Sinar putih menyilaukan mataku ketika motorku melaju di jalan beraspal. Tanganku menurunkan kaca helm. Sebuah bangunan putih setinggi lima lantai berdiri megah di kanan jalan raya.
Deretan huruf timbul merah, “Surabaya Mall” berhias di dinding mall semakin membesar sejauh pandanganku, aku memperlambat kendaraanku.
“Cintia,” suaraku mendengung. “…sebentar lagi kita tiba. Aku mau membeli pakaian untuk Kakak.”
“Pakaian untuk Mas Bram?” Cintia mengeratkan pelukannya di pinggangku. “Aku akan membantumu.”
“Bagus,” tanganku memutar kaca spionku.
Kakak mengendarai motor sport hijau sambil melirik ke kanan ke kiri seperti bodyguard gadungan.
Tanganku memutar stang ke kanan perlahan. Roda motor menampaki jalan beton. Motorku menuruni terowongan bawah tanah. Pupil mataku membesar saat cahaya lampu remang-remang menyambutku di halaman parkir mall.
Ratusan motor berbaris rapi di kanan dan kiri sepanjang perjalananku. Aku menghentikan motorku di dekat dinding abu-abu. Sepatu hakku menghentak lantai parkir. Tanganku melepas helm dan mengibaskan rambut pirang.
Aku menata rambutku menjadi sanggul, lalu menyelipkan jepit rambut kupu-kupu. Seorang gadis bermata biru terpantul di permukaan kaca spion. Itu diriku.
Kaca spion diputar menampakkan seorang gadis bergaun tertutup.
Aku berbalik. Cintia berdiri sambil meremas ujung rok putihnya. Dia fokus menatap pengendara motor hijau yang mendekati kami.
Dia terus menatap punggung Kakak yang sedang memarkirkan motor di kanan motorku.
Cintia… tolong tahan dirimu! Proyek Pembebasan Wibu baru saja dimulai! Kita akan mengembalikan monster hijau menjadi Kakak idaman.
“Cintia,” tanganku menepuk bahunya. “…jangan melamun!”
“Mas Bram ganteng,” Cintia menggeleng. “…maksudku ayo!”
Bibirku melengkung ke atas. Cintia… suara batinmu bocor lho.
Aku melirik ke Kakak sejenak. “Mas Bram… ayo ikut aku!”
Kakak berdiri tegak sambil memberikan jempol. “Kakak siap mengawalmu!” Giginya bersinar seperti sensei Konohu.
“Cintia… ayo!” aku menarik lengan sahabatku, cintia mengangguk dan mengikutiku.
Kakiku melangkah di halaman parkir. Aku berhenti sejenak, kepalaku menoleh ke belakang. Kakak berdiri mematung sambil menatap mobil SEDAN merah.
“Mas Bram,” suaraku meninggi.
Mata Kakak menyipit saat menatapku. “Kamu pergi dulu, dek. Kakak mengikutimu.”
“Oke,” aku terdiam sejenak. “Jangan buat onar!”
“Sophia… aku tidak pernah berbuat onar lho,” Kakak tersenyum bodoh.
Dahiku mengeryit. Kakak idiot… jangan sok polos. Makan malamku bersama Tuan Liem hancur karena tingkah konyolmu.
Dadaku mengempis. “Cintia… ikut aku. Jangan dengar monster hijau itu!”
“Sophia… kamu seperti ibu mengomeliku,” Cintia melangkah di sampingku.
Kami tiba di ambang pintu. Aku mendongak. Sebuah tulisan merah terukir di atas pintu masuk, “Selamat Datang di Mall Surabaya”.
Kakiku menaiki tangga satu per satu. Pupilku membesar saat cahaya terang menyambut kami.
Aku melangkah tiga langkah, lalu berhenti di lantai keramik cokelat. Ratusan orang mondar mandir di sepanjang mata memandang.
“Sophia… aku bukan anak kecil,” keluh Cintia merengek ketika aku menarik lengannya. Kami berdua berjalan menembus kerumunan.
“Kita harus membeli pakaian yang elegan. Aku ingin Kakak kembali normal,” aku berhenti mendadak.