Suara bel berdenting, aku duduk tegak di kursi kayu. Lenganku bersedekap di atas meja saat wanita muda berjilbab berdiri di depan kelas.
“Anak-anak,” Bu Guru menepuk tangannya, kelas menjadi sunyi. “…sebelum ujian dimulai. Mari kita berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing. Berdoa mulai!”
Aku menunduk, berdoa dalam batinku. Ya Tuhan… berilah kesehatan untuk Kakakku supaya dia bisa terus bekerja untuk masa depan kami.
“Aamiin,” Bu Guru mengusap wajahnya. “Sekarang Ibu akan menjelaskan tata ujian…”
Pipiku cemberut. Bu Guru… sudah menjelaskan aturan ujian sejak hari pertama berulang kali. Tolong percepat!
“Kerjakan soal yang mudah dulu… kerjakan semampu kalian! Ingat jangan mencontek,” suara Bu Guru tegas.
Aku paham, Bu. Sophia gadis baik dan patuh. Aku tidak akan merendahkan diriku dengan perilaku tak terpuji.
Tanganku mengusap dadaku. Aku siswi telandan–
“Kamu di sana… turunkan tanganmu,” Bu Guru menunjuk ke arahku.
“Eh… aku?” Suaraku melengking.
Bu Guru menggeleng. “Bukan kamu… Sophia. Teman di belakangmu!”
Aku menoleh ke belakang. Seorang siswa duduk membeku, memegang saku bajunya. Kepala pelontosnya berkilau saat dia menunduk, menatap sakunya.
“Bu… aku tidak pernah mencontek,” dia merentangkan telapak tangannya.
Bu Guru melangkah cepat, mendekatiku. Aroma melati tercium saat dia melewatiku.
“Jangan bohong!” tangannya memukul meja. “Azis… ibu sudah menasehatimu berulang kali. Kerjakan sendiri. Keluarkan kertas di sakumu!”
“Maaf, bu,” suara Azis merendah.
Bu Guru kembali berjalan ke depan kelas. Tangannya melumat kertas contekan seperti tisu toilet.
“Anak-anak… kerjakan ujian kalian dengan jujur,” Bu Guru berdiri tegak di depan kelas. “Contohlah Sophia! Dia siswi yang baik dan jujur! Kalau kalian giat belajar sejak awal, Kalian bisa lebih tenang, menikmati ujian.”
Bibirku melengkung ke atas. Ibu Guru benar, aku siswi teladan. Teman-teman… kalian harus belajar dariku.
“Baiklah. Ibu akan berhenti mengomel,” Bu Guru memegang amplop cokelat. “Persiapkan alat tulis! Aku akan memberikan lembar soal dan jawaban.”
Aku memegang pensil 2B dan memutarnya. Kepalaku menoleh ke kanan depan.
Ibu Guru menyerahkan soal dan jawaban kepada siswi berambut kucir kuda. Cintia duduk memegang soal. Dia tersentak, punggungnya membentur bantalan kursi. Apakah sesulit itu? Cintia… tatakae!
Daguku bersandar di telapak tanganku. Aku menatap ke depan. Sebuah papan persegi panjang putih bersih, sebersih kulitku.
“Sophia…” Bu Guru menyerahkan lembar soal dan jawaban. “Kerjakan dengan sungguh-sungguh.”
“Baik, bu,” aku menerima tiga lembaran soal, jawaban dan coretan. “Aku akan membuat Kakak bangga.”
Ibu Guru tersenyum ramah. “Bagaimana kabar, Kakakmu?”
“Mas Bram baik, bu,” aku mengangguk. “Dia berjanji akan mengajakku berkeliling Surabaya setelah ujian.”
Pipi Bu Guru mengembung. “Aneh. Dia tidak membalas WA-ku,” tangannya memegang dagunya. “Padahal aku ingin membicarakan masa depan kita… maksudku masa depanmu.”
“Aku titip salam untuk Kakakmu ya,” Bu Guru berjalan melewatiku.
Aku melirik ke belakang sekilas. Pakaian cokelat terang khas PNS menghiasi punggungnya. Bu Guru… apa yang ingin kau bicarakan?
Aku duduk tegak. Mataku menyipit menatap lembar soal.
Empat puluh soal: aljabar, trigonometri, geometri, koordinat, kuadrat, bangun ruang, matrik, peluang, integral, baris dan deret … klise!
Kalian terlalu melebih-lebihkan. Kakak sudah berulangkali mengajariku sampai telingaku sakit.
Aku merentangkan telapak tanganku ke depan sampai berbunyi “krek”. Ototku lemas, jariku memegang pensil. Waktunya bekerja!
…
Gores… hapus… hitung… koreksi…. pensil diletakkan di meja. Tanganku mengusap pelipisku.
Bibirku tersenyum menatap lembar jawabanku. Sempurna! Kakak pasti bangga. Hehe.
Aku berdiri, mengeser kursi ke belakang, melangkah menuju depan kelas. Sepanjang perjalanan, teman-teman melirikku, bahu mereka merosot. Mereka berbisik. “Sophia… dewi kelas–”
“DIAM!” Bu Guru berteriak.
Aku berdiri di samping meja wali. Bu Guru duduk manis.
“Kamu yakin… sudah memeriksa jawabanmu?” bibirnya tersenyum tipis. “Waktunya masih sisa 1 jam lagi lho.”
“Aku yakin, Bu,” aku menyerahkan lembar jawaban.
Bu Guru menerimanya, matanya berputar-putar menatap lembar jawabanku.
“Bagus. Ibu mempercayaimu,” dia meletakkan kertas jawabanku di meja wali. “Sophia sudah seperti adikku. Kamu bisa meninggalkan ruangan.”
“Terima kasih, bu,” aku berdiri tegak, menyelipkan rambut ke belakang telingaku.
“Satu lagi…” Bu Guru duduk terdiam sejenak.
“Ada apa, Bu?” Aku memiringkan kepalaku.
“Tolong suruh Kakakmu… membuka pesan WA-ku,” pipinya merona.
“Baik, bu.” Aku berjalan perlahan, meninggalkan ruangan.
Aku berhenti sejenak di ambang pintu, lalu melirik ke ruangan.
Di kanan depan ruangan, Cintia duduk sambil mengusap ramburnya. Kucir kudanya berayun ke kanan ke kiri… imut sekali.
Aku melirik ke kiri belakang ruangan, mataku bertemu dengan tatapan siswa berambut acak-acakan. Mickael menunjuk ke pintu, lalu dua telapak tangannya membentuk pose berdoa.
Aku menyentuh kepalaku. Apa yang kau bicarakan? Apa kamu ingin aku mendoakan kelancaran ujianmu?
“Mickael…” suara Bu Gu meninggi.