Aku melanjutkan perjalananku. Sepatu hakku bergema di sepanjang koridor. Langkahku berhenti di depan Mushola.
Cintia duduk di tepi teras. Tangannya sedang sibuk memasang sepatu hak. Matanya berbinar saat menatapku.
“Sophia…” dia melambaikan tangan.
Aku menyelipkan rambut pirang ke belakang telingaku, melangkah cepat ke arahnya. “Cintia… ayo makan siang bersamaku.”
Cintia menepuk punggung sepatunya, lalu berdiri. “Sophia… kamu tidak ibadah dulu?”
“Tidak,” pipiku cemberut. “Aku sedang libur.”
“Oh,” dia mengangguk. “Apa kamu baik-baik saja?”
“Tidak, aku tidak baik. Kau tahu rasanya perut bawah kram, berdenyut-denyut seperti tertusuk jarum, ‘kan?”
Wajah Cintia memucat, jarinya gemetar. “Sophia… apa kamu sudah meminum jamu kunyit!”
Aku memegang perut bawahku dan menunduk.
Cintia memegang kedua bahuku. “Sophia… ayo pergi ke UKS,” suaranya gemetar.
Bahuku menegang. Aku mendongak.
Mata kami bertemu. Mata Cintia terbelalak. Untuk sesaat waktu terasa seperti berhenti.
“Aku baik-baik saja, Cintia. Kamu tidak perlu panik. Hehe,” aku cekikikan, memegang perutku.
Pipi Cintia mengembung seperti tupai, dia berjalan menjauhiku. “Sophia jahat!”
“Jangan marah dong,” aku segera berjalan menyusulnya. “Aku tidak bohong kok lagi M. Aku sudah minum jamu kunyit, kau tidak perlu khawatir.”
Cintia berhenti, menoleh ke arahku. “Syukurlah! Ayo kita pergi ke kantin.”
Aku mengangguk, “Aku juga lapar.”
Kami berdua berjalan menyusuri koridor. Cintia menepuk bahuku. “Bagaimana hasil rapatnya?”
“Sempurna,” bibirku tersenyum. “Para investor memuji presentasi Tuan Liem.”
“Bagus. Aku ikut senang,” dia mengusap kucir kudanya.
Aku melirik wajahnya, “Bagaimana denganmu?”
Lengan Cintia terkulai, “Aku lelah. Panggilan terus berdatangan. Orang-orang terus menanyakan tentang Tuan Liem.”
Aku menepuk pundaknya, “Kerja bagus. Tuan Liem memang hebat.”
Cintia menoleh perlahan ke arahku, mulutnya melongo. “Aku tidak tahu, kamu memujiku atau Tuan Liem.”
Aku terkekeh, menutup bibirku.
Kami terus mengobrol sepanjang koridor. Mataku berbinar saat aku mencium aroma kaldu dan wangi. Tanganku memegang perutku yang keroncongan.
Aku menyandarkan tasku di dinding dan duduk di meja bundar bernomer 19. Tanganku membuka jendela kaca. Angin sepoi-sepoi menyapa wajahku, mengibaskan poniku.
“Sophia… kamu mau memesan apa?” Suara Cintia terdengar dari belakang.
Aku menyandarkan punggungku di bantalan kursi logam. “Mie ayam. Aku sudah lama tidak memakannya.”
“Seleramu tidak berubah sejak SMA,” Cintia berdiri di sampingku. “Dulu Mas Bram mentraktir kita di perempatan jalan dekat sekolah saat hujan deras.”
“Kamu rindu Kakakku ya,” aku membusungkan dadaku. “Jangan khawatir! Aku akan menyampaikan salam rindumu.”
“Wanita jahat! Jangan bilang aneh-aneh,” pipinya merona. “Aku pergi dulu.”
“Es teh… jangan lupa,” pesanku.
Cintia melangkah cepat sambil menutup wajah dengan telapak tangannya.
…
Daguku bersandar di tangan yang bersandar di atas meja bundar, mataku menatap jendela. Langit biru sejauh mata memandang. Burung walet menari-nari di bawah awan putih.
Mas Bram… sedang apa ya? Bibirku mengerut. Mungkin dia sedang rebahan di sofa sambil tersenyum bodoh seperti bintang laut merah muda.
Kenapa Kakak berubah? Tiga tahun lalu, kau berhenti bekerja. Apakah kau trauma seperti tebakan Cintia?
Kakak seharusnya bercerita kepadaku. Kemana lagi kamu bisa menemukan adik perempuan perhatian sepertiku?
Aku menghela nafas. Mataku melirik ke depan. Cintia berdiri di depan meja kasir. Rambut kucir kudanya berayun di belakang kepalanya.