Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #30

Bab 30: Malam Senin Bersama Keluarga

Sinar terang terpancar di mataku diikuti suara merdu seorang reporter wanita berkemaja cokelat tampil di layar kaca. Rambut hitamnya berkilau, bibir memerahnya mempesona. Tentu saja aku lebih cantik.

Aku menyisir rambut pirang dengan jariku saat tubuh berbaring lemah di sofa. Bahuku sedikit menggigil, sebuah selimut putih diangkat menutupi bahuku. Aku mendongak.

Kakak berdiri sambil menyentuh dahiku. “Masih hangat. Sophia… kamu seharusnya tidur di kamarmu.”

“Aku bosan,” kepalaku menggeleng. “Tubuhku sudah membaik. Aku tidak suka tidur seharian di kamarku seperti seorang pria tampan yang berdiam diri di rumah selama 3 tahun.”

Kakak mengupil. Dahiku mengeryit. Kakak idot, jangan pura-pura tidak tahu!

“Adik kecil… mulutmu tajam meskipun kamu demam,” suara feminim wibu menyindirku. “Aku sudah bilang, aku bukan wibu.”

Aku menoleh ke lantai. Seorang wanita berkaos oblong duduk di karpet merah sambil menatap papan monopoli. Rambut kucir kudanya berayun saat menatapku.

“Jangan geer! Aku tidak menatapmu,” bibirnya menyeringai. “Gilaranmu, Bram!”

“Oke,” balas Kakak. “Sophia istirahatlah! Panggil aku jika butuh bantuan.”

“Terima kasih, mas,” bibirku tersenyum.

Kakak kembali duduk di depan mantan teman kuliahnya. Wanita itu tersenyum penuh arti saat Kakak mengocok dua dadunya.

Hidungku mendengus. Dasar wanita SKSD! Jangan dekat-dekat dengan Kakakku. Kamu hanyalah wanita luar.

“Gadis kecil… aku sudah bilang memanggilku Mbak Ayu.” dia memegang kartu merah. “Siapa bilang aku wanita luar? Aku partner kejahatan Kakakmu.”

Dadu-dadu jatuh di karpet, Kakak terbatuk-batuk.

Aku menggigit bibir bawahku. Jangan kira kau menang hanya karena bisa membaca pikiranmu. Aku akan tunjukkan siapa yang berkuasa di sini.

“Kakak… aku ingin makan mie ayam.”

Kakak menatapku sambil mengusap dadanya. “Ini sudah larut malam. Diganti mie instan ya?”

“Tidak mau,” aku menggeleng. “Aku mau mie ayam sekarang.”

Kakak duduk diam sambil mengelus kepalanya. “Sophia–”

“Mie ayam… aku mau,” rengekku. “Kakak sudah tidak sayang Sophia lagi? Hic…” suaraku serak.

“Adik kecil… jangan menyusahkan Kakakmu,” Mbak Ayu menyilangkan lengannya di dadanya.

Kaos oblongnya mirip Kakak. Dia mengejekku?

Kakak berdiri, mengelus rambutku. “Jangan bilang begitu. Kakak paling sayang adik. Tunggu sebentar… aku akan kembali.”

Dia melangkah, membelakangiku. Kakak meninggalkanku sendirian di kamar tamu.

“Kamu tidak sendiri. Aku di sini,” sahut Mbak Ayu.

Hei, tidak bisakah kau berhenti membaca pikiranku?

Telapak kakiku menekan pegangan sofa. Aku memegang remot hitam, jariku menekan tombol ganti.

Layar TV berganti, menampilkan reporter wanita berkemaja batik biru. “Pemirsa, gerakan gabungan polisi dan ormas berhasil menertibkan panjit pijat ilegal–”

“Jangan terlalu banyak menonton berita lokal,” Mbak Ayu mengambil remotku.

“Kembalikan!”

Dia tidak bergeming, jarinya menekan tombol ganti. Layar menampilkan kartun bintang laut merah muda bersama spon kuning.

“Tontonan ini lebih layak untukmu,” Mbak Ayu berdiri sambil tersenyum bodoh.

“Aku bukan gadis kecil,” gigiku menggertak. “Aku wanita karir.”

“Oh… kamu wanita karir?” suaranya mendengung.

“Jangan meremehkanku!”

“Bagus. Tonton ini,” dia menekan tombol ganti lagi. “Acara ini cocok untuk wanita karir sepertimu.”

Lihat selengkapnya