Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #26

Bab 26: Pulang dari Mall

Suara lift berdering saat pintu logam terbuka, aku melangkah kembali ke lantai 1 diikuti Kakak dan Cintia.

Kakak berjalan di kananku. “Lenganku pegal,” empat buah luxury paper bag bergantung di kedua lengan Kakak. “...ringankan bebanku.”

“Mas Bram seharusnya bersyukur, aku membelikanmu pakaian elegan,” Cintia berjalan di kananku. “Dimana lagi kamu bisa menemukan adik perhatian sepertiku?”

“Sophia malaikatku,” kresek putih bergantung di tangannya. “Tolong ambil kresek ini.”

Aku menggeleng. “Kakak bilang membawa barangku sepenuh hatimu–”

“Mas Bram… aku bisa membantumu,” Cintia menyelaku.

Aku menarik lengannya. “Cintia… ikutiku,” sepatu hakku menginjak lantai putih. “Jangan terlalu memanjakan Mas Bram.”

“Monster hijau” mataku melirik Kakak. “Kenapa kamu berpakaian hijau ketat dan membungkus kembali jas hitammu?”

Bibir bawahku digigit. Kembalikan Kakakku yang keren dan mempesona!

Dia menatap pakaiannya. “Kakak hanya ingin menghargai hadiah, Cintia,” dia tersenyum bodoh. “Terima kasih. Aku memiliki seragam cadangan untuk berlatih ninja.”

Cintia mengangguk, pipinya merona. “Selama Mas Bram senang, aku juga senang–SAKIT SOPHIA!”

“CPU-mu ikut error!” aku menjewer telinganya.

Dikelilingi Kakak wibu dan Sahabat bucin… apa cuma aku gadis normal di sini? Nafasku berhembus. Entah kenapa proyek Pembebasan Wibu semakin menjauh.

Aku menatap ke kanan. Bapak dan ibu sibuk mondar-mandir sambil menggandeng anak-anak di koridor mall.

Mataku menyipit. Seorang pria berambut jingga berlari mendekat. Lengannya berayun, jubah hitamnya berkibar. Telinganya dipenuhi tindik.

“Sensei!” Dia berlari sambil melambai.

Bibirku mengerut, “Bukankah itu Tendo–”

“SOPHIA… AWAS!” Kakak menarik kerah belakangku.

“Hah?!” Mataku terbelalak, waktu terasa berhenti.

Seorang pria berjas hitam hampir menabrakku, aku ditarik mundur. Tendo melompat sambil mendorong dada pria kasar itu.

“SHINRA TENSEI!” teriaknya.

Seketika pria berjas hitam itu terhempas, tersungkur di lantai.

“Sensei no imouto baik-baik saja?” Tendo menatapku.

Tubuhku membeku. “Kakak di sini,” kedua lengannya memelukku dari belakang.

“Maaf,” Cintia memeluk lenganku.

“Apa yang terjadi?” Aku tertahtih, berusaha berdiri.

“Kakak menarikmu karena pria itu hampir menabrakmu,” dia menunjuk ke kanan.

Seorang pria berjas hitam duduk sambil memegang lututnya.

“SIAL!” dia menatap Tendo. “Aku akan menuntutmu!”

“Oh… menarik,” suara Tendo berat. “Bagaimana dengan mereka?”

“Apa yang kau bicarakan?” jawab pria kasar itu.

Suara tepuk tangan berdengung, Tendo menepuk kedua telapak tangannya sambil menatap kerumunan. “Warga Konohu… periksalah dompetmu!”

Kerumunan berhenti di koridor. Mereka merogoh masing-masing sakunya.

“HILANG?!” teriak mereka.

“Di sana!” Tendo menunjuk pria berjas hitam.

Puluhan dompet berserakan di lantai di sekitar dia berdiri. Seketika, orang-orang melotot ke arahnya.

Pencopet mundur, mengangkat kedua telapak tangannya. “Ini… kesalahpahaman.”

“PENCOPET!” teriak massa.

Mereka segera mengelilingi pencopet. “Ampuni aku!” dia gemetar di bawah tatapan massa.

“Mataku!” protes Cintia.

“Jangan dilihat! Gadis manis tidak boleh lihat,” telapak tanganku menutup matanya.

Aku berjalan sambil menarik sahabatku ke kanan koridor. Langkahku berhenti sejenak, mataku mengintip massa yang bermain hakim–

“Gelap!” suaraku lirih

Lihat selengkapnya