Suara manis bergema di ruangan berdinding putih saat aku bersenandung sambil duduk di depan layar laptop. Jariku mengetik dengan lincah. Mataku sesekali menoleh ke kanan, membaca coretan di atas kertas putih.
Punggungku bersandar di bantalan kursi staff, menyeka keringat di dahiku. Akhirnya laporan kegiatan operasional perusahaan selesai.
Aku menatap langit ruangan yang terang seperti masa depanku. Dua hari sudah berlalu semenjak, Tuan Liem mempromosikanku sebagai sekretaris senior.
Makan malam itu… aku datang tepat waktu dan tampil elegan. Tuan Liem bahkan memuji dedikasiku.
Jabatan baru, gaji meningkat, wajah cantik… sempurna.
Jariku menyelipkan rambut pirang ke belakang telingaku. “Wanita karir menawan…” gumamku.
Aku memutar kursi staff ke kiri ke kanan. Kemarin, Tuan Liem berniat mengenalkan orang penting setelah makan malam denganku. Kenapa Tuan Liem membatalkannya?
Tanganku meremas kerah bajuku, dadaku terasa sesak. Apa mungkin karena Mas Bram mengacaukan acara makan malamku?
Hidungku menghembuskan nafas. Kakak idiot… berhentilah mengacaukan hidupku.
Terkadang aku tidak paham… kenapa Kakak selalu muncul di saat tak terduga?
Kursiku berhenti bergerak, tanganku memegang daguku. Jangan katakan Mas Bram mengikutiku setiap saat.
Kakak… apakah kamu sudah menjadi stalker? Aku memang cantik, tapi kamu tidak perlu bersembunyi hanya untuk melihatku.
Aku memutar kursiku ke belakang, mataku mengamati sekeliling ruangan. “Kakak… kamu di sana?”
Sunyi, tidak ada jawaban, tidak ada orang lain kecuali aku. Hanya ada tumpukan dokumen di atas meja kayu dan buku-buku tersusun rapi dalam lemari kaca di sudut ruangan sejauh pandanganku.
Aku kembali duduk, menatap layar laptopku. Tanganku memegang kepalaku.
Sebuah bayangan pria wibu nolep tertawa bodoh di depan TV seperti bintang laut merah muda terbesit di pikiranku.
Dahiku mengernyit, kepalaku menggeleng. “Kakak idiot… tidak mungkin mengawasiku diam-diam. Semua kejadian itu pasti kebetulan,” suaraku lirih.
Jariku menyentuh touchpad, kursor mengarah ke tombol cetak. Aku mencetak laporan.
Suara printer berderu saat tumpukan kertas ditarik perlahan ke mesin cetak, satu per satu kertas bertulis hitam keluar dari mesin cetak, membentuk tumpukan rapi.
Aku menyilangkan kakiku, menunggu printer menyelesaikan tugasnya. Punggungku bersandar nyaman di bantalan kursi. Setelah lelah bekerja, nanti aku akan makan mie ayam—
Suara ketukan kayu bergema dari belakangku, aku refleks menoleh ke belakang. “Masuk… pintu tidak dikunci.”
Pintu berderit, menampakkan pria berjas hitam tersenyum kepadaku. Rambut hitamnya mengkilap saat dia mendekatiku.
Aku berdiri dan mengangguk. “Tuan Liem…”
Tuan Liem berjalan perlahan sambil merentangkan telapak tangannya. “Tidak perlu terlalu formal, Nona.”
“Bagaimana laporannya?” dia berdiri di depanku.
“Aku baru mencetaknya,” kepalaku menoleh ke printer sejenak. “Tunggu sebentar, Tuan.”
Tuan Liem berdiri bersedekap. “Santai saja. Aku tidak terburu-buru.”
Mata hitamnya bertemu pandanganku. “Bagaimana jabatan barumu?”
“Aku mulai terbiasa, Tuan,” aku tersenyum ramah. “Saya berterima kasih… Anda telah mempromosikanku.”
Tuan Liem tersenyum hangat. “Bagus. Aku senang, Nona segera beradaptasi.”