Suara ponsel berdering memekakkan telingaku saat mataku terbuka. Aku duduk di ranjangku sambil menyentuh dahiku. Pusing-pusing. Kepalaku terasa ditusuk dan berputar.
“Demam…” gumamku.
Keringat dingin membasahi piyama bermotif mawar. Aku meremas kain celana piyamaku. Sial! Hari ini seharusnya Proyek Pembebasan Wibu dilaksanakan! Aku ingin mengajak Kakak dan Cintia berlibur di KBS dan diam-diam menjodohkan mereka
Nafasku berhembus. Tapi sekarang… aku akan menundanya. Kata Mama, kesehatan nomer satu!
Aku menoleh ke kanan ranjang. Tiga botol kunyit dan sebuah ponsel berdiri di atas meja kayu mengkilap. Aku mengambil ponsel dan membuka layarnya.
Waktu menunjukkan minggu, 4:59. Jariku menyentuh ikon WA. Aku mengetuk foto seorang gadis manis.
“Cintia… maaf. Hari ini liburan dibatalkan. Aku demam. Kita berlibur lain kali.” - Sophia dikirim 5.00.
“...” Cintia Melati sedang mengetik.
“Aku turut prihatin. Jaga kesehatanmu baik-baik. Semoga kamu cepat sembuh.” Cintia Melati dikirim 5.01.
Aku tersenyum tipis sambil bersandar di bantalan ranjang. Ponselku diletakkan di meja kanan ranjang.
“KAKAK…” suaraku serak. “TOLONG AKU!”
Suara pintu dibanting bergema saat pintu kamarku terbuka, menampilkan sosok monster berbaju hijau ketat. Dia melangkah terburu-buru, mendekatiku. Keringatnya menetes di lantai keramik.
“Sophia… Kakak di sini,” Kakak memelukku. “Jangan khawatir! Kamu aman.”
“Lepaskan!” aku mendorong Kakak. “Kakak bau… jangan memelukku saat kau berkeringat!”
“Maaf, dek,” Kakak mengusap leher belakangnya. “Aku panik.”
Kakak tersenyum lembut. “Apa yang bisa Kakak bantu?”
Aku menghela nafas. “Demam. Aku sakit.”
Kakak menyeka keringat di tangan dengan celana panjangnya. Telapak tangannya menyentuh dahiku.
“Panas sekali,” wajahnya memucat. “Sophia… jangan tinggalkan Kakak. Hic… hic…” suaranya gemetar.
Kakak bodoh… aku hanya demam biasa.
“Aku masuk angin.” Kepalaku berbaring di bantal, “Tolong belikan aku obat Sirupku khusus dewasa di apotek. Kakak bisa mengambil uang di laci meja rias. Aku ingin istirahat. ”
“Sirupku?” Jakunnya turun, Kakak berdiri. “Aku mengerti, dek. Aku akan memasak bubur ayam. Tunggu sebentar… Kakak mandi dulu.”
“Terima kasih, Kak,” aku mengangguk.
Kakak melangkah, membelakangiku. Pintu berderit, meninggakanku sendiran di kamar.
Penglihatanku remang-remang. Mataku tertutup perlahan.
…
“Sophia sayang Mama,” aku memeluk Mamaku.
“Sophia memang putri Mama,” telapak tangan lembut menepuk punggungku.
Aroma mawar menyerbak, Mama wangi dan hangat. Hehe.
Punggungku bersandar di bantalan ranjang empuk. Aku mendongak. Wajah Mama putih seperti Putri Salju. Rambut hitam berkilau terkena sinar lampu.
“Mama… Sophia mau didongengi Bawang Putih dan Bawang Merah lagi dong,” rengekku.