Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #32

Bab 32: Aku telah Sembuh

Sebuah lipstik mengores bibir merah, seorang wanita cantik memantul di cermin oval. Aroma harum mawar menyerbak, rambut pirangnya berkilau di bawah cahaya lampu. Kemaja putih kontras rok midi panjang panjang memancarkan aura sekretaris elegan.

Aku meletakkan lipstik di meja rias, tanganku menata rambutku, menyelipkan jepit rambut kupu-kupu ke sanggulku. Aku mengambil tas ransel di atas ranjang, mengantungnya di punggungku.

“Josh… sempurna,” gumamku.

Aku mengusap dadaku. Setelah dua hari melalui penderitaan tanpa henti, bidadari ini telah sembuh. Sophia… hari baik sudah menantimu.

Kakiku menginjak lantai keramik, tanganku memutar ganggang pintu logam. Pintu berderit, aku meninggalkan kamarku.

Aku berdiri di depan kamarku, menutup pintu–

“Bagaimana dengan keluargaku… temanku… desaku? Mereka telah menderita karena desa Konohu,” suara berat terdengar dari TV. “Apakah hanya kau yang boleh berkhutbah tentang perdamaian dan keadilan?”

Bibirku mengerut, aku menoleh ke tengah ruang tamu. Monster berpakaian hijau ketat rebahan di sofa. Dahinya basah, mulutnya melongo seperti bintang laut merah muda.

Kakak nolep… ini masih pagi. Setidaknya bersihkan rumah kita.

Aku berdiri tegak di antara TV dan sofa. “Kakak… aku berangkat dulu. Tolong bersihkan rumah selagi aku bekerja.”

“Hati-hati, dek,” Kakak tersenyum bodoh. “Aku akan mengirimkan bekal makan siangmu. Kakak tidak ingin Sophia sakit lagi.”

“Terima kasih, mas,” bibirku tersenyum tipis.

Meskipun kamu wibu, setidaknya kamu peduli sama adik cantik ini.

Aku meninggalkan ruang tamu. Kakiku menginjak lantai teras. Uap keluar dari celah bibirku. “Segar–”

“Kamu rajin sekali, adik kecil. Kakak ipar bangga,” suara wanita SKSD menyapaku.

Aku berdiri membisu, menoleh ke sumber suara. Seorang wanita berkaos hitam berdiri bersandar di samping pintu. Kacamata hitam menempel di dahinya, bibir merahnya menggigit sebatang rokok.

“Ini permen, “ kedua jarinya memegang sebatang rokok.

Dahiku mengeryit. Hei, berhenti membaca pikiranku!

Dadaku mengempis, aku menggeleng. Meskipun dia menyebalkan, setidaknya wanita wibu ini telah merawatku. Aku bukan orang yang tidak tahu terima kasih.

“Kamu ingin berterima kasih?” dia menyilangkan kedua lengannya. “Bagaimana kalau kamu merestui Onee-chan?”

“JANGAN MIMPI!” teriakku.

Hidungku mendengus ketika dia menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Kenapa kamu terus meniru kebiasaanku?!

“Tidak masalah,” dia mengisap rokoknya. “Ingatlah tagihanmu!”

Seketika, puluhan panah menembus dadaku. Batuk-batuk. Aku mundur sambil mengusap dadaku. Dasar iblis licik… beraninya kau mengancamku.

“Tidak mau bayar?” dia menyeringai. “Mbak Ayu akan menunut tanggungjawab Kakakmu. Hutang suami adalah hutang istri.”

“Aku akan bayar,” gigiku menggertak.

Lihat selengkapnya