Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #7

Bab 7: Kakak Chuni!

Suara kayu dibanting bergema saat aku membuka jendela. Udara berembun menghantam wajahku, sensasi dingin menusuk kulitku. Mataku membelalak menyaksikan pemandangan di halaman rumah.

Seorang pria berkaos oblong menendang-nendang guling yang terikat di bawah pohon mangga. Dia berdiri tegak, lalu memukul guling dengan penuh semangat tanpa malu.

Gigiku mengertak, “MAS BRAM!”

Kakak berhenti, menoleh ke arahku. Bibirnya tersenyum bodoh mirip bintang laut merah muda.

“Sophia… kamu sudah bangun. Ayo latihan bersama Kakak,” dia melambaikan ke arahku.

“BERHENTILAH BERBUAT ONAR,” tanganku mengempal. “MALU SAMA TETANGGA!”

Kakak berdiri melongo, jari telunjuknya mengusap pelipisnya. “Kakak hanya ingin melindungimu.”

“Melindungiku?” dahiku mengernyit. “Kakak hanya bermain-main seharian.”

Aku berdiri menunduk. Poni menutupi wajahku.

“Kemarin aku ditertawakan rekan-rekan kantorku karena Kakak berbuat onar di kantin,” bahuku sedikit gemetar.

“Mas Bram… ku mohon. Jangan buat Sophia malu,” tanganku meremas ujung piyama di bawah perutku.

Perut bawahku terasa seperti ditusuk jarum-jarum. Aku sudah minum jamu kunyit. Kenapa siklusnya kambuh lagi? Ini semua gara-gara Kakak idiot terus mengacaukan hidupku.

Kakak berdiri membisu. Rambut hitamnya acak-acakkan. “Sophia… kamu sedang moody?”

“AKU TIDAK MOODY,” suaraku melengking.

Kakak menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya. “Jangan keras-keras! Nanti tetangga terganggu lho.”

“Aku yang seharusnya bilang begitu. Kakak idiot!” bibirku cemberut.

“Mas Bram salah,” Kakak mendekat.

Dia berdiri di dekatku. Mata kami bertatapan. “Kakak tidak bohong… ingin melindungimu.”

“Apa kamu lupa insiden setelah ujian akhir sekolah?” bibirnya melengkung turun.

Bahuku gemetar. Aku memeluk tubuhku.

Pandanganku kabur. Suara pria kasar menghantui pikiranku. “GADIS KECIL… MASUK MOBIL!”

“Tidak, jangan pukul aku. Hic… hic…” Mataku basah, tanganku meremas kepalaku.

“Sophia,” suara lembut bergema di telingaku. Pandanganku kembali jernih.

Kakak berdiri memegang bahuku. “Tenanglah! Kakak di sini,” jarinya menyeka sudut mataku.

“Kakak,” aku mengusap mataku. “Sophia tidak menangis.”

“Ya, Sophia adik kecilku,” Kakak menggangguk. “Sekarang kamu paham… kenapa aku berlatih,’kan?”

Aku mengangguk. “Buktikan!”

“Serahkan kepadaku,” tangannya menepuk dadanya.

Kakak melangkah, lalu berhenti di tengah halaman. Dia melirikku sejenak. “Lihat aku!”

Lihat selengkapnya