Motorku berhenti berderu saat sepatu hakku menghentak di jalan beton. Tanganku membuka kaca helmku, sinar lampu menerangiku. Aku menuntun motorku perlahan menuju halaman rumahku dan berhenti di depan garasi rumah.
Suara logam berdenting saat aku menarik pintu garasi. Aku memarkirkan motor maticku di dekat tembok. Mataku melirik ke kanan.
Sebuah motor sport hijau terparkir di samping motorku. Debu dan lompor mengotoriku body motornya. Kakak… lagi-lagi kamu malas, tidak mau mencuci motormu.
Aku menghela nafas. Kakiku melangkah meninggalkan garasi. Aku menutup kembali pintunya, lalu melangkah ke pintu depan rumah.
Lenganku terkulai saat aku menginjak lantai keramik. “Aku pulang–“
“Pemirsa… seorang gadis kecil nyaris diculik di depan kantor polisi. Beruntung seorang pedagang martabak menggagalkan aksi penculikkan,” suara TV bervolume tinggi berdengung di telingaku.
“GENDENG REK?! APARAT KEHILANGAN MARWAH!” teriak Mas Bram.
Seorang wibu berkaos bolong berdiri di depan layar LCD TV. Matanya melotot seperti Tuan Kacang.
Mulutku melebar saat mendengar Kakak mengumpat berapi-api. Plastik oleh-oleh berhenti berayun di tanganku.
“Pemirsa… aksi heroik dilakukan seorang penjual martabak,” suara reporter wanita dari TV. “Seorang pria paruh baya berhasil menggagalkan aksi penculikan di depan kantor polisi. Para aparat tiba di TKP terkejut ketika menyaksikan seorang pria berjas hitam babak belur dihajar penjual martabak.”
“Aparat sempat salah mengira Pak Arjo melakukan tindakan kekerasan. Namun seorang gadis kecil memeluk kakinya, gemetar ketakutan. Setelah diselidiki lebih lanjut ternyata bapak tersebut berhasil menggagalkan aksi penculikan–”
“APA YANG DILAKUKAN APARAT SIH?” Gigi Kakak mengertak seperti raksasa yang berdiri di bawah tembok umat manusia. “MUKA GILA! SEORANG PENCULIK BEROPERASI DI DEPAN MUKAMU… AWAKMU ORA AWARE?!”
“PENCULIK SETAN… KALAU AKU LIHAT BATANG HIDUNGMU, AKU AKAN MENJADIKANMU BERGEDEL GEPREK!” Kakak mengangkat kakinya di udara. “KEMARI… AKU TENDANG MUKAMU PAKAI JURUSKU… KONOHU GOURIKI–”
“Mas Bram,” aku menyela. “…kamu sedang apa?”
Kakak menoleh ke arahku. “Selamat datang kembali, dek,” bibirnya tersenyum bodoh. “Kemarilah… ayo nonton TV bersamaku.”
Kakiku melangkah mendekatinya perlahan, aku berdiri sampingnya sambil menyerahkan kantong kresek. “Untukmu.”
“Untukku?” Kakak menerimanya. “Apa ini, dek?”
“Martabak… makanlah sendiri,” aku melangkah membelakanginya. “Aku lelah.”
“Oh… terima kasih,” suaranya terdengar antusias. “Kakak senang Sophia perhatian.”
Pintu berderit, aku membuka pintu kamarku. Tanganku meletakkan tasku di bawah meja rias, punggungku berbaring di ranjang.
Nyaman sekali… hari ini jadwal kantorku padat seperti biasanya. Tuan Liem mempesona seperti biasanya, Cintia malu-malu kucing saat membicarakan Kakak.
“Rutinitas sempurnaku,” suaraku lirih.
“APARAT GENDENG… PENCULIK JAHANAM!” suara Kakak bergema.
Dahiku mengeryit, “Andai Kakakku sedikit lebih waras.”
Kakak selalu bersikap paranoid ketika mendengar berita penculikan.
Dadaku mengempis. Yah, kali ini, aku paham kenapa Kakak bertingkah begini. Aku tidak akan mengomentari kelakukan chunimu.
Mataku kabur, pikiranku melayang.
Kepalaku menggeleng, aku berdiri tegak. “Tidak, aku harus mandi dulu,” tanganku mengusap dahiku. “Seorang wanita muda harus peduli sama kebersihan.”