Suara dering bergema saat mataku terbuka perlahan. Sebuah kain kompres menempel di dahiku. Aku duduk sambil menyentuh dahiku.
“Membaik,” gumamku.
Jariku mengusap layar ponselku di meja samping ranjang, suara berisik berhenti. Aku mengambil salah satu botol kunyit, meminumnya.
“Segar,” aku menutup botolnya.
Aku menoleh ke lantai. Sebuah selimut putih kusut terbentang di kasur sofa terbentang.
“Mbak Ayu…” suaraku lirih.
Kepalaku menoleh ke kanan ke kiri. Wanita SKSD itu tidak ada di manapun. Hanya aku satu-satunya perempuan di sini.
Aku menunduk, meremas selimutku. Wanita aneh itu menyebalkan, tapi sedikit berguna.
Nafasku berhembus. Tidak sopan. Minimal tinggalkanlah pesan sebelum pergi.
“Tidak ada yang bisa ku lakukan,” aku mengambil ponselku.
Aku lupa. Jariku mengetuk layar ponsel. Aku harus mengabari Tuan Liem.
“Selamat pagi, Tuan Liem. Bagaimana rencana iklan baru? Maaf, saya demam selama seharian kemarin.” Dikirim 4:20.
Aku meletakkan ponselku di ranjang. Dadaku membusung, kedua lenganku terangkat. Otot-ototku dikendurkan.
Aku menarik nafas. Udara dingin memenuhi paru-paru. Uap keluar dari mulutku.
Ponselku berdering. Aku menyentuhnya. Mata melebar saat membaca pesannya.
“Nona Sophia… Anda tidak perlu memaksakan diri. Anda bisa mengajukan izin. Jaga kesehatan Anda baik-baik.” Tuan Liem dikirim 4:30.
Bibirku tersenyum. Tuan Liem… Anda terlalu baik.
Jariku mengetik, “Syukurlah, saya lebih baik sekarang, Tuan.” Dikirim 4:31.
“...” Tuan Liem sedang mengetik.
“Beristirahatlah, Nona. Aku tidak ingin melihatmu pucat. Ngomong-ngomong, apa yang terjadi di mall saat aku pergi? Aku terkejut melihatmu masuk acara Viral di TV. Aku seharusnya tidak meninggalkanmu sendirian di parkir mall.” Tuan Liem dikirim 4:32.
Dadaku mengempis. Tuan… itu bukan salahmu. Anda tidak perlu merasa bersalah.
“Itu hanya insiden kecil, Tuan. Seorang pria tua yang mengaku pemilik Boo Corp tiba-tiba memegang lenganku setelah aku menolak di antar pulang.” Dikirim 4:33.
“....” Tuan Liem sedang mengetik.
“Nona Sophia, itu bukan insiden kecil, tapi kejahatan serius. Aku kenal orang tua brengsek itu. Jangan khawatir! Serahkan masalah ini kepadaku. Aku akan memanggil pengacara.” Tuan Liem dikirim 4:35.
“Tuan… memanggil pengacara untuk membelaku?” gumamku, jantungku berdetak lebih kencang.
Jariku segera mengetuk ponselku. “Terima kasih, Tuan. Saya menghargai bantuan Anda. Hormatku.” Dikirim 4:36.
“...” Tuan Liem sedang mengetik.
“Sama-sama, Nona. Jika Anda butuh bantuan lain, bilang saja. Salam hangat.” Tuan Liem dikirim 4:37.
Aku meletakkan ponsel di dadaku. Kehangatan menyebar di hatiku. Tuan Liem sungguh malaikat. Dia membela karyawannya tanpa pamrih.
Kakiku menghentak lantai keramik. Aku menyelipkan rambut di belakang telingaku.
Gadis cantik… kamu mendapatkan bonus libur sehari berkat bos tampan. Hehe.
“Josh… waktunya beraktivitas–”
Suara berderit, pintu terbuka sedikit, tertutup kembali.
Aku berdiri, menatap pintu kamarku. “Mas Bram?”
Sunyi, tidak ada jawaban.
Tiba-tiba aroma melati menyerbak, menusuk hidungku. Udara terasa lebih dingin, bulu kudukku merinding.
“Jangan-jangan?!” aku menggeleng. “Hantu hanya mitos. Aku tidak takut.”
Aku melangkah perlahan. Langkahku terasa berat. “Kakak… jangan main-main!”
Pintu dibanting, terbuka lebar. Sosok wanita berpakaian serba putih melangkah. Nafasku tertahan saat dia menatapku perlahan.