Suara riuh air mancur melengking saat aku berhenti melangkah di depan pintu dapur. Seorang pria berambut hitam berdiri di depan wastafel, tangannya menaruh piring basah di kanan meja stainless steel satu per satu.
Kakak cukup tampan kalau dia kalem begini.
Bibirku cemberut saat aku menatap kaos di punggungnya. Mas Bram… kapan kamu mau menganti kaos bolongmu? Kakak harusnya merawat dirinya agar cantik sepertiku.
Aku menghela nafas, melangkah menuju ruang tamu. Langkahku berhenti di keramik putih. Tumpukan pakaian tersusun rapi di atas meja kaca oval di depan TV.
Aku mengambil pakaianku, mendekapnya di dadaku. Aroma wangi mawar semerbak tercium di hidungku. Meskipun Kakak wibu nolep, kamu tahu cara mencuci pakaianku dengan baik.
Kakiku berjalan menuju kamarku. Pintu berderit saat aku menarik ganggang pintu. Aku masuk ke dalam, lalu duduk di tepi tempat tidur. Tanganku meletakkan tumpukan pakaian di atas selimut ranjang.
Aku mengambil sebuah pakaian kemaja putih dan membentangkannya. Tidak ada lipatan kasar, pakaianku benar-benar rapi dan enak dipandang. Telapak tanganku mengusap permukaan kain yang licin.
Kakak… aku memberimu nilai 90 untuk keterampilan menyetrikamu. Cintia pasti akan senang jika dia mengetahui sisi rumah tanggamu.
Mataku menatap langit ruangan. Sinar mentari menerangi ternit putih, memberikan kehangatan bagi ruanganku.
Aku melipat pakaian, menaruhnya di pangkuanku. “Sudah tiga tahun sejak aku bekerja di Liem Corp,” Aku menunduk sejenak. “Tapi Kakak masih menganggur.”
Dadaku mengempis. “Kenapa Kakak mendadak berhenti bekerja? Apakah kamu trauma seperti dugaan Cintia?”
Aku menunduk, memandang kemaja rapi di pangkuanku. Kakak… kamu tahu cara menyenangkanku di sela aktivitas harianmu.
Alisku terangkat. Apakah Kakak menggunakan waktu menganggurnya untuk mencuri perhatianku? Kamu tidak perlu mengorbankan hidupmu untuk melayani adik manis sepertiku.
Aku menutup mataku, membiarkan kenangan menghanyutkanku, tiga tahun lalu…
…
Pintu berderit saat aku memutar ganggang pintu. Kakiku melangkah melambat, lenganku terkulai. “Kakak… aku pulang”.
“Selamat datang kembali, Sophia.” Kakak berdiri di depan TV, membawa ranjang cucian. “Bagaimana pekerjaanmu?”
Tasku diletakkan di lantai. Aku duduk membenamkan punggungku di bantalan sofa.
“Hah… hah,” nafasku sesak. “Menjadi sekretaris tidak mudah.”
Kakak meletakkan ranjang cucian di permukaan lantai, lalu menepuk bahuku. “Kalau kamu mau, kamu bisa berhenti bekerja—”
“Jangan katakan hal bodoh,” mataku melotot.
“Kakak mendadak berhenti bekerja seminggu lalu… tanpa meminta pendapaku,” nadaku meninggi. “Jika aku berhenti kerja, bagaimana hidup kita?”
Kakak tersenyum bodoh, “Kakak cuma bercanda. Hihi…”
“Jangan bicara omong kosong,” gigiku menggertak. “Aku lelah.”
Mas Bram mengangkat dua telapak tangannya. “Aku salah, dek. Maaf.”
“Jangan diulangi lagi,” pipi cemberut.
Aku mengambil segelas jus jeruk di atas meja, dan meneguknya. Bunyi gelas berdentik saat aku menaruh kembali.