Sinar putih memanaskan rambut pirangku saat aku menepuk punggung gadis bergaun putih tertutup yang duduk di tepi teras rumah. Cintia duduk terdiam sambil memeluk tumitnya.
“Semuanya akan indah pada waktunya,” telapak tanganku mengusap rambutnya. “Cintia… kabar baiknya, Mas Bram tidak membencimu. “
Kakak berhenti menuntun motor matic, menoleh ke belakang. “Sophia… aku memang tidak pernah membenci Cintia lho.”
“DIAM,” teriakku. “Kakak bau… tidak usah ikut urusan gadis.”
“Persiapkan motorku,” Jariku menunjuk ke jalan di depan rumah. “Cepat!”
“Oke,” Kakak kembali menuntun motorku. Punggungnya bidang berbalut kaos oblong putih merusak suasana hatiku.
“Sophia… terima kasih,” Cintia menatapku. “Aku sudah lebih baik.”
“Bilang saja kalau kamu butuh konseling,” telapak tanganku menepuk dadaku. “Gadis cantik ini siap membantumu.”
Cintia tertawa kecil. “Sophia memang Sophia–”
Suara ponsel berdering bergema dari tas selempangnya. Cintia mengeluarkan ponsel putih.
Aku mengintip saat dia membuka notifikasinya. “Siapa?”
Cintia mengulirkan layar ponselnya. Sebuah layar DM IGX terbuka. “Mickael… menghubungiku lagi.”
“Mickael?” Bahuku berdempetan bahu Cintia. “Bagaimana kabarnya? Dia tidak pernah berkomunikasi denganku setelah ujian akhir sekolah.”
“Eh… dia tidak pernah menghubungi lagi,” Cintia berhenti mengetik dan melirikku sejenak. “Apa yang kamu katakan setelah ujian akhir?”
Tanganku menyentuh pipiku. “Bukan hal penting. Aku memaafkannya atas semua perilaku jahilnya selama 3 tahun. Aku juga memberinya nasihat emas… dia akan sulit mendapatkan jodoh kalau terus usil ke cewek.”
Cintia terbatuk-batuk. “Serius,” mulutnya melongo. “…kamu bilang begitu?”
“Tentu saja,” aku membusungkan dadaku. “Mickael terlalu bodoh soal asmara.”
Kepalanya menggeleng, “Sophia… benar-benar–“
Cintia menunduk, menatap layar ponselnya yang bergetar. Aku menyelipkan rambut pirang ke belakang telingaku. “Sekarang… apa lagi?”
“Bukan apa-apa,” bibirnya tersenyum datar. “Mickael cuma bilang, ‘Jaga dirimu baik-baik. Kalau kamu ingin curhat, aku bisa mendengarmu.’ “
“Hei, Cintia. Mickael terlalu perhatian,” mataku menyipit. “Jangan-jangan dia naksir kamu.”
Sikunya menyenggol pinggangku. “Jangan ngomong aneh-aneh. Dia cuma teman sekolah kita.”
Aku tersenyum licik, mendekatkan bibirku ke telinganya. “Cintia tetap Cintia. Kamu sudah mengincar Kakakku sejak SMA tanpa berubah sedikitpun.”
“Sophia nakal!” Pipi Cintia merah seperti tomat, jarinya mencubit lenganku.
Aku terkekeh, memegang perutku. Cintia…. kamu manis sekali. Hehe.
Suara motor berderu dari depan teras. Aku mendongak, Kakak memanaskan motor sport hijaunya.
“Cintia… ayo berangkat ke mall,” aku berdiri, mengulurkan tanganku.
Cintia menarik tanganku, “Oke.”
Aku berjalan berdampingan menuju depan jalan rumah. Kakiku berhenti di ambang pagar besi.
Motorku berbaris di pinggir jalan. Di belakangnya, Kakak memegang stang motor sport.