Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #22

Bab 22: Kuliner di Mall Surabaya

Bau kaldu ayam dan harum tercium di udara ketika aku berjalan di lantai keramik merah. Stan kuliner nusantara berdiri di sepanjang lantai 2.

Cintia berjalan di kananku, kepalanya melirik ke belakang. Istri kecil… berhentilah mencuri pandang! Monster hijau itu tidak akan pergi ke mana-mana.

“Kakak cantik,” suara feminim memanggilku.

Aku menoleh ke kanan. Seorang gadis bertopi kerucut putih berdiri di belakang stan kayu berbentuk perangkap kepiting. Dia tersenyum manis, “Mau burger?”

Bibirku tersenyum ramah, “Boleh… tolong tiga!”

Adik manis… aku membelinya bukan karena kau memuji kecantikanku, tahu?

Adik penjual menunjuk ke daftar menu yang bergantung di papan. “Silahkan dipilih, kak!”

Aku berdiri sambil memegang daguku. “Aku mau–“

“Sophia,” Kakak merentangkan telapak tangannya di depanku. “Aku akan mengeceknya. Kamu tidak perlu menanggung bahaya.”

Kakak idiot… aku mau mencicipi burger, bukan racun yang bisa membuatmu terkena penyakit jantung!

Kakak menunjuk gambar burger hijau di daftar menu yang bergantung di papan. Dia tersenyum bodoh seperti bintang laut merah muda. “Benda itu hijau. Hihi.”

Tanganku menutup mulutku. Kakak bodoh… kamu juga pecinta monster hijau Konohu. Setidaknya sembunyikan tawa konyolmu di depan adik penjual burger.

Aku tersenyum manis sambil menepuk telapak tanganku. “Tolong tiga burger hijau porsi besar, dek.”

“Tunggu sebentar, Kakak cantik,” gadis burger itu berbalik.

Tangannya membalik daging burger di atas wajan berminyak dengan lincah. Aroma gurih dan smoky menusuk hidungku.

Dia meletakkan daging burger cokelat di atas roti burger hijau satu per satu, lalu membungkusnya dengan bungkus kertas cokelat.

“Maaf membuatmu menunggu,” dia menyerahkan pesananku. “Ini, Kak.”

“Terima kasih, dek,” aku memindai kode QRIS dari ponselku,

Aku meninggalkan stan burger. “Makanlah, Mas!”

“Eh,” Kakak melongo, menerima bungkus burger. “Kamu tidak mau?”

Tanganku membetulkan sanggulku. “Aku ingin mie ayam.”

“Kakak tidak kuat, dek,” Kakak mengusap belakang lehernya.

“Mas Bram… aku bisa… membantumu,” suara Cintia terbata-bata.

“Terima kasih,” Kakak mengambil sebuah burger hijau dan menyerahkan sisanya. “Cintia… memang gadis manis. Hihi.”

Cintia memeluk bungkus burger erat. Aku memberinya jempol. Dia memalingkan wajah, pipinya merona seperti lobster rebus.

Kerja bagus, Cintia! Aku bisa melihatmu naik satu tangga langit. Kamu hanya perlu mendaki 999 tangga lagi untuk menjadi istri kecil.

Cintia membuka bungkus burger. Wajahnya memucat saat dia menatap satu burger jumbo di telapak tangannya.

Aku melewati Cintia. Cintia… tatakae!

Lihat selengkapnya