Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #8

Bab 8: Sarapan Bersama Kakak

Suara merdu bergema di ruangan berdinding biru pastel saat aku bersenandung di depan kompor gas. Tanganku memegang spatula, membalikkan nasi goreng yang memanas di wajan stainless steel.

Aroma smoky dan harum mengelitik hidungku saat aku menuangkan nasi goreng di permukaan sepasang piring putih.

“Josh… nasi goreng siap,” aku mematikan kompor.

Tanganku menepuk celemek di dadaku. Mas Bram… bersyukurlah! Mana ada adik cantik mau repot bikin sarapan di akhir pekan kecuali aku.

Aku membawa sepasang piring itu. Kakiku melangkah perlahan, meninggalkan menuju ruang makan.

Tanganku meletakkan sepasang piring di permukaan meja bertaplak putih. Aku mengeser kursi, lalu duduk. Suatu denting kaca bergema saat aku memukul piringku dengan sendok. “Mas Bram… sarapan sudah siap!”

“Aku datang,” suaranya nyaring dari ruang tamu.

Kakak melangkah perlahan. Dia tersenyum bodoh seperti bintang laut merah muda.

Tangannya mengusap rambutnya yang basah. Kaos oblongnya memutih terkena sinar pagi.

“Wah. Nasi goreng buat Sophia, hihi,” dia cengegesan, mengambil tempat duduk di depanku.

“Tidak suka?” suaraku meninggi.

“Eh… siapa bilang. Kakak paling suka masakan buatanmu,” Kakak mendekatkan piring di wajahnya.

Hidungnya mengendus nasi goreng seperti kucing mengendus ikan.

“Berhenti!” sendokku memukul piring sampai berdenting. “Makan yang sopan!”

Kakak tersenyum bodoh, meletakkan piringnya di meja. “Kakak suka aroma nasi gorengnya… harum seperti adik kecilku.”

“Kakak bodoh,” dahiku mengernyit. “Berhentilah memperlakukan aku seperti gadis kecil!”

Kakak menguap, “Kakak senang… adik perhatian. Terima kasih.”

“Terserah,” aku memalingkan wajahku.

“Jangan bikin onar,” tanganku menyelipkan rambut pirangku di belakang telinga. “Sekarang sarapan.”

Aku menyendok nasi, mendekatkan ke bibirku.

“Berhenti di situ,” suara Kakak melengking.

Aku mendongak. Kakak merentangkan dua telapak tangannya, membentuk pose doa.

“Doa dulu,” Kakak menggangguk.

Bibirku mengerut. “Sophia patuh.”

Ya Tuhan… semoga Kakakku segera kembali bekerja.

Lihat selengkapnya