Motor matic merah muda diparkirkan di bawah atap seng. Aku melepaskan helm, menata rambut. Kakiku menginjak lantai beton.
Aku berjalan cepat sambil memegang pegangan ranselku, menyusuri halaman berumput.
Di depanku, seorang pria berambut hitam acak-acakan berjalan lesu sambil membawa sebuah kardus cokelat. Dia melirikku saat kami berpapasan.
“Nona Sophia,” dia memanggilku.
Aku terus melangkah, mengabaikannya. Jangan mendekat, aku tidak mengenalmu.
Aku mempercepat langkahku. Alarm merah! Aku harus segera mengabari Cintia tentang kemunculan dua villainess.
Seorang satpam botak berdiri di samping pintu kaca. Matanya melotot, mengamati para karyawan yang wara wiri di halaman.
“Selamat pagi, Pak,” aku tersenyum ramah.
“Selamat pagi, Nona,” dia mengangguk.
Aku masuk ke dalam, kakiku menginjak lantai keramik mengkilap saat melewati Pak Rex.
“KAU DI SANA!” suara Pak Rex bergema dari belakangku. “JANGAN BIKIN KERIBUTAN!”
“Tuan… saya ingin bertemu Nona Sophia,” ratap pria asing.
“Nona Sophia… apa kamu mengenalnya?”
Aku menoleh ke belakang. Lengan berotot Pak Rex terentang horizontal, memisahkan aku dan pria asing itu.
“Nona Sophia… aku Donny,” pria asing itu memeluk kardusnya.
Aku memiringkan kepalaku. “Siapa kamu? Aku tidak kenal.”
Aku kembali melangkah, meninggalkan mereka.
“MENYINGKIR!” bentak Pak Rex. “JANGAN MENGANGGU NONA SOPHIA!”
“Aku ingin mengucapkan perpisahan…”
Mereka berdua berdebat di belakangku. Suara mereka semakin mengecil ketika aku menyusuri koridor kantor.
Karyawan dan karyawati menyapaku sepanjang perjalanan. Aku membalas mereka dengan senyuman dan anggukan.
Aku tiba di ruang resepsionis. Seorang wanita berkemaja putih berdiri di belakang meja resepsionis. Matanya berbinar saat menatapku.
Kucir kudanya berayun saat tangannya melambai. “Sophia…” suaranya lembut.
“Cintia…” aku berlari.
Aku berdiri sambil menyandarkan kedua lenganku di meja resepsionis. “Rasanya seperti kita sudah lama tidak bertemu. Padahal baru kemarin.”
“Bagaimana kesehatanmu?” jarinya gemetar saat dia memegang tanganku.
“Tenanglah! Aku sudah lebih baik,” suaraku manis. “Sebenarnya demamku sudah turun sejak Senin. Tapi Tuan Liem memberiku libur sehari untuk memulihkan kesehatanku.”
“Syukurlah,” Cintia menyentuh dadanya.
“Maaf,” suaranya sedikit gemetar. “Karena aku, kamu demam. Aku seharusnya menukar jas hujanmu.”
Aku berdiri membisu sejenak. Istri kecil… kamu mengkhawatirkanku?! Kamu memang gadis manis, aku tidak salah menjodohkanmu dengan Kakakku.