Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #23

Bab 23: Hah. . . Penculik?!

Sumpit dan sendok bersilang di mangkuk putih berlogo ayam jantan. Kuah kaldu merah kecokelatan tersisa di dasar mangkuk.

Aku menyilangkan kaki sambil menyandarkan lenganku di meja kayu dekat mangkuk mie ayam. Aku menatap layar smartphone di tangan kiriku.

Ponselku bergetar diikuti suara berderit, jariku menyentuh notifikasi WA. Mataku berbinar membaca pesan singkat, “Selamat menikmati akhir pekan, Nona Sophia.” – Tuan Liem dikirim 9.00.

Entah kenapa detak jantungku berdetuk lebih kencang. Tuan Liem… Anda terlalu baik.

Bibirku tersenyum. Aku harap Tuan juga menikmati akhir pekan. Jangan bekerja terlalu keras sampai menatap layar laptop seharian seperti wibu akut.

Aku mendongak. Seorang pria berkaos putih oblong berdiri tegak di depanku sambil menoleh ke kanan ke kiri seperti bodyguard nyasar. Sebuah kresek putih bergantung di tangannya.

Kakak wibu… kau terlalu paranoid! Orang bodoh mana yang berani melakukan kejahatan di mall yang diawasi CCTV 7x24 jam?

Nafas berhembus dari bibirku. “Mas Bram…”

Kakak berbalik, tangannya menepuk dadanya seperti tentara hijau. “Kakak siap mendengar malaikat kecilku.”

Pipiku memanas. Kakak idiot… berhetilah mempermalukanku di depan publik.

“Kakak… tolong periksa Cintia!” jariku menunjuk ke selatan. “Dia berada di toilet wanita.”

“Siap. Laksanakan,” Kakak memberiku hormat.

Dia berjalan cepat, kepalanya menoleh ke arahku sejenak. “Tetap di sini. Jangan kemana-mana!”

Suara meja ditepuk bergema, “PERGI!”

Kakak mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya. Kakak idiot… jangan memperlakukanku seperti gadis kecil. Aku wanita karir elegan, mengerti?

Aku mengambil segelas es teh di atas meja. Bibirku menggigit sedotan putih. Rasa manis dan harum teh merayap di lidah, membasahi kerongkonganku.

Gelas berdenting saat aku meletakkannya kembali di permukaan meja. Andai Kakakku lebih normal, mungkin hidupku lebih sempurna.

Seorang satpam kurus dan bapak paruh baya berjalan berdampingan. Mereka melintas di depanku.

“PUTRI KECILKU… DIMANA KAMU?” teriak bapak itu.

Aku menatap punggung batik bapak itu. Haruskah aku membantunya? Kepala menggeleng. Tidak, satpam itu sudah menolongnya.

Jariku menghentak meja, bibirku melengkung ke bawah. Cintia… cepatlah kemari! Jangan biarkan gadis cantik ini menunggu terlalu lama.

Aku menoleh ke kiri. Seorang ibu sosialita duduk di depan meja sambil menyuapi putranya.

Bibirku tersenyum hangat. Ibuku dulu juga sering menyuapiku saat aku masih kecil. Terima kasih telah membesarkanku menjadi gadis cantik dan baik hati. Mama bisa tenang di alam sana. Sekarang, Sophia akan merawat Kakak nolep–

“Sophia… Kakak sudah di sini,” suara lembut memanggilku.

Aku menoleh ke kanan. Kakak berdiri berdampingan dengan gadis bergaun putih tertutup. Dia berdiri sambil memegang telapak tangannya di dadanya.

Aku menggeser kursi, memegang bahunya. “Cintia… bayimu laki-laki atau perempuan?” bisikku di telinganya.

Pipinya merona seperti tomat rebus. Cintia memukul punggungku dengan ringan. “Sophia bodoh…”

Aku berdiri, memegang perutku. “Hehe…”

“Aku tidak akan menggodamu lagi saat ini,” tanganku mengusap dadaku, mataku melirik kaos oblong. Kakak melongo sambil mengupil.

“Cintia… kita harus memperbaiki penampilan monster hijau itu,” aku berjalan melewati Kakak.

“Aku ikut,” Cintia berjalan di sampingku.

Kami menyusuri koridor lantai 2. Sepatu hakku menginjak tangga logam, escalator membawaku naik. Aku melangkah di lantai biru.

Suara tepuk tangan menyambut kami. Orang-orang berdiri sambil bersorak di depan timezone. Dua gadis berkaos hitam menari-nari di depan mesin pump.

Aku mempercepat langkahku ketika berpapasan dengan kerumunan. Jangan ajak… aku bukan anak kecil.

Aku terhenti, sebuah tangan memegang bahuku, “Sophia… aku ingin bermain.”

“Kakak… kita mau belanja,” aku berbalik, menyilangkan lengan di dadaku.

“Tapi Kakak sudah lama tidak bermain,” tangannya menarik ujung kain pakaianku. “Aku ingin bermain dengan malaikat kecilku.”

“Tidak! Aku sudah dewasa,” telapak tanganku terentang, mataku melirik Cintia. “Kamu setuju, ‘kan?”

Cintia… jangan biarkan monster hijau ini semakin jatuh ke dalam dunia perwibuan!

“Mas Bram… kalau kamu… tidak keberatan… aku mau… main… sama kamu,” suara Cintia terbata-bata.

Bahuku merosot. Istri kecil… kebucinanmu juga sudah tidak tertolong!

“Baik, aku akan menunggu di sini. Bermainlah sana,” pipiku menggembung.

“Hore!” Kakak menunjuk mesin pump ganda. “Cintia… ayo bermain di sana!”

“Oke, mas,” Cintia melewatiku.

Kakak meletakkan kresek putih di pinggir mesin mesin pump. Lalu, tangannya menggesekkan kartu hitam ke mesin itu.

“Kenapa tidak jalan?” Kakak mengusap leher belakangnya. “Oh… Sophia kemari!”

“Ada apa?” aku mendekatinya.

Lihat selengkapnya