Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #24

Bab 24: Kenalan Kakak?!

Kresek putih berdiri di atas karpet hijau. Aku duduk menyilangkan kakiku di kursi merah. Tanganku mengambil sebotol kunyit dari kresek putih. Sensasi segar merayap di tenggorokanku saat aku meminum cairan kunyit.

“Hah… segar sekali,” tanganku memegang sebotol kaca.

Aku menatap ke rumah kayu di taman bermain anak-anak. Kakak berdiri tegak. Seorang gadis kecil dan bocah kecil bergelantungan di lengannya.

“Mighty hebat,” puji bocil itu.

“Sensei… Ani ingin bertemu Kak Tendo lagi,” rengek gadis kecil.

Aku kembali meminum jamu sambil menyaksikan Kakak bermain bersama anak-anak.

Cintia berdiri di kanan Kakak. “Anak-anak… jangan menyusahkan, Mas Bram. Sini bermain sama Kakak perempuan saja.”

“Tidak mau!” anak-anak menggeleng.

“Anak-anak… imut sekali,” Kakak tersenyum bodoh. “Tapi hatiku hanya milik malaikat kecilku.”

Cairan kunyit menyembur dari bibirku. Aku segera menyeka bibirku dengan kain putih. Kepalaku menoleh ke kanan.

Seorang bapak berbaju batik dan seorang ibu berbaju blus satin duduk di kursi taman, memalingkan muka sambil menutup mulut mereka dengan telapak tangannya.

Bibir bawahku digigit. Bapak dan ibu tolong berpura-puralah tidak mendengar. Aku ingin menghilang dari semesta.

Aku berdiri, membuang botol ke tempat sampah di samping tempat dudukku. Kresek putih berayun di tanganku saat aku melangkah meninggalkan taman bermain.

“Kakak ikut,” Kakak berjalan di kananku.

Cintia berjalan di kiriku, “Jangan tinggalkan aku.”

“Kalian berdua bisa bermain tanpa aku,” aku mempercepat langkahku.

“Maaf. Aku–“ suara Cintia bergetar.

“Sophia… kamu ngambek ya,” telapak tangan Kakak menepuk kepalaku. “Ayo main sama Kakak.”

“AKU TIDAK NGAMBEK!” gigiku menggertak.

Kakak idiot… jangan perlakukan aku seperti anak kecil. Kamu bebas bermain sama istri kecilmu! Sophia tidak peduli!

Sepatu hakku mengginjak tangga logam, escalator membawaku naik ke lantai berikutnya. Aku berjalan di lantai cokelat. Stan barang elektronik, ponsel dan ckomputer berbaris di sepanjang koridor lantai 4.

Langkahku terhenti, sebuah tangan mencengkram bahuku. Aku menoleh kanan.

“Sophia… lihat aku!” Kakak melotot seperti Tuan Kacang.

Aku tersentak, memukul dada Kakakku. “Kakak idiot… jangan bikin jantungan!”

“Hihi. Sophia paling imut kalau lagi kesel,” Kakak bertawa konyol seperti bajak laut bertopi jerami.

Kakak wibu… kamu sengaja mencuri perhatianku, ‘kan? Aku tidak ngambek, tidak usah sok menghiburku.

“Sophia…” Cintia memanggilku. “Orang-orang memperhatikan kita lho.”

Tanganku berhenti memukul. Waktu terasa berhenti berdetak saat dua pasang pria muda dan wanita muda berhenti di depan kami.

Aku segera tersenyum manis sambil mengangguk. Dua pria muda mengangguk sambil tersenyum ramah. Pipi mereka memerah.

“ADUH!” teriak pria bermeja putih.

“DASAR MATA KERANJANG!” wanita berblus biru mencubit lengannya. “LIHAT APA KAMU!”

“SAKIT, BEB!” teriak pria berbatik setan merah.

“KAMU LIHAT BULE CANTIK LANGSUNG JELALATAN!” wanita bergaun merah tertutup menjewer pria itu.

“Cintia…” aku menarik lengan kanan Cintia, lalu menoleh Kakak. “Ayo pergi!”

Kami bertiga meninggalkan TKP. Suara jeritan maskulin bergema di koridor saat aku mempercepat langkahku. Jangan salahkan aku karena terlalu cantik, mengerti?

Aku berhenti di depan stan barang elektronik. Telapak tanganku menyentuh kaca etalase. Kepalaku menggeleng. “Menjadi wanita menawan tidak mudah–“

“Kamu cewek narsis di sana!” suara feminim memanggilku.

Aku menoleh ke sumber suara. Seorang wanita berkaos oblong berdiri di belakang etalase sambil merokok. Kaca mata hitam menempel di dahinya.

“Ini… permen, bukan rokok,” wanita itu menurunkan rokoknya.

Lihat selengkapnya