Sinar biru terpancar di papan putih, memperlihatkan grafik periklanan. Di kanannya, seorang wanita berdiri sambil memegang tongkat kecil.
Rambut hitamnya terurai di punggungnya. Kemeja putihnya kontras dengan rok hitam midi panjang, memancarkan aura wanita karir elegan.
Bibirku menyeringai. Tentu saja aku wanita karir yang lebih elagan. Lagipula aku sudah dipromosikan. Gajiku naik dua kali lipat.
Bahu sedikit turun. Hidupku sempurna andai Kakak idiot tidak berhutang.
Aku menggigit bibir bawahku. Wanita iblis itu bahkan mengirimiku pesan ancaman tepat sebelum rapat. Aku tidak sudi menjadi adik iparmu.
Laptop menyala, jariku tidak berhenti mengetik. Aku duduk di depan meja oval saat sinar proyektor bersinar di depanku.
“Penjualan perusahaan mengalami kenaikan eksplosif semenjak dirilis iklan. Puncaknya terjadi di bulan ke-6,” wanita berkacamata itu berdiri diam sejenak. “Sayangnya, trennya ini tidak bertahan. Di bulan ke-7 hingga bulan ke-9, grafik penjualan mengalami menurun.”
“Bu Herni…” Tuan Liem duduk di kananku, tangannya terangkat.
“Silahkan, Tuan,” Bu Herni mengangguk.
“Berapa lama kita bisa mempertahankan target penjualan?” tanya Tuan Liem.
“Pertanyaan bagus,” bibirnya melengkung turun. “Dengan tren saat ini, target penjualan kemungkinan akan bertahan sampai tiga bulan ke depan.”
Jari telunjuk Tuan Liem mengetuk meja. “Jadi iklan baru tidak bisa ditunda?!”
“Benar, Tuan. Produksi iklan baru harus segera dilakukan,” jawab Bu Herni.
“Kita butuh pemeran wanita,” Tuan Liem terdiam sambil memegang dagunya. “Ada yang punya saran?”
Mataku melirik ke sekeliling. Para karyawan duduk di sekeliling meja oval. Mereka saling berpandangan dan menggeleng.
Bibirku tersenyum tipis. Ini kesempatanku membuktikan kapasitasku, aku mengangkat tangan kananku.
“Silahkan, Nona.”
Aku menurunkan tanganku. “Tuan… kenapa kita tidak menyewa jasa artis mapan? Saya yakin populeritas mereka bisa mendobrak omset penjualan perusahaan kita.”
Tuan Liem dan Bu Harni saling berpandangan sebelum menatapku.
“Itu ide bagus, tapi sulit direalisasikan,” Tuan Liem menatap Bu Harni sambil mengangguk.
“Baik, Tuan,” Bu Harni membetulkan kaca matanya. “Dengan keadaan saat ini, itu praktis hampir mustahil.
Bahunya sedikit merosot. “Artis mapan biasanya memiliki jadwal padat. Mereka juga seringkali menuntut banyak hal. Selain itu, kita juga dibatasi anggaran.”
Aku memegang daguku sambil menoleh Tuan Liem, lalu Bu Harni. “Bagaimana dengan pemeran wanita sebelumnya?”
“Itu tidak memungkinkan,” Tuan Liem mengusap leher belakangnya.
“Kenapa, Tuan?”
Tuan Liem duduk membisu. Bibirnya terkatup rapat.