Suara gerimis memukul atap seng berbunyi “tik-tik” nyaring. Aroma basah dan tanah menusuk hidungku.
Aku mengibaskan rambut pirangku, tetesan air membasahi teras beton abu-abu.
Sebuah tangan mencengkram bahuku, kepalaku menoleh ke belakang.
“Sophia… kamu sengaja ya?” Seorang pemuda berambut hitam berdiri di belakangku.
Jaket hitamnya basah. Wajahnya basah kuyup. Tangannya memegang stang motor sport berwarna hijau.
Aku berbalik. “Ini bukan salahku. Kalau Mas Bram datang lebih awal, kita tidak akan kehujanan.”
Kakak memarkirkan motornya. “Gadis kecil,” jari-jarinya menjewer telingaku. “Aku bukan avatar lho.”
Aku terkekeh, menepuk rok biru panjangku.
“Mas Bram… apa… aku… benar… boleh… ikut?” suara manis terbata-bata.
Seorang gadis berseragam miripku berdiri memegang tangannya. Pipinya memerah.
“Hei, tak usah terlalu formal. Santai saja,” Kakak tersenyum ramah.
Mas Bram menoleh ke arahku sejenak, lalu melirik Cintia. “Di luar hujan,” kepalanya menggangguk. “Masuk! Kakak akan traktir.”
“Yay,” aku mengangkat tanganku.
“Terima kasih, Mas Bram,” suara Cintia lirih.
Aku memegang tangan sahabatku. “Cintia… ayo kita makan mie ayam sepuasnya sampai Kakak bangkrut.”
Cintia terkekeh ringan, “Sophia energik banget.”
Kami melangkah ke depan. Mataku mendongak saat sebuah papan bertulis “Mie Ayam Pak Mino” bertengger di atas pintu masuk. Aroma kaldu ayam mengoda perutku begitu kakiku menginjak lantai beton kering.
Aku duduk di depan meja kayu cokelat. Punggungku ingin bersandar; sayangnya, kursinya tidak memiliki bantalan.
“Mau pesan apa?” Kakak duduk di depanku, menyerahkan kertas plastik A4 berwarna hijau.
“Sini…” tanganku memegang daftar menu.
Aku sedikit mencondongkan tubuhku ke kanan. “Cintia… kamu mau pesan apa?”
Cintia duduk terdiam sejenak, memegang dagunya. “Mie ayam biasa dan jeruk hangat.”
“Oh,” bibirku mengerut. “Minimalis banget menumu.”
Aku berbisik ke telinganya. “Kalau kamu makan sedikit, nanti Mas Bram kecewa lho. Kakak suka cewek rakus.”
“Eh,” Cintia tersentak. “Aku mau mie ayam jumbo.”
Aku memberikan jempol. “Kerja bagus, Cintia.”
“Jangan ajari Cintia aneh-aneh,” Kakak duduk tegak, bibirnya cemberut.
Aku cekikikan, “Cintia lucu banget sih.”
“Sophia jahat,” Cintia mengembung pipinya seperti tupai.
Sahabatku manis banget. Maaf, Cintia. Kamu masih di bawah umur untuk menjadi saudari iparku. Hehe.
Suara ketukan meja kayu mengelitikku. “Sophia… sudah belum?” suara Kakak tidak sabaran.
“Sebentar,” mataku fokus menatap menu sejenak.
Aku meletakkannya di atas meja. “Mie ayam bakso jumpo dengan toping lengkap dan segelas teh hangat.”
Kakak berdiri. “Aku akan kembali. Tunggu sebentar.”