Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #29

Bab 29: Urusan Perempuan!

Seorang wanita berambut pirang duduk memantul di kaca oval. Dia memakai piyama putih bermotif kelinci, membangkitkan insting perlindungan bagi siapa saja yang melihatnya.

Aku duduk di depan meja rias. Kedua lenganku terkulai saat seorang wanita berkaos oblong memegang lenganku. Rambut hitamnya tergerai di punggungnya.

“Pelan-pelan…” sensasi geli merayap di lenganku saat handuk basah hangat mengusapnya.

“Tenanglah, adik kecil,” sebuah rokok bersarang bibirnya. “Aku paling jago merawat perempuan.”

“Mau coba?” dia mengunyah rokoknya. “Ini manis lho. Permen rokok terbaik.”

“Tidak,” bibirku mengerut. “Aku tidak ingin gigiku berlubang.”

“Jangan khawatir! Gigimu akan baik-baik saja selama kamu mengosoknya 3 kali sehari,” dia memijat lenganku. “Jangan lupa periksa gigimu rutin ke dokter gigi.”

Hei, kenapa kamu malah beriklan di sini?

Bibirku terkatup rapat ketika dia memijat lenganku dengan lembut dan presisi. Skor 90/100. Meskipun kamu wanita SKSD, kamu cukup kompeten memijatku. 

“Tentu saja, aku ahli memijat. Lagipula ibuku pemilik tempat pijat ternama di Surabaya.”

Hei, berhenti membaca pikiranku! Tunggu dulu… tempat pijat? Berita sering mengatakan–

“Itu tempat pijat berlisensi khusus perempuan,” dia meremas lenganku.

“Aw…” aku merintih.

“Ini hukumanmu,” nafasnya berhembus, mengenai lenganku yang basah. “Adik kecil… kamu tidak boleh terlalu mempercayai berita lokal.”

“Maaf,” aku menggigit bibir bawahku. “Hentikan! Haha…”

“Panggil aku, Mbak Ayu kalau kamu ingin hukuman ini berakhir,” dia menggelitik lenganku dengan teknik wibunya. “Aku bukan wibu, aku 100% normie.”

Bagaimana… kau bisa… haha… terus membaca… pikiranku… haha…?

“Hentikan!,” lenganku diuji dengan 1000 siksaan. “Aku menyerah.”

“Katakan apa?” dia menatapku, wajah cantikku memantul di mata hitamnya.

“Mbak Ayu cantik 100% normie,” suaraku merendah.

“Bagus. Kamu adik kecil,” dia mengelus kepalaku.

Mbak Ayu mendekatkan bibirnya ke telingaku. “Sekarang katakan: Kakak iparku,” bisiknya.

Aku tersentak. Kursi bergetar, jatuh–

“Hati-hati!” dia memegang bahuku.

“Jangan main-main!” pipiku mengembung. “Aku masih demam.”

“Maaf,” dia terkekeh. “Kakakmu benar. Sophia sangat imut saat kesal.”

Hidungku mendengus. Hei, jangan membawa nama Kakak untuk membenarkan kejahatanmu!

Siapa yang ingin menjadi adik iparmu? Cintia lebih baik daripadamu. Dia manis, baik, penurut, tidak sepertimu.

Mbak Ayu mengikat rambutnya, membentuk kucir kudanya. Hei, jangan meniru gaya rambut sahabatku. Kamu bukan Cintia.

“Kau benar. Aku memang bukan gadis semanis sahabat kecilmu,” dia menyeringai seperti waifu posesif. “Tapi aku memiliki keunggulan mutlak dibandingkan dia.”

“Apa itu?” mataku menyipit.

“Rahasia Kakakmu. Aku partner kejahatannya,” dia membusungkan dadanya.

Lihat selengkapnya