Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #18

Bab 18: Malam Santai

Suara feminim merdu terpancar dari LCD 52 inchi saat aku duduk manis di sofa. Tanganku mengikat rambutku menjadi kucir kuda, lalu menyelipkan jepit rambut kupu-kupu. Aku mengambil smartphone di meja kaca, lalu menekan tombol kamera depan.

Seorang wanita berpiyama putih muncul di layar ponsel. Mata birunya sejernih langit biru. Pupilnya menyimpan luka sedalam samudera.

Rambut pirangnya seanggun bangsawan eropa. Hidungnya mancung seperti Kakaknya yang dulu keren. Itu diriku, Sophia van Java. Adik perempuan terbaik dari Kakak wibu konyol.

Seminggu berlalu sejak Kakak bau memelukku. Kepalaku menggeleng, aku tidak ingin mengingat insiden penculik–

“Pemirsa… Dubes Belanda mendukung Timnas lolos pildun,” ucap reporter TV. “Beliau berharap Belanda bisa melawan Indonesia…”

Alisku melengkung, jariku menekan tombol berikutnya. Aku menatap pintu tamu yang setengah terbuka.

Untunglah, Kakak tidak di sini. Dia sangat antusias membicarakan timnas setelah diperkuat pemain keturunan. Kakak sesumbar mengajakku nobar timnas di US.

Bibirku cemberut. Kakak nolep… sebelum mengajak gadis cantik ini nobar, kamu butuh uang. Kembalilah bekerja!

Aku menatap layar ponselku, waktu menunjukkan 21.00.

Dadaku mengempis. Kakak idiot… cepatlah pulang! Apa menariknya berkumpul bersama wibu di bawah Tugu Pahlawan?

Ponselku bergetar, jariku menyentuh notifikasi WA. Mataku terbelalak saat membaca pesan, “Kakak ada urusan penting. Kamu tidur saja dulu! Jangan menungguku.”

Pipiku mengembung. Kakak bodoh… siapa yang sudi menunggumu? Bermainlah sepuasnya bersama wibu konyol. Sophia tidak peduli.

Jariku menyentuh layar touchscreen. Sebuah ikon merah muda bercampur jingga berkedip-kedip. Sedetik kemudian… foto-foto cantik menghiasi layar ponselku.

Bibirku melengkung ke atas ketika melihat seorang gadis manis mengenakan mukena memeluk seorang pria berbaju putih. Mereka berdua tersenyum menatapku. Aku melirik ke caption dan kolom komentar.

Cintia.Melati “Papa… Cintia sayang kamu.”

Disukai Mighy.Bram dan 99 lainnya. 16 jam yang lalu.

“Papa juga sayang Cintia.” – Supriyono.Dono.Kasino.1968

“Terima kasih telah telah berteman dengan malaikat kecilku.” – Mighty.Bram

“Love” – Cintia.Melati

“Cintia manis!” – Mickael.Bukan.Heart

(Komentar dibatasi)

Jariku menekan tombol like. Cintia… aku bangga padamu. Kamu memiliki hubungan baik dengan orang tuamu.

Dahiku mengeryit. Kakak idiot… Cintia sudah memberikan kode keras kenapa kamu buta?

Nafas berhembus dari mulutku. Kenapa Kakak tidak peka? Jangan biarkan Cintia mengajakmu berbicara empat mata di bawah pohon beringin hanya untuk mengungkapkan–

“Pemirsa… kasus malpraktik kembali terjadi. Seorang ibu muda menuntut keadilan anaknya setelah dibawa ke klinik…”

Aku tersentak, punggungku membentur di bantalan sofa. Kenapa suasananya berubah serius? Tuan TV… tolong jangan menganggu batinku.

Jariku menekan tombol berikutnya. Layar TV segera menampilkan pertandingan liga Jerman.

Remot hitam diletakkan di atas meja kaca. Aku tidak menyukai sepakbola, tapi setidaknya lebih baik daripada berita melodramatis.

Tunggu dulu! Nafasku tertahan. Seorang pria berkostum putih bernomer 4 mengambil ancang-ancang di kotak 16. Pluit dibunyikan. Lenganku terangkat setinggi langit.

Hebat! Pemain Indonesia berhasil mencetak gol. Kakak… pasti senang mendengar kabar ini. Hehe.

Jariku kembali mengulirkan layar IGX. Silahkan lanjutkan pertandingan tanpa Nona cantik ini.

Mataku menyipit menatap foto trio wibu yang berpose di bawah Tugu Pahlawan.

Seorang pria dewasa berdiri, memberi jempol. Dia tersenyum bodoh mirip sensei Konohu berbaju hijau ketat.

Di samping kanan dan kirinya, seorang remaja bertopeng jingga berdiri menyilangkan lengannya; spesies lainnya berdiri memegang pergelangan tangannya seakan sedang bersiap melancarkan serangan petir.

Lihat selengkapnya