Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #19

Bab 19: Kakakku Sungguh Bersahaja!

Suara jarum jam berdentak di dinding di atas jendela. Jarum pendeknya menunjuk angka 7. Jarum panjangnya menunjuk angka 6.

Sebuah bayangan seorang wanita berambut pirang mengoreskan lipstick di bibirnya memantul di permukaan kaca oval di meja rias. Blus satin putih kontras dengan rok midin hitam menciptakan kesan elagan. Wanita cantik itu tiada lain adalah aku.

Tanganku menata rambutku belakangku menjadi sanggul, mengikatnya dan menyelipkan jepit rambut kupu-kupu. Aroma mawar semerbak tercium saat aku menyemprotkan parfum ke tubuhku. “Josh… sempurna!”

Tanganku mengambil tas selempang di ranjang dan menyampirkannya ke lenganku. Pintu berderit saat aku memutar ganggang pintu.

Bibirku tersenyum, “Proyek pembebasan wibu… aku datang,” bisikku. “Mas Bram bersiaplah!”

Mataku terbelalak, gigiku mengertak. “Kakak… kenapa kau berpenampilan seperti itu?”

Seorang pria berkaos oblong berdiri di lantai keramik putih, membelakangiku. Kedua tangannya bertumpu di belakang lehernya. Ujung celana hitamnya menyentuh mata kakinya. Dia berbalik, menatapku. “Sophia… sudah selesai? Kakak sudah menunggumu lho.”

Aku melangkah ke samping Kakakku. “Pakaian apa ini?” Jariku menarik lengan kaosnya. “Kita mau jalan-jalan lho?”

Kakak menatap ke kaosnya, lalu melirikku. “Ini… pakaian mode tamasya,” tangannya mengempal. “Kakak siap mengawalmu!”

Telapak tanganku menepuk jidatku. “Kakak… jangan membuatku malu! Berpakaianlah yang rapi, sopan, elegan!”

Kakak mengusap belakang lehernya. “Sophia… Kakakmu sudah berpakaian rapi lho,” jarinya menunjuk dirinya. “Lihat! Kaosku tidak berlubang.”

Kakak idiot… stanar penampilan terlalu sepele!

“Ikut aku!” aku menarik tangan Kakak, melangkah ke pintu kamarnya. “Sophia akan mengajarimu tata cara berpakaian yang baik dan benar!”

Aku memutar ganggang pintu dan mendorong pintu kamarnya. Pupilku membesar, ruangan remang-remang menyambutku. Kakiku melangkah ke dalam ruangan, jariku menekan tombol lampu di dindingnya.

Mulutku melebar, aku menelan ludahku. “Sarang… monster hijau?”

Ruangan Kakak dihiasi segala pernah-pernik wibu sepanjang pandanganku. Sebuah foto sensei berbaju hijau ketat terpajang di dinding hijau.

Mataku melirik ke bawah foto itu. Kaos oblong, kaos olahraga, kostum sensei Konohu, celana panjang hijau ketat berserakan di ranjangnya.

Aku melangkah ke tepi ranjang dan mengambil salah satu kaos. Aroma melati menusuk hidungku saat kedua tanganku membentangkan kaos oblong itu.

“Kaos berlubang?” Aku menoleh ke kanan, Kakak berdiri sambil memegang dagunya. “Kenapa tidak ada pakaian yang normal?”

“Normal?” suara Kakak meninggi. “Sophia… pakaian Kakakmu normal lho. Aku selalu mencuci, menjemur, menyetrika, dan memberikan wewangian.”

“Bukan itu yang ku maksud!” tanganku meremas kaos itu. “Dimana kemeja, jas, jeket hitam, jeans, celana chino?” bibir bawahku digigit. “Dulu… Kakak memiliki pakaian elagan.”

Kakak tersenyum bodoh sambil menunjuk lemari hijau di kanan ranjang. “Aku sudah memasukkannya ke kotak kardus di lemari.”

Aku mengusap wajahku. “Kakak… ceroboh. Itu pakaian mahal?!”

“Tapi… aku tidak membutuhkannya,” kepala Kakak miring. “…untuk melindungimu.”

Kakak idiot… jangan berusaha mencuri perhatianku. Apa hubungannya pakaian dengan perlindunganku?

Aku berdiri di depan lemari dan menarik pintu kayu. Mataku membeku menatap belasan pakaian monster hijau bergantung di dalam lemari. Aku tidak lihat, pandanganku melirik ke bawah.

Tanganku menarik kardus mie instan ayam bawang legendaris, mengangkatnya, menaruhnya di atas ranjang. Debu-debu menggelitik hidungku, aku terbatuk-batuk saat membuka kardus itu–

“KECOAK,“ kakiku refleks mundur selangkah, tanganku memeluk lengan Kakakku. “KAKAK… USIR SERANGGA ITU!” teriakku.

“Eh… aku tidak bisa, Sophia,” suara Kakak lirih.

“APA KAKAK TIDAK PEDULI TERHADAP ADIK MANISMU?” aku meremas lengan kakak.

“Lenganku…” Kakak mengelus kepalaku. “Kakak tidak bisa pergi kalau kamu bergelantungan di lenganku.”

“Sophia,” Kakak menyeringai seperti siscon akut. “Apa kamu menyukai lenganku? Latihanku setiap subuh tidak sia-sia. Hihi.”

“KAKAK BAU! JANGAN MENDEKAT!” tanganku melepaskan lengannya, kakiku refleks melangkah ke sampingnya.

Jari-jariku gemetar saat aku membersihkan tanganku dengan sapu tangan. Aku harap dia tidak menularkan infeksi monster hijau.

“Cepat usir… kecoak itu!” jari telunjukku menunjuk ke kotak kardus.

“Oke,” Kakak mengangkat kardus itu, dia berhenti di depanku. “Jangan menyentuh barangku.”

“SIAPA YANG SUDI MENYENTUH BARANGMU?” aku berdiri, menyilangkan lenganku. “Aku tidak peduli.”

“Kakak tahu… Sophia adik manis dan patuh,” Kakak melewatiku. “Tunggu aku.”

Suara langkah kakinya semakin mengecil. Aku berbalik, Kakak sudah meninggalkan kamarnya.

Mataku menatap ke ranjang berantakan. “Kakak idiot… kamu bersikeras mencuci pakaianku. Kenapa pakaianmu tidak rapi?”

Aku duduk di tepi ranjang, menyelipkan rambut ke belakang telingaku. Tanganku melipat pakaiannya. “Bersyukurlah! Kau memiliki adik perempuan sebaik diriku!”

Aku melipat pakaian dan celana kakak satu per satu dengan cekatan. Tumpukan pakaian dan celana tersusun rapi di atas ranjangnya. Siapa bilang wanita karir elegan tidak bisa merawat pakaian? Itu hanya mitos!

“Selesai!” Aku berdiri, membusungkan dadaku. Mataku melirik ke depan ranjang.

Sebuah laptop hitang tua berdiri di meja belajar hijau. Di sampingnya, kertas-kertas berserakan.

Aku melangkah ke meja belajar. Tanganku mengambil sebuah kertas dari tumpukan kertas itu.

Mataku menyipit ketika membaca pesan di kertas itu, “Adikku sudah memaafkan waifu.collector. Aku mengampunimu Tresno Kulino untuk saat ini karena belas kasihan adikku. Sophia memang malaikat.”

Kakak… jangan mengancam orang lain sekaligus memujiku. Dan satu lagi, aku bukan malaikatmu… aku adalah adik perempuan yang cantik, manis dan baik hati.

Aku mengambil secarik kertas putih. Bibirku mengerut saat melihat coretan wibu, “Sasule sudah mampu mengusai Chidori. Tobe telah berhasil mengusai Kamui. Sensei bangga pada kalian berdua.”

Lihat selengkapnya