Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #27

Bab 27: Kehujanan di Mall

Aroma tanah menyerbak, aku duduk di atas jok motor matic sambil memeluk tubuhku yang menggigil.

Aku menggigit bibir bawahku. Aku ceroboh, lupa membawa jas hujan.

Kepalaku menggeleng. Ini bukan murni kesalahanku. Udara pengap Surabaya menipu. Siapa yang akan akan menyangka badai akan turun di siang panas?

“Kakak… cepatlah kembali!” uap air keluar mulutku.

“Sensei no imouto…”suara berat memanggilku. “Jangan khawatir! Sensei akan segera kembali!”

Aku menoleh ke kanan. Setelah motor sport hijau, seorang pria berambut jingga duduk di jok motor sport hitam sambil menyilangkan kedua lengannya. Tindik hitam memenuhi telinganya mirip antagonis ninja legendaris.

“Kamu bisa pergi,” bibirku mengerut.

Kakak idiot… kenapa kamu meninggalkanku bersama pria aneh di halaman parkir.

Aku menatap ke depan. Empat pria berdiri tak jauh dari motor Tendo. Mereka sibuk memakai jas hujan.

“Aku tidak bisa,” Tendo menatap langit ruangan. “Aku memegang kata-kata sensei seperti rasa sakit yang ditanggung dunia ini.”

Kakak wibu…. apa yang telah kau ajarkan kepada pria ini?

“Terserah,” kedua lenganku bersilang di dadaku.

Aku merogoh kresek putih yang bergantung di gantungan motor. Sebuah botol kuning dipegang, kerongkonganku segar ketika dibasahi cairan kunyit.

“Imouto no–”

“Namaku Sophia,” aku menyela.

“Kenapa kamu membenci sensei?” Tendo menatapku.

“Siapa bilang aku membencinya?” pipiku mengembung.

“Jangan ikut campur!” aku kembali meminum jamu.

Tendo tersenyum datar. “Tsundere.”

Cairan kunyit menyembur dari mulutku. Batuk-batuk. Hei, jangan seenaknya melabeliku waifu sejuta umat!

“Kau berhentilah bergaul dengan Mas Bram!” suaraku meninggi. “Kakakku menjadi monster hijau karena tingkah konyolmu!”

Dasar wibu bau! Kalian telah mengotori kharisma Kakak yang keren, lembut dan bertanggungjawab!

Tendo terdiam, bibirnya menyerigai.

“Nona Sophia… Anda tidak tahu apapun,” suaranya dingin. “Dunia sudah terlalu lama ditidurkan dalam kesenangan palsu. Sensei akan membangunkan dunia dengan rasa sakit.”

Aku menepuk jidatku, bibirku mengatupkan rapat. Orang normal tidak perlu meladeni wibu chuuni.

Aku menyilangkan kedua betis sambil memegang tumit. Seorang pria tua berjas hitam mengusap body mobil sedan merah dengan kain di halaman parkir biru.

Dahiku mengernyit. Apa dia sedang pamer? Jangan kira aku tidak bisa membelinya. Seandainya Kakak masih bekerja, dia bisa membeli mobil lebih mewah daripada mobilmu.

Pria itu tersentak saat menatapku. Dia segera membetulkan dasinya sambil berjalan ke mari. Mataku menyipit. Kau merusak pemandanganku.

“Nona… apa Anda ingin pulang?” pria tua itu berdiri di depanku. “Aku tidak keberatan mengantarmu.”

“Tidak,” wajahku berpaling. “Aku bisa pergi sendiri.”

“Apa begitu caramu memperlakukan orang tua?” suaranya kasar.

Aku berdiri sambil mengangkat lenganku. “Jangan ganggu–”

Lenganku dipegang pria itu. “Anak muda tidak tahu tata krama. Hormati orang tua!”

Lihat selengkapnya