan Liem memegang dagunya. “Oh… jangan katakan karena aku memberikanmu rekomendasi.”

“Haha…” suara tawa terdengar riuh.

“Bukan, Tuan,” aku menggeleng.

“Lalu?” Tuan Liem tersenyum licik.

“Itu… karena Anda baik hati dan jujur,” suaraku lirih. “Tuan Liem tidak hanya memberikanku motivasi, Anda membuktikannya melalui tindakan Anda. Terlebih lagi, Tuan sudah banyak membantuku saat aku kesusahan,” telapak tanganku menutup wajahku yang memanas.

“Lihat! Perusahaan kami tidak hanya memberikan janji, tapi bukti. Kami tidak sekedar menjual sirup, kami membantu masyarakat kesusahan, kami mengobati anak-anak,” kata Tuan Liem. “Dengan ketulusan, masyarakat mempercayakan pilihan mereka kepada kami. Liem Corp bukan sekedar perusahaan farmasi, kami adalah pelayan masyarakat.”

“Nona Sophia… tolong,” Tuan Liem mengangguk.

Aku segera menyentuh touchpad dan segera mengklik video promosi di kanal video berlogo persegi merah putih. Layar proyektor menampilkan video Tuan Liem memberikan sirup ungu kepada seorang gadis kecil yang demam. Beberapa hari kemudian, anak itu terlihat bergerak lincah. Ibunya menangis memeluk putrinya. Dia menganguk dan berterima kasih kepada Tuan Liem.

“Wah,” suara Tuan Soe terdengar meninggi. “Luar biasa!”

Lihat selengkapnya