Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #14

Bab 14: Cintia, Sahabat Selamanya!

Sinar putih menembus kaca helm saat aku menaiki motor maticku. Hidungku menghirup udara yang segar. Lampu merah, jalan ramai sesak, motor dan mobil saling mendahului seperti berebut sembako.

Motorku melaju tertib di jalan beraspal menjadi rutinitas pagiku. Hari telah berganti semenjak Mas Bram memberikanku penganti jepit rambut kupu-kupu.

Tanganku meremas kemudi motor. Kakak idiot… kamu seharusnya bilang menyimpan puluhan jepit rambut cadangan. Air mata bidadari ini jadi mubasir.

Dadaku terasa sesak saat aku memikirkan kemarin. Aku bahkan meninggalkan Cintia tanpa sepatah kata. Aku tidak tahu harus berkata apa. Itu semua gara-gara Kakak menyembunyikan jepit rambutku.

Motorku belok ke kiri jalan saat gedung pencakar langit berelief “Liem Group” menyambutku di pinggir jalan. Pohon palem berbaris, bergerak mundur saat roda motor melaju di jalanan batu yang tersusun rapi. Sebuah bangunan terbuka beratap seng perak berdiri sudut halaman.

Aku memarkir motorku di utara. Helm dilepas, rambut ditata rapi menjadi sanggul. Jariku menyelipkan jepit rambut kupu-kupu.

Tanganku memutar spion, memperlihatkan seorang wanita cantik berambut pirang. Itu aku.

“Josh… waktunya bekerja,” sepatu hakku menghentakkan lantai beton.

Aku berjalan menuju selatan gedung parkir. Langkahku terhenti, mataku terbelalak menatap seorang wanita berambut kucir kuda berdiri membelakangiku.

“Cintia…” suaraku lirih.

Wanita resepsionis itu menoleh ke arahku, lalu dia segera melangkah cepat ke arahku.

“Sophia… maafkan aku,” Cintia menunduk, dua telapak tangannya bertumpu di kemaja putihnya.

Dia menatapku, bibirnya melengkung ke bawah. “Aku… tidak… bermaksud merusak… hadiah Kakakmu,” suaranya bergetar. “Kita… masih bersahabat, ‘kan?”

Aku berdiri membeku sejenak. Sophia… apa yang telah kau lakukan? Aku mungkin sudah berlebihan. Menyebabkan gadis semanis ini merasa bersalah menodai citra sempurnaku.

Kakiku melangkah dua tapak, aku memeluknya. “Maaf, Cintia,” tanganku menepuk punggungnya. ”Aku khilaf.”

Dagu Cintia bersandar di bahuku. “Sophia… aku juga salah. Aku tidak ingin persahabatan kita retak karena kecerobahanku. Maafkan aku—" tangannya mengeratkan pelukan.

Kami berpelukan sejenak di bawah atap seng perak. Mentari menyapa kami, sinar terasa lebih hangat seperti persahabatan kami.

Aku melepaskan pelukanku. “Aku sudah lebih baik.”

“Bagaimana dengan jepit rambutmu?” Cintia berdiri memegang dua telapak tangannya di dadanya. “Aku akan berusaha memperbaikinya.”

Aku menggeleng. “Tidak perlu.”

“Bukankah itu hadiah berharga dari Kakakku?” suaranya lirih.

Bibirku tersenyum manis. “Benar,” tanganku melepaskan jepit rambut di sanggulku. “Ini… hadiah dari Kakakku.”

“Tunggu sebentar,” aku membuka saku di tas punggungku.

Aku mengeluarkan sebuah kado berpita merah muda. “Untukmu…”

Cintia tersentak, mundur satu langkah. “Untukku?”

Aku mengangguk, menyerahkan hadiah itu. “Terimalah.”

Cintia menggeleng. “Aku tidak pantas menerimanya.” Dia terlihat menelan ludahnya. “Aku seharusnya memberimu hadiah setelah insiden kemarin.”

Aku menarik telapak tangannya, memaksa Cintia menerimanya. “Apa kamu serius tidak ingin menerimanya?” Bibirku mendekat ke telinganya. “Ini hadiah spesial dari Kakakku lho.”

Lihat selengkapnya