Sepatu hakku menginjak lantai perak saat eskalator mengantarkanku naik. Aku berjalan di koridor lantai 5. Aroma harum lavender tercium di udara. Orang-orang sibuk wara wiri. Sepasang pria berjas hitam dan wanita bergaun melintasiku. Luxury paper bag bergantung di lengan wanita sosialita.
Aku terhenti di tengah koridor dan menoleh ke belakang. Kakak berdiri tegak sambil menoleh ke kiri ke kanan seperti bodyguard gadungan. Di kanannya, Cintia berdiri, memegang kedua tangannya sambil sesekali melirik Kakak.
Tanganku menarik lengan Cintia, bibirku mendekat ke telinganya dan berbisik, “Cintia.. apa kamu ingin ditangkap monster hijau itu.”
Pipi Cintia merona seperti apel merah, “Sophia nakal,” pipinya mengembung. “Kakakmu bukan monster hijau, tahu?”
Aku terkekeh, “Kau salah! Dia monster hijau. Lihat!” Mataku melirik Kakak. “Mas… ikuti aku!”
“Siap! Kakak akan selalu melindungimu,” Kakak tersenyum pasta gigi.
Aku kembali melangkah di koridor. Di sepanjang koridor, stan pakaian berjejer rapi. Pelayan pria dan wanita melayani pelanggan yang sibuk memilih pakaian.
Aku menatap stan pakaian gamis. “Bukan pakaian pria elegan.”
Sebuah tangan halus menepuk bahuku. Aku menoleh, Cintia menunjuk ke stan gamis. “Sophia… pakaian koko itu cocok untuk Mas Bram,” suaranya ceria.
Kepalaku menggeleng. “Tidak sekarang. Ini bukan lebaran.”
Mataku melirik ke belakang sejenak. Kakak mengikutiku sambil mengaruk kepalanya. Kaos oblong polosnya terlalu kontras dengan blus satinku.
Aku menarik lengan Cintia sambil menunjuk ke depan. “Ayo pergi ke sana! Kita cari pakaian pria elegan.”
“Pelan-pelan,” Cintia berusaha mengimbangi langkahku.
Aku berhenti di depan jas hitam dan topi yang bergantung di sebuah standing hanger. Seorang pria muda berambut klimis berjalan mendekat. Kemeja putih dipadukan dasi kupu-kupu, celana hitam panjangnya tetap rapi meskipun dia melangkah cepat.
Aku memegang daguku. Penampilannya elegan, tidak seperti monster hijau di belakangku. Sempurna!
“Ada yang bisa aku bantu, Nona?” pelayan itu membungkuk, memberi hormat.
Aku tersenyum ramah. “Aku ingin–”
Sebuah lengan terlentang di antara aku dan pelayan itu. “Hei, kau tetap di sana! Jangan mendekati malaikatku.”
Kepalaku menoleh, pipiku memanas. “Kakak… jangan bikin onar.”
Kakak idiot… lagi-lagi kamu mempermalukanku!
Pelayan itu segera membungkuk. “Maaf, tuan. Aku hanya ingin membantu.”
Aku menurunkan lengannya. “Jangan hiraukan dia, Kak. Kakakku hanya sedikit paranoid. Aku ingin membelikan pakaian pria.”
“Sophia… apa kau suka lenganku–”
“Diam!” aku meremasnya lengann Kakak.
Aku kembali tersenyum ramah. “Tolong tunjukkan koleksi terbaikmu, Kak!”
“Tentu, Nona,” Pelayan mengulurkan telapak tangannya. “Ikuti saya!”
Dia melangkah, membelakangi kami. Aku mengikutinya sambil menyeret lengan Kakak.
Aku menoleh ke kanan. Cintia berdiri mematung di depan etalase kaca. Sebuah pakaian pengantin pria jawa dipajang di dalam etalase itu.
Cintia… niatmu bocor!
“Sophia… kamu bisa memijat lengan Kakak lho–”
“Kakak idiot!” dengusku.
Cintia semakin mengecil dari pandanganku. Pelayan itu memanggilku. “Ini koleksi terbaik kami, Nona!”
Aku berdiri menatap etalase kaca. Jas hitam, blazzer putih, kemeja batik bergantung di dalamnya.
“Bagus. Bungkus masing-masing sepasang,” Aku mendorong punggung Kakak. “Tolong dandani Kakakku!”
“Dengan senang hati, Nona,” jawab pelayan ramah.
“Kakak… aku akan menunggu di depan stan,” aku menyilangkan kedua lengan di dadaku. “Ikuti dia. Jangan bikin onar!”
“Kakak mengikuti adik,” Kakak menggaruk leher belakangnya.
Aku melangkah perlahan ke depan. Mataku menyipit, Cintia melangkah mundur di depan seorang pria muda berjas hitam dikelilingi seorang pria gemuk dan tiga wanita berbusana elit.
Aku mempercepat langkahku. Gawat! Cintia dirudung kelompok borjuis!
“Jangan mengganggu sahabatku!” aku berdiri di antara Cintia dan pria muda itu, sebuah ponsel menempel di telingaku “Pak Polisi… di sini–”
“Hentikan!” Cintia menurunkan tanganku. “Dia bukan penjahat! Dia Mickael, mantan teman kelas kita!”
“Hah… Mickael?!” Rahangku jatuh.
“Lama tidak jumpa, Sophia,” Mickael mengangguk sambil mengusap rambutnya.
Aku melirik Cintia, lalu menatap Mickael. “Aku kira kamu dirudung anak-anak konglomerat. Maaf, aku salah paham.”
“Sophia… tidak berubah sejak SMA,” Mickael tersenyum tipis. “Kamu pernah mengira aku menjahilimu selama tiga tahun.”
“Apa yang kau bicarakan?” tanganku menyelipkan rambut ke belakang telingaku. “Kamu memang menjahili selama di SMA. Kamu harus bersyukur aku memaafkanmu.”
“Mickael… siapa dia?” seorang pria gemuk berjas hitam memanggilnya.
“Robert,” Mickael menoleh mereka. “Teman-teman… perkenalkan dia Sophia. Mantan teman kelasku.”
Robert menatap wajahku. “Dia… temanmu?” Jakunnya turun, “Bidadari…”
Di belakangnya, tiga wanita berdiri membisu. Dua di antaranya mengusap pipinya sampai bedaknya mengelupas.
Nona… apa kalian masih memakai bedak untuk memutihkan kulitmu? Kalian tidak perlu melakukannya jika terlahir cantik sepertiku.
“Robert… jangan bersikap tidak sopan,” tegur Mickael. “Sophia… maafkan kekasaran temanku.”
“Tidak apa-apa,” kepalaku menggeleng. “Aku sudah terbiasa.”