Sepatu hakku berketuk saat aku menginjakkan kaki di jalan beton. Aku menghentikan motorku di depan restoran Chicken Kitchen. Tanganku memutar spion ke arahku, menampakkan wanita cantik tersenyum manis memakai blus satin. Itu aku, Sophia sekretaris Liem Corp.
Aku mengibaskan rambutku saat helm dilepas. Hidungku menarik nafas dalam sampai udara memenuhi paru-paruku. Malam di Surabaya terasa segar seperti promosi jabatanku malam ini.
Aku berdiri, memarkirkan motor matic di depan gedung. Kakiku melangkah tiga langkah—
“Mbak… tiket parkir,” suara pria bergema dari belakangku.
Aku menghentikan langkahku, refleks menoleh ke belakang. Seorang pria berseragam jingga tersentak, mundur ke belakang saat mataku bertemu tatapannya. “Bule…” suaranya terbata-bata.
Dahiku mengernyit, “Bang… saya bukan bule. Aku arek Surabaya.”
“Arek Surabaya,” jarinya menunjukku. “Sampeyan?”
Aku menyilangkan lengan di dadaku. “Percaya atau tidak percaya… aku tidak mau terus ditanyai.”
“Maaf. Aku kasar,” dia mengelus belakang lehernya. “Hanya saja penampilan mbak cantik banget sih kayak bule amrik.”
Aku berdiri membisu sejenak. Abang parkir… jangan mengombal di depan wanita asing! Satu lagi, aku blasteran Indo-Belanda, bukan bule amrik.
“Ini… mbak,” dia menyerahkan tiket parkir kepadaku.
Mataku menatap tiket parkir bernomer 99 di telapak tanganku. Aku memegang daguku saat mataku menyipit, menatap seragam pria itu.
“Aku tukang parkir resmi, mbak,” pria itu mundur selangkah.
“Tolong jaga motorku baik-baik, bang,” nafasku berhembus. “Aku tidak ingin motor menghilang saat makan malam.”
“Tenang, mbak. Motormu aman di tanganku,” dia menepuk dadanya.
Kepalaku menggangguk ringan. “Aku serahkan kepadamu, bang.”
Aku melanjutkan berjalan menuju pintu depan restoran. Langkahku berhenti sejenak ketika aku melihat sebuah mobil sedan series merah di parkir di samping air mancur.
Tanganku mengusap dadaku. Mobilnya berkilau di bawah cahaya lampu taman, elagan seperti Tuan Liem.
Langkah kakiku dipercepat. “Tuan Liem… tunggu aku…” gumamku.
…
Seekor boneka ayam jantan berbulu putih setinggi orang dewasa berdiri di samping pintu masuk. Tangannya melambai ke arahku saat aku melangkah masuk.
Sepatu hakku menginjak lantai marmer putih, aku berhenti saat seorang pelayan pria berkemaja putih mengangguk.
“Selamat malam, Nona,” dia menunduk ke arahku. “Jika Anda ingin memesan meja, maaf pesanan kami penuh hari ini.”
Aku menggeleng. “Tidak, Kak. Aku punya janji makan malam di sini. Tuan Liem menungguku.”
“Tuan Liem…” pria itu menegakkan tubuhnya. “Anda Nona Sophia, ‘kan? Biar saya antar, Nona.”
“Terima kasih, Kak,” bibirku tersenyum ramah.
Aku berjalan di samping pelayan muda itu. Mataku melirik ke kanan. Meja-meja berbaris rapi di sepanjang dinding emas. Setiap meja ditempati sepasang suami istri dan anak-anak. Mereka menyantap steak dan sea food dengan lahap.
Aku menoleh ke kiri. Meja-meja juga telah ditempati bapak berkemaja putih dan ibu berblus satin.
“Kak… hari ini ramai sekali,” aku menyelipkan rambut pirang ke belakang telingaku.
“Hari ini… kami kebanjiran pesanan. Kerabat dan rekan-rekan Tuan Liem memesan tempat kami,” jawabnya sopan.
“Oh… apa ada acara besar?”
“Aku tidak tahu,” dia menggeleng. “Katanya Tuan Liem mau mengenalkan seseorang penting.”
Aku berhenti sejenak, bahuku sedikit bergetar. Seseorang penting… siapa? Tuan Liem ‘kan memiliki rencana makan malam denganku.
Nafasku tertahan, aku menelan ludahku. Jangan bilang… Tuan Liem mau mengenalkan tunangannya setelah menyelesaikan acara makan malam denganku?!
“Nona… ada apa?” pelayan menatapku.
Bibirku tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Kak.”
“Bilang saja jika Anda memiliki sesuatu yang tertinggal,” dia mengangguk perlahan. “Mari!”
“Baik, Kak,” kakiku kembali berjalan mengikuti pelayan itu.
Aku mendongak. Sebuah lampu gantung bersinar di langit ruangan. Entah kenapa sinarnya terasa redup di pupil mataku.
Telapak tanganku menyentuh dadaku. Detak jantungku berdebar, nafasku terasa sesak. Kira-kira siapa tunangan Tuan Liem? Dia pasti perempuan paling beruntung.
…
Aku melangkah ke lantai lift. Pelayan itu menekan tombol 9. Dia berdiri memegang pergelangan tangannya. Aku memegang gantungan tas selempang, menunggu lift mengantar kami ke tujuan.
Lift berdering, pintu bergeser. Aku melangkah mengikuti pelayan itu. Aroma anggur dan umami menusuk hidungku saat aku melangkah di lantai marmer abu-abu.
Mataku melirik ke depan. Belasan pria berjas hitam dan wanita bergaun merah di depan meja bundar. Suara denting bergema di telingaku saat aku melewati sepasang pria dan wanita bersulang sambil tertawa.
Aku mengusap hidungku. Kakak… akan marah jika aku meminum wine. Jangan khawatir, Mas Bram. Sophia gadis baik.
“Nona… kita tiba,” pelayan itu berhenti di tengah ruangan, lalu mengulurkan telapak tangannya ke arah selatan. “Tuan Liem di sana.”
Aku tersenyum. “Terima kasih, Kak.”
“Sama-sama, Nona,” dia memberi hormat. “Nikmati makan malammu. Saya pamit.”
Dia berjalan perlahan melewatiku. Aku berdiri membisu sejenak, menatap ujung ruangan. Tuan Liem duduk tenang sambil memegang sebuah buku.
Tuan Liem terlihat tampan dari sini. Aku menegakkan badanku. Ayo Sophia. Selangkah lagi… aku bakal dipromosikan. Kakak… tolong doakan adik perempuan manis ini. Semua ini demi masa depan keluarga kita.
Aku melangkah perlahan menuju masa depanku. Langkahku berhenti di depan meja bundar. “Tuan Liem… maaf… membuatmu menunggu,” suaraku sedikit terbata-bata.
Aduh! Kenapa aku grogi saat begini? Bertahanlah Sophia!
“Sophia… kamu tidak terlambat,” Tuan Liem menutup bukunya. “Silahkan.”
“Terima kasih, Tuan,” aku mengambil duduk di depannya.
Tuan Liem menyerahkan menu kepadaku. “Pilihlah makanan yang kau suka.”
“Tunggu sebentar, Tuan,” aku menggangguk.