Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #10

Bab 10: Perjalanan ke Chicken Kitchen

Aroma parfum mawar tercium di ruangan. Suara merdu berirama saat aku bersenandung di depan meja rias. Sebuah listik mengores bibirku perlahan, membuat bibirku semakin merona.

Tanganku menyisir di belakang kepalaku, menata rambut, lalu menyelipkan jepit rambut kupu-kupi di sanggulku.

Mataku berbinar menatap cermin oval. Seorang wanita bermata biru berambut pirang tersenyum manis di permukaan kaca. Perpaduan blus satin biru dan rok midi hitam menciptakan kontras elegan, memancarkan aura keanggunan bak bidadari. Siapa wanita cantik itu? Itu aku.

“Makan malam bersama Bos… promosi jabatan,” aku menepuk pipiku. “Ini bukan mimpi… hasil kerja keras 3 tahunku terbayar. Hehe.”

Aku mengambil tas selempang abu-abu di atas meja rias dan menggantungnya di lengan sikuku. Kakiku melangkah menuju pintu kamar.

Pintu berderit, aku keluar, dan menutup pintu. Aku berdiri, mataku membelalak saat aku menoleh ke kanan ruangan tamu.

Seorang pria berbaju hijau ketat berjalan santai di depan TV. Rambut hitamnya mengkilap saat dia tersenyum lebar ke arahku seperti sensei Konohu. “Sophia… mau kemana?”

“Aku seharusnya bertanya begitu,” aku menggigit bibirku. “Apa Kakak lupa… hari ini aku akan makan malam bersama Direktur Liem?”

“Oh… benar. Ini hari Selasa,” Kakak memberiku jempol, giginya putih bersinar. “Hati-hati di jalan. Jangan pulang larut malam. Mengerti?”

Aku mengangguk. “Aku mengerti, mas—” Kepalaku menggeleng. “Bukan itu masalahnya. Kenapa Kakak berpakaian aneh di malam hari?”

Kakak mengusap leher belakangnya, matanya melirik pakaiannya. “Apakah ini aneh?”

“Kakak bodoh!” suaraku meninggi. “Kamu seperti wibu konyol. Jangan bilang Kakak mau bertemu dengan komunitas Wibu untuk cosplay di bawah tugu Pahlawan?”

“100. Adik memang paling mengerti Kakak. Hihi,” Kakak membusungkan dadanya.

Mulutku melebar. ”Aku tidak peduli Kakak mau pergi ke mana. Pokoknya jangan ganggu hari baikku. Aku pamit.” Aku membelakangi Kakakku, berjalan menjauh.

Kakiku melangkah di teras rumah. Aku berbelok ke kanan, berhenti di depan pintu garasi. Tanganku menyentuh ganggang garasi—

“Biar Kakak saja,” sebuah tangan kasar menyentuh punggung tanganku.

“Kenapa Kakak di sini?” Mataku melotot.

“Eh… Kakak juga mau keluar malam,” suara logam berdenting bergema saat tangannya menarik pintu garansi.

Lihat selengkapnya